Pendidikan & Kemerdekaan, Membangun Jiwa Merdeka!

Salafusshalih.com – Tugas pendidikan hanya satu: membangun jiwa merdeka sebagai prasyarat bagi bangsa yang merdeka. Hanya di atas jiwa yang merdeka dapat dibangun adab, akhlak, dan kompetensi produktif yang disebut kecerdasan bangsa. Tugas pendidikan ini jauh lebih kompleks dibandingkan dengan tugas pengajaran.
UUD 1945 memahami perbedaan itu. Pasal 31 UUD 1945 sebelum perubahan menyebut bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, bukan sistem pendidikan nasional.
UUD 1945 hasil empat kali perubahan pada 1999–2002 jauh lebih ambisius. Pasal 31 hasil Perubahan Keempat menyebut satu sistem pendidikan nasional, bahkan menetapkan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN serta APBD.
Namun, menurut saya, perubahan itu sekaligus menyimpan masalah. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional kemudian menempatkan persekolahan sebagai salah satu instrumen penting penyelenggaraan pendidikan nasional. Sistem itu berkembang sangat teknokratik: menyiapkan tenaga kerja yang cukup terampil menjalankan mesin, tetapi tidak selalu cukup kuat membangun manusia yang merdeka.
Dalam kritik yang lebih keras, sistem tersebut berisiko menghasilkan manusia yang terampil memenuhi kebutuhan sistem produksi, tetapi tidak cukup terlatih mempertanyakan sistem yang mengaturnya.
Bukan untuk membangun jiwa merdeka. No more, no less.
Pendidikan Bukan Sekedar Pengajaran
Pengajaran bisa direncanakan sebagai usaha sadar yang dirancang melalui kurikulum di sekolah untuk mencapai standar tertentu. Pendidikan jauh lebih kompleks.
Belajar atau learning, sebagai urusan utama pendidikan, merupakan emergent phenomenon yang tidak sepenuhnya bisa direncanakan. Belajar dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.
It takes a village to raise a child.
Banyak proses belajar terjadi di luar kelas dan di luar sekolah. Karena itu, mengatakan bahwa sekolah selalu merupakan tempat belajar terbaik dapat menyesatkan. Lebih keliru lagi apabila kita menganggap anak yang tidak bersekolah otomatis tidak terdidik atau kampungan.
Temuan tentang proses belajar manusia juga semakin menegaskan pentingnya pengalaman konkret, interaksi sosial, gerak, eksplorasi, dan keterlibatan langsung dengan lingkungan. Karena itu, ruang kelas tidak seharusnya diperlakukan sebagai satu-satunya lingkungan belajar yang ideal.
Apalagi bagi anak-anak yang membutuhkan banyak gerak dan pengalaman langsung.
Tempat belajar yang kaya justru dapat ditemukan di luar sekolah, termasuk di rumah dan masyarakat, tempat pengalaman tiga dimensi terpapar langsung kepada pembelajar.
Learning is a process of making sense of experiences.
Bahan baku utama proses belajar adalah pengalaman.
Mengurung anak berjam-jam di sekolah berpotensi mengurangi kesempatan mereka memperoleh pengalaman nyata. Sebagai lingkungan yang sengaja dirancang, sekolah sering kali terlalu nyaman, aman, dan teratur. Tantangan dengan risiko nyata menjadi terbatas.
Padahal, kehidupan sesungguhnya tidak selalu nyaman, aman, dan teratur.
True leaders tidak lahir hanya dari ruang kelas.
Ketika Sekolah Memperpanjang Masa Kanak-Kanak
Dalam bentuknya yang sangat institusional, sekolah bahkan berisiko memperpanjang masa kanak-kanak, memperlambat kedewasaan mental dan sosial anak, serta meningkatkan ketergantungan mereka kepada guru.
Sebelum persekolahan modern menjadi institusi dominan, proses belajar anak banyak berlangsung di rumah, tempat kerja, dan masyarakat. Anak-anak muda belajar melalui keterlibatan langsung dalam kehidupan orang dewasa. Bekerja pada usia remaja merupakan bagian dari proses belajar dan pendewasaan.
Pada usia 18 tahun, bahkan lebih muda, banyak anak muda telah dituntut memiliki kemandirian mental dan sosial.
Membaca buku juga menjadi salah satu jalan penting untuk mengasah pikiran dan memperluas wawasan. Belajar tidak selalu berarti duduk di kelas sambil menunggu seseorang mengajar.
Masalahnya sekarang bukan hanya sekolah.
Internet hadir di mana-mana. Waktu warga muda justru makin banyak tersedot ke dunia maya. Akibatnya, jumlah informasi yang mereka konsumsi mungkin meningkat, tetapi pengalaman nyata mereka belum tentu ikut bertambah.
Kita menghadapi paradoks: akses informasi makin luas, tetapi pengalaman langsung justru bisa makin miskin.
Tubuh pun makin pasif karena waktu lebih banyak dihabiskan di depan layar. Kesempatan bergerak, bekerja, menjelajah, menghadapi masalah nyata, mengambil risiko, dan menyelesaikan persoalan bersama orang lain menjadi berkurang.
Di sinilah kritik John Taylor Gatto tentang dumbing down dalam persekolahan modern menjadi relevan untuk direnungkan. Sekolah dapat berubah menjadi institusi yang terlalu banyak mengatur kehidupan anak: kapan harus duduk, kapan berbicara, apa yang harus dipelajari, bagaimana jawaban dinilai, bahkan kapan boleh pergi ke toilet.
Semakin lama anak hidup dalam sistem semacam itu, semakin besar risiko ia kehilangan kesempatan belajar mengambil keputusan sendiri.
Kemerdekaan Sebagai Tujuan Pendidikan
Karena itu, persoalan pengangguran sarjana tidak cukup dijelaskan hanya dengan mengatakan lapangan kerja kurang tersedia.
Kita juga harus berani bertanya: apakah proses pendidikan kita benar-benar membuat anak muda semakin mandiri, produktif, kreatif, dan mampu memecahkan masalah?
Ijazah yang makin tinggi tidak otomatis membuat seseorang makin employable. Lama sekolah juga tidak otomatis identik dengan kedewasaan.
Pendidikan seharusnya memberi manusia kemampuan untuk belajar secara mandiri, menghadapi ketidakpastian, membaca keadaan, mengambil keputusan, bertanggung jawab atas pilihannya, dan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi sesama.
Di situlah kemerdekaan menemukan maknanya.
Bangsa merdeka tidak cukup dibangun oleh warga yang hafal banyak pelajaran dan memiliki banyak ijazah. Bangsa merdeka membutuhkan manusia yang pikirannya tidak mudah ditundukkan, tindakannya tidak selalu menunggu perintah, serta berani bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.
Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada pertanyaan: apa yang sudah diajarkan sekolah kepada anak?
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah setelah menjalani pendidikan, jiwa anak itu semakin merdeka?
(Daniel Mohammad Rosyid)



