Hubbul Wathan

Kemerdekaan Sejati Seorang Muslim

Salafusshalih.com – Ada dua kenyataan yang seharusnya mengubah cara kita memandang kehidupan.

Pertama:

 وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Dan tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati.” (Luqman: 34)

Kita tidak tahu di mana perjalanan ini akan berakhir. Kita tidak tahu kapan halaman terakhir kehidupan akan ditulis. Kita bahkan tidak tahu apakah hari esok masih menjadi bagian dari perjalanan kita.

Kedua:

 مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, sedangkan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (An-Nahl: 96)

Maka renungkanlah:

Kita tidak tahu kapan perjalanan berakhir, sementara apa yang kita kejar di sepanjang perjalanan pasti akan berakhir.

Harta akan ditinggalkan.
Jabatan akan berakhir.
Popularitas akan memudar.
Kekuasaan akan berpindah.
Tubuh akan kembali menjadi tanah.
Dan seluruh kenikmatan dunia pada akhirnya akan ditinggalkan.

Lalu untuk apa seluruh hidup kita diperbudak olehnya?

Di sinilah makna kemerdekaan sejati.

Kemerdekaan bukan berarti memiliki dunia sebanyak-banyaknya.

Kemerdekaan adalah ketika kita tidak menjadikan dunia sebagai tujuan.

Dunia adalah sarana.
Harta adalah modal.
Ilmu adalah amanah.
Jabatan adalah tanggung jawab.
Usia adalah kesempatan.

Allah memberikan semuanya bukan agar kita menjadi hamba kepadanya, tetapi agar kita menggunakannya sebagai bekal dalam perjalanan menuju-Nya.

Karena itu, seorang muslim boleh memiliki dunia, tetapi tidak boleh dimiliki oleh dunia.

Ia boleh kaya, tetapi tidak menjadi hamba kekayaan.
Ia boleh berkuasa, tetapi tidak menjadi budak kekuasaan.
Ia boleh memiliki kedudukan, tetapi tidak menjadikan kedudukan sebagai tujuan kehidupannya.

Sebab orang yang paling tidak merdeka bukanlah orang yang kehilangan banyak hal.

Orang yang paling tidak merdeka adalah orang yang kehilangan arah karena terlalu sibuk mengejar apa yang pasti ia tinggalkan.

Kita tidak tahu kapan kematian datang.

Maka jangan pertaruhkan kehidupan yang terbatas untuk mengejar sesuatu yang juga terbatas.

Kita tidak tahu kapan halaman terakhir kehidupan akan ditulis.

Maka pastikan halaman-halaman yang masih berada di tangan kita diisi dengan sesuatu yang bernilai di sisi Allah.

Sebab:

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ

Apa yang ada pada kita akan berakhir.

وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ

Apa yang ada di sisi Allah akan kekal.

Maka kemerdekaan sejati adalah:

Membebaskan hati dari perbudakan dunia, lalu menggunakan dunia sebagai modal untuk memperoleh sesuatu yang kekal.

Bukan dunia yang menjadi tujuan perjalanan.

Allahlah tujuan.

Dan ketika perjalanan itu akhirnya berhenti, semoga yang kita bawa pulang bukan sekadar apa yang pernah kita miliki, tetapi apa yang pernah kita persembahkan kepada Allah.

(Muhammad Hidayatulloh)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button