Menjaga Etika Dalam Perayaan HUT Kemerdekaan

Salafusshalih.com – Kemerdekaan bukan sekadar momentum untuk mengibarkan bendera, menggelar perlombaan, lalu selesai ketika bulan Agustus berakhir.
Kemerdekaan adalah nikmat besar yang harus disyukuri, dirawat, dan diisi dengan aktivitas yang membawa kemaslahatan.
Para pahlawan telah mewariskan kemerdekaan dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Karena itu, generasi hari ini memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa kemerdekaan tidak diisi dengan kesia-siaan.
Apalagi aktivitas yang justru merusak moral dan mengabaikan nilai agama. Menjaga etika harus menjadi perhatian.
Dalam perspektif Islam, kemerdekaan harus melahirkan manusia yang semakin dekat kepada Allah, semakin bermanfaat bagi sesama, semakin berilmu, semakin berakhlak, mampu menjaga etika.
Semangat kebangsaan tidak perlu dipertentangkan dengan ketaatan beragama. Keduanya dapat berjalan beriringan.
Maka perayaan HUT kemerdekaan seharusnya tidak sekadar bertanya, “Apa kegiatan yang paling meriah?” tetapi juga, “Apakah kegiatan ini membawa manfaat dan tetap berada dalam koridor syariat?”
Pertanyaan tersebut penting karena kegembiraan pun memiliki etika.
Merdeka Bukan Berarti Bebas Tanpa Batas
Islam tidak melarang manusia bergembira. Bahkan kegembiraan, kebersamaan, olahraga, permainan, dan berbagai kegiatan sosial dapat menjadi sarana memperkuat persaudaraan. Namun, kebebasan tidak berarti tanpa batas. Harus menjaga etika.
Kita boleh mengadakan lomba Agustusan, tetapi jangan sampai mengandung perjudian. Kita boleh membuat hiburan, tetapi jangan sampai merendahkan martabat manusia.
Kita boleh membuat kegiatan yang lucu dan menarik, tetapi jangan sampai mengorbankan aurat, kesopanan, atau prinsip agama.
Di sinilah pentingnya memahami pedoman keagamaan yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berfungsi menjaga etika.
Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah undian berhadiah yang sumber hadiahnya berasal dari pembayaran peserta.
Tidak semua hadiah dalam perlombaan otomatis haram. Yang perlu diperhatikan adalah mekanismenya. Jika peserta membayar sejumlah uang untuk memperoleh kesempatan memenangkan hadiah, sementara uang peserta tersebut menjadi sumber hadiah dan kemenangan ditentukan berdasarkan untung-untungan, maka terdapat unsur maysir atau perjudian.
Dalam Fatwa MUI Nomor 9 Tahun 2008 tentang SMS Berhadiah, MUI memberikan perhatian terhadap unsur maysir serta unsur lain seperti gharar, dharar, tabdzir, ighra’, dan israf. Prinsip tersebut relevan dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan kemerdekaan.
Bayangkan sebuah lomba. Setiap peserta diwajibkan membayar Rp10 ribu. Uang itu dikumpulkan, kemudian sebagian atau seluruhnya digunakan sebagai hadiah bagi pemenang. Peserta yang kalah kehilangan uang, sedangkan peserta yang menang memperoleh keuntungan.
Jika mekanismenya mengandung pertaruhan seperti itu, kegiatan yang semula dimaksudkan sebagai hiburan dapat berubah menjadi sesuatu yang bermasalah secara syariat.
Karena itu, panitia sebaiknya memilih mekanisme yang lebih aman. Hadiah dapat berasal dari sponsor, donatur, kas lembaga yang halal, atau sumber dana lain yang tidak menjadikan peserta mempertaruhkan uangnya demi peluang memperoleh hadiah. Meriah boleh, tetapi jangan mengubah perlombaan menjadi perjudian.
Jangan Mengorbankan Marwah Demi Kelucuan
Persoalan lain yang sering muncul dalam berbagai lomba HUT Kemerdekaan adalah penggunaan pakaian atau atribut yang menyerupai lawan jenis.
Atas nama hiburan, laki-laki diminta mengenakan pakaian perempuan seperti daster atau sebaliknya. Tujuannya mungkin sekadar membuat peserta dan penonton tertawa. Namun sesuatu yang dianggap lucu belum tentu layak dilakukan.
Dalam ajaran Islam terdapat larangan bagi laki-laki menyerupai perempuan dan perempuan menyerupai laki-laki.
MUI juga menjelaskan prinsip berpakaian sesuai ketentuan syariat serta larangan menyerupai lawan jenis dalam hal yang menjadi kekhususan masing-masing. Baca Penjelasan MUI tentang berpakaian dan menyerupai lawan jenis.
Karena itu, panitia kegiatan kemerdekaan perlu kreatif mencari bentuk perlombaan yang tetap menghibur tanpa harus menjadikan pakaian lawan jenis sebagai bahan lelucon.
Kita memiliki begitu banyak alternatif: olahraga, permainan tradisional, cerdas cermat, lomba literasi, kebersihan lingkungan, kreativitas seni, hafalan, memasak, kegiatan sosial, dan berbagai permainan yang menguatkan kebersamaan.
Kita tidak kekurangan cara untuk bersenang-senang. Yang diperlukan adalah kreativitas untuk tetap bersenang-senang tanpa melanggar nilai.
Kemerdekaan Harus Menghasilkan Kemanfaatan
Semangat kemerdekaan seharusnya menjadi kesempatan memperkuat hablum minallah sekaligus hablum minannas. Perayaan dapat diisi dengan shalat berjamaah, pengajian kebangsaan, santunan anak yatim dan duafa, donor darah, bakti sosial, penghijauan, membersihkan lingkungan, kegiatan literasi, pelayanan masyarakat, hingga penggalangan dana pendidikan.
Dengan demikian, kemerdekaan tidak hanya menghasilkan kegembiraan sesaat, tetapi meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Bukankah kemerdekaan akan terasa lebih bermakna ketika anak-anak belajar berbagi? Ketika pemuda belajar bekerja sama? Ketika masyarakat belajar peduli kepada tetangga? Ketika lingkungan menjadi lebih bersih? Ketika orang yang membutuhkan mendapatkan pertolongan? Inilah bentuk syukur yang konkret.
Allah Swt. berfirman: Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah. Syukur juga berarti menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang diridhai Allah.
Kemerdekaan adalah nikmat. Maka, salah satu bentuk syukurnya adalah menggunakan kemerdekaan untuk menghadirkan kebaikan.
Menjaga Marwah Bangsa dan Agama
Marwah bangsa tidak hanya dijaga oleh tentara di medan pertahanan. Marwah bangsa juga dijaga oleh guru yang mendidik dengan keteladanan, siswa yang belajar dengan sungguh-sungguh, pedagang yang jujur, pejabat yang amanah, orang tua yang mendidik anak, dan masyarakat yang menjaga kerukunan.
Demikian pula marwah agama tidak hanya dijaga melalui kata-kata. Ia dijaga melalui akhlak dengan menjaga etika.
Karena itu, nasionalisme tidak cukup diwujudkan dengan memasang bendera. Nasionalisme juga berarti menjaga kebersihan, menghormati hukum, merawat persatuan, menghargai perbedaan, bekerja dengan jujur, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Di era digital, menjaga marwah bangsa juga berarti menjaga apa yang kita sebarkan di media sosial. Jangan sampai perayaan kemerdekaan justru dipenuhi konten penghinaan, hoaks, fitnah, perjudian daring, atau konten yang merusak moral.
Merdeka secara politik, tetapi jangan menjadi budak hawa nafsu. Merdeka dari penjajahan, tetapi jangan dijajah oleh kemalasan, keserakahan, perjudian, dan kecanduan hiburan. Kemerdekaan sejati harus membawa manusia menuju martabat.
Dari Perayaan Menuju Perubahan
Sudah saatnya kita mengubah paradigma perayaan kemerdekaan. Tidak harus selalu mahal. Tidak harus selalu spektakuler. Tidak harus selalu viral. Yang lebih penting adalah bermanfaat, mendidik, mempererat persaudaraan, menjaga ketertiban, serta selaras dengan nilai agama dan aturan yang berlaku.
Sebab para pahlawan tidak berjuang agar generasi setelahnya hanya mendapatkan kemeriahan. Mereka berjuang agar bangsa ini memiliki masa depan yang lebih bermartabat. Maka, perjuangan kita hari ini memiliki bentuk yang berbeda.
Melawan kebodohan dengan ilmu. Melawan kemiskinan dengan kepedulian. Melawan korupsi dengan kejujuran. Melawan perpecahan dengan persaudaraan. Melawan kemerosotan moral dengan keteladanan. Dan melawan kesia-siaan dengan aktivitas yang penuh kemanfaatan.
Kemerdekaan bukan izin untuk melakukan apa saja. Kemerdekaan adalah amanah untuk memilih apa yang terbaik bagi bangsa, agama, dan kemanusiaan.
Karena itu, mari kita semarakkan kemerdekaan dengan kegembiraan yang bermartabat dengan tetap menjaga etika.
Mari kita gelar perlombaan tanpa perjudian, hiburan tanpa merendahkan kehormatan, kebersamaan tanpa melanggar batas agama, dan kegiatan sosial yang meninggalkan manfaat nyata.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu merayakan kemerdekaan dengan meriah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengisi kemerdekaannya dengan akhlak, ilmu, persatuan, produktivitas, dan kemaslahatan. Merdeka bangsanya, mulia akhlaknya, terjaga agamanya, dan bermanfaat bagi sesama.
(Ansorul Hakim)



