Belajar Menjadi Air
Salafusshalih.com – Pernahkah kita memandangi setetes air, lalu bertanya dalam hati, mengapa Allah begitu sering menyebut air di dalam Al-Qur’an?
Kita meminumnya setiap hari. Kita menggunakannya untuk berwudu, mandi, memasak, dan menyiram tanaman. Karena begitu dekat dengan kehidupan, kita sering menganggap air sebagai sesuatu yang biasa.
Padahal, justru di balik sesuatu yang tampak biasa itulah Allah menyimpan pelajaran yang luar biasa.
Al-Qur’an menyebut air bukan hanya sekali atau dua kali. Dalam berbagai ayat, Allah mengaitkan air dengan kehidupan, rahmat, kesucian, rezeki, bahkan kebangkitan manusia setelah kematian. Seolah-olah Allah ingin mengingatkan bahwa jika manusia mampu memahami air dengan benar, ia akan memahami banyak rahasia kehidupan.
Allah berfirman, “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” (Al-Anbiya’: 30).
Ayat yang singkat ini kini justru dibenarkan oleh ilmu pengetahuan modern. Para ilmuwan menemukan bahwa tubuh manusia sebagian besar terdiri atas air. Tumbuhan tidak dapat hidup tanpa air. Hewan bergantung pada air. Bahkan, ketika para ilmuwan mencari kemungkinan adanya kehidupan di planet lain, pertanyaan pertama yang mereka ajukan adalah, “Apakah di sana terdapat air?”
Sains baru menemukannya pada abad modern. Al-Qur’an telah mengisyaratkannya lebih dari empat belas abad yang lalu. Bagi kita sebagai muslim, pelajaran tentang air tidak berhenti pada fakta ilmiah, tetapi berlanjut pada hikmah di baliknya.
Merendah, Lembut, dan Tetap Memberi
Perhatikanlah bagaimana air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Ia tidak pernah memilih tempat yang tinggi untuk menunjukkan kehebatannya. Ia merendah. Justru karena kerendahan itulah air dapat menghidupi sawah, mengisi sumur, mengalir di sungai, dan menghilangkan dahaga.
Air juga mengajarkan bahwa kelembutan bukanlah kelemahan. Setetes air terasa begitu lembut di telapak tangan. Namun, tetesan yang jatuh terus-menerus mampu melubangi batu yang keras. Ombak yang tampak tenang sedikit demi sedikit membentuk garis pantai. Sungai yang mengalir tanpa suara mampu membelah gunung selama ribuan tahun.
Dari perenungan tentang air inilah, barangkali, Allah mengajarkan kepada kita bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari kekerasan, tetapi dari kelembutan yang dilakukan dengan istikamah.
Ada pelajaran lain yang lebih mengharukan. Air tidak pernah meminum dirinya sendiri. Ia selalu menghidupkan yang lain. Pepohonan tumbuh karena air. Tanaman berbuah karena air. Hewan bertahan hidup karena air. Manusia menghilangkan dahaga karena air.
Betapa indahnya jika seorang mukmin juga hidup seperti air. Ke mana pun ia hadir, ia membawa manfaat. Kehadirannya menenangkan. Ucapannya menyegarkan. Ilmunya menghidupkan. Akhlaknya menumbuhkan harapan.
Mungkin inilah makna sabda Rasulullah Saw. bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Air juga mengajarkan tentang kesucian. Sebelum berdiri menghadap Allah dalam salat, kita diperintahkan berwudu dengan air. Bukan karena Allah membutuhkan kebersihan jasmani kita, tetapi karena air menjadi simbol penyucian diri.
Setiap basuhan mengingatkan bahwa sebelum tangan, wajah, dan kaki menjadi bersih, hati pun perlu dibersihkan dari kesombongan, iri hati, kebencian, dan prasangka buruk.
Perjalanan Air, Perjalanan Manusia
Lalu, lihatlah perjalanan air di alam. Ia turun dari langit sebagai hujan, mengalir menjadi sungai, bermuara ke lautan, menguap kembali ke langit, lalu turun lagi sebagai hujan.
Siklusnya tidak pernah berhenti. Tidakkah perjalanan itu mengingatkan kita kepada kehidupan manusia? Kita berasal dari Allah, menjalani kehidupan di bumi dengan segala amanahnya, lalu pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.
Mungkin itulah sebabnya Al-Qur’an berkali-kali mengajak kita memperhatikan hujan, sungai, mata air, dan lautan. Sepertinya Allah tidak hanya mengajarkan geografi kepada kita, tetapi juga mendidik kita supaya berpikir seperti seseorang yang dijuluki Allah sebagai Ulul Albab: melihat ciptaan, lalu menemukan kebesaran Pencipta.
Seorang ilmuwan mungkin melihat air sebagai senyawa H₂O. Seorang insinyur melihatnya sebagai sumber energi. Seorang petani melihatnya sebagai sumber kehidupan tanaman. Namun, seorang Ulul Albab melihat sesuatu yang lebih dalam. Ia melihat kasih sayang Allah yang mengalir dalam setiap tetesnya. Ia menyadari bahwa air tidak hanya menghilangkan dahaga tubuh, tetapi juga menghidupkan kesadaran bahwa seluruh kehidupan bergantung pada rahmat Allah.
Maka, lain kali ketika segelas air berada di hadapan kita, jangan hanya meminumnya. Berhentilah sebentar. Renungkanlah. Mungkin Allah sedang berbicara kepada kita melalui setetes air yang tampak sederhana itu.
Bukankah Allah menyatakan bahwa alam semesta tidak pernah berhenti bertasbih? Dan, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Ra’d: 3).
Renungan Senja
Air mengajarkan kita untuk rendah hati, memberi kehidupan, membersihkan, dan terus mengalir menuju tujuan. Jika setetes air saja mampu menjadi ayat yang menunjukkan kebesaran Allah, bagaimana dengan kehidupan kita?
Sudahkah hari ini kita menjadi ayat kebaikan yang membuat orang lain semakin mengenal kasih sayang-Nya?
(Ulul Albab)



