Ulul Amri

Jabal Tsur, Saksi Sunyi Perjuangan Rasulullah

Salafusshalih.com – Pagi, bus yang membawa saya, istri, dan keempat anak perlahan melintasi kawasan berbukit di Kota Makkah.

Di hadapan kami berdiri kokoh Jabal Tsur, gunung yang menyimpan salah satu jejak penting dalam perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw. dari Makkah menuju Madinah.

 

Kali ini kami tidak mendaki hingga Gua Tsur yang berada di bagian atas gunung. Namun, melihat Jabal Tsur dari dekat saja sudah cukup membuat hati dipenuhi rasa haru dan takjub.

Lidah saya tak henti mengucapkan syukur kepada Allah Swt.

Selama ini Jabal Tsur hanya saya kenal melalui kisah-kisah sirah Nabi, buku, dan cerita tentang perjalanan hijrah. Kini, gunung itu benar-benar berdiri di depan mata.

Lebih membahagiakan lagi, saya menyaksikannya bersama istri dan keempat anak.

Perjalanan ini membuat lembaran sejarah yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam bacaan terasa jauh lebih dekat.

Di Jabal Tsur inilah terdapat Gua Tsur, tempat Nabi Muhammad Saw. dan Abu Bakar berlindung selama tiga malam ketika meninggalkan Makkah dalam perjalanan hijrah menuju Madinah. Al-Qur’an mengabadikan peristiwa ketika keduanya berada di dalam gua dalam Surah At-Taubah ayat 40.

Jangan Bersedih, Allah Bersama Kita

Memandang Jabal Tsur membuat pikiran saya melayang pada suasana penuh ketegangan yang dialami Rasulullah Saw. dan Abu Bakar.

Mereka sedang dalam perjalanan meninggalkan Makkah, sementara kaum Quraisy mengejar.

Di tengah situasi itulah Rasulullah saw. menenangkan sahabatnya dengan kalimat yang kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an:

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Kalimat itu terasa berbeda ketika dibaca sambil memandang gunung tempat peristiwa tersebut terjadi.

Ada ketenangan sekaligus kekuatan di dalamnya.

Pertolongan Allah tidak selalu berarti hilangnya kesulitan seketika. Rasulullah saw. tetap harus menempuh perjalanan yang berat, bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy, lalu melanjutkan hijrah menuju Madinah.

Namun, di tengah keadaan yang begitu genting, keyakinan kepada Allah tidak pernah hilang.

Gunung yang berdiri di depan saya seolah mengingatkan kembali pada keberanian, kesabaran, dan tawakal yang menyertai perjalanan tersebut.

Dari Jabal Tsur Untuk Anak-Anak

Sesekali saya memandang keempat anak yang ikut dalam perjalanan.

Ada rasa syukur karena mereka tidak hanya mendengar kisah hijrah dari buku pelajaran. Hari itu, mereka dapat melihat langsung gunung yang menjadi bagian dari sejarah tersebut.

Saya berharap perjalanan seperti ini meninggalkan sesuatu di dalam ingatan mereka.

Bukan hanya foto atau cerita bahwa mereka pernah datang ke Jabal Tsur, tetapi juga pelajaran tentang bagaimana Rasulullah saw. menghadapi masa-masa sulit dengan keberanian dan keyakinan kepada Allah.

Kami memang hanya berada di sekitar Jabal Tsur dalam waktu singkat.

Tidak mendaki.

Tidak pula mencapai Gua Tsur.

Namun, perjalanan singkat itu meninggalkan kesan yang jauh lebih panjang.

Saya kembali belajar bahwa setiap perjuangan membutuhkan kesabaran. Ada masa ketika manusia harus berusaha sekuat tenaga, tetapi pada akhirnya tetap menyerahkan hasilnya kepada Allah Swt.

Saat bus kembali bergerak meninggalkan kawasan Jabal Tsur, mata saya masih tertuju pada gunung yang perlahan menjauh.

Gunung itu tetap diam.

Namun, kisah yang tersimpan di sana seakan berbicara: bahwa dalam keadaan sesulit apa pun, seorang mukmin tidak boleh kehilangan keyakinan kepada pertolongan Allah.

Jabal Tsur akhirnya bukan hanya gunung yang kami lihat dalam perjalanan umrah.

Bagi saya, ia menjadi pengingat tentang sebuah kalimat yang tidak lekang oleh waktu:

Jangan bersedih. Allah bersama kita.

(Ichwan Arif)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button