Nabi Disebut Ummi Bukan Berarti Buta Huruf

Salafusshalih.com – Sejak awal orientalis kafir Barat kerap kali mencela Muhammad Saw dan Islam sebagai agama terbelakang. Bahkan secara vulgar dan didorong perasaan benci, kaum orientalis Barat mengejek dan mengolok-olok Nabi Muhammad Saw buta huruf. Tidak bisa membaca dan menulis.
Padahal Nabi Muhammad Saw dikenal sebagai sosok pribadi yang bersifat al-amin (dapat dipercaya), siddiq (jujur), dan fathonah (cerdas). Oleh karenanya Allah Ta’ala melarang kepada siapapun agar tidak menjadikan pribadi Nabi Saw dan syariatnya sebagai bahan ejekan.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam surah At-Taubah ayat 65.
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ
Jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab,”Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.
Dalam ayat ini terdapat dalil larangan mengolok-olok, serta haram hukumnya merendahkan pribadi Nabi Saw. Dalam penulisan biografi memang Nabi Saw diceritakan tidak bisa membaca dan menulis. Ini bukan bermaksud mengolok-olok. Tapi berdasar tafsiran makna bahasa dan interpretasi yang berbeda kata ummi terkait dengan sejarah awal penerimaan wahyu surah Al-Alaq.
Menurut riwayat saat bertemu malaikat Jibril di gua Hira, Nabi Saw diminta malaikat untuk membaca, lalu Nabi berkata: مَا اَنَا بِقَارِيْ (Saya tidak bisa membaca). Dari perkataan itu lantas disimpulkan Nabi tidak bisa membaca alias buta huruf.
Tapi benarkah Nabi Saw seorang ummi alias buta huruf?
Rekonstruksi Tafsir Kata Ummi
Perlu merekonstruksi kembali makna kata ummi supaya memahami kata itu secara utuh. Secara bahasa kata أَلأُمُّ(al-ummu) berasal dari kata أَمَّ -ُ أَمَأً وَ أَمَامَةً وَ أَمُوْمَةً, artinya, pergi menuju, bermaksud kepada, atau menyengaja.
Kata أَلأُمُّ (al-ummu) juga memiliki makna ibu seperti dalam Kamus Al–Munawwir halaman 39, A.W. Munawwir.
Kemudian mendapat tambahan huruf ya (ya mutakallim) di belakangnya menjadi ummii(أُمِّي), yang secara harfiah berarti ibuku.
Dalam kitab Al–Mufradat Fi Gharibil Quran atau Kamus Al–Quran jilid 1 halaman 86-87, Ar-Raghib Al-Asfahani berpendapat, Nabi Saw disebut ummi dalam arti tidak pernah menulis dan membaca. Bukan berarti tidak bisa membaca, dan menulis.
Dan hal ini menjadi sebuah keutamaan dan kemuliaan bagi Nabi Saw. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Ankabut ayat 48-49:
وَمَا كُنتَ تَتْلُوا۟ مِن قَبْلِهِۦ مِن كِتَٰبٍ وَلَا تَخُطُّهُۥ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَّٱرْتَابَٱلْمُبْطِلُونَ , بَلْ هُوَ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌ فِى صُدُورِ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِـَٔايَٰتِنَآ إِلَّا ٱلظَّٰلِمُونَ
Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Quran) sesuatu kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). Sebenarnya, Al–Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir jilid 7 halaman 142-143, Dr. Abdullah Muhammad bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishak Alu Syekh disebutkan, Ibnu Jarir berpendapat, Nabi Saw tidak pernah membaca sebelum kitab ini suatu kitabpun, dan tidak menulis suatu kitab dengan tangan kanannya.
Hal ini juga ditegaskan dalam surah Al-Araf ayat 157.
ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَٱلنَّبِىَّٱلْأُمِّىَّٱلَّذِى يَجِدُونَهُۥ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ وَٱلْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَىٰهُمْ عَنِ ٱلْمُنكَرِ
Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar…..”
Makna ayat ini adalah Nabi berasal dari bangsa Arab umat yang ummi, tidak menulis, dan tidak membaca, dan sebelum Al-Quran turun mereka tidak memiliki kitab.
Ayat ini juga terkandung pengertian Al-Quran bukan karya tulis Nabi Saw. Namun Al-Quran adalah kalamullah dan wahyu dari Allah Ta’ala kepada Nabi seperti merujuk Tafsir Al-Quran Kalamul Mannan, jilid 3, halaman 118, karya Syekh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di.
Maka jelaslah kalimat ummi pada ayat ini ditujukan kepada bangsa Arab yang saat awal dakwah Islam kondisinya ummi, tidak bisa menulis dan tidak bisa membaca.
Sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Jumu’ah ayat 2 :
هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Ayat ini memberikan penjelasan kepada kita, Allah Ta’ala yang mengutus Nabi Saw kepada orang-orang Arab yang umumnya tidak bisa membaca, dan diutusnya Rasulullah Saw kepada bangsa Arab yang pada masa itu (jahiliyah) berada di dalam penyimpangan dari jalan kebenaran.
Ayat itu selaras dengan sabda Nabi Saw
عنِ بْنِ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ ” إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا “. يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ، وَمَرَّةً ثَلاَثِينَ.
Diriwayatkan dari Ibn Umar, Nabi bersabda,”Kami adalah umat yang buta huruf kami tidak menulis, dan tidak tahu berhitung. Bulan itu seperti ini dan ini, yaitu kadang 29 hari dan kadang 30 hari.” (Sahih – Bukhari dan Muslim)
Nabi Saw Bisa Membaca dan Menulis
Sosok Nabi Muhammad Saw bukan hanya dikenal kejujurannya, dapat dipercaya, tetapi dikenal juga pandai dan cerdas (fathonah). Nabi Saw juga membangun dasar literasi dan peradaban sehingga membawa kemajuan Islam.
Dalam sebuah hadis disebutkan Nabi Saw pernah menuliskan dalam sebuah perjanjian Hudaibiyah (Tahun 6 Hijriyah atau 628 Masehi).
صحيح البخاري ٢٥٠١: حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ذِي الْقَعْدَةِ فَأَبَى أَهْلُ مَكَّةَ أَنْ يَدَعُوهُ يَدْخُلُ مَكَّةَ حَتَّى قَاضَاهُمْ عَلَى أَنْ يُقِيمَ بِهَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَتَبُوا الْكِتَابَ كَتَبُوا هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالُوا لَا نُقِرُّ بِهَا فَلَوْ نَعْلَمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ مَا مَنَعْنَاكَ لَكِنْ أَنْتَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَنَا رَسُولُ اللَّهِ وَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ لِعَلِيٍّ امْحُ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ لَا وَاللَّهِ لَا أَمْحُوكَ أَبَدًا فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكِتَابَ فَكَتَبَ هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ لَا يَدْخُلُ مَكَّةَ سِلَاحٌ إِلَّا فِي الْقِرَابِ
Dalam sahih Bukhari hadis nomor 2501 diceritakan telah bercerita kepada kami (Ubaidullah bin Musa) dari (Isra’il) dari (Ibnu Ishaq) dari Al-Bara’ bin ‘Azib radliyallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan umrah pada bulan Zulqa’dah tapi penduduk Makkah menolak memberikan izin masuk hingga bersepakat membuat perjanjian dengan mereka. Isinya Nabi boleh tinggal di Makkah selama tiga hari. Ketika mereka menulis surat perjanjian, mereka menulis: Ini adalah keputusan yang ditetapkan oleh Muhammad Rasulullah. Maka kaum musyrikin berkata: Kami tidak setuju, sebab seandainya kami mengetahui bahwa kamu adalah rasulullah, tentu kami tidak akan menghalangimu, tapi kamu adalah Muhammad bin Abdullah. Nabi berkata: Aku adalah Rasulullah dan aku adalah Muhammad bin Abdullah.”
Kemudian Nabi berkata kepada Ali: “Hapuslah kalimat Muhammad Rasulullah.” Ali berkata:”Demi Allah, aku tidak akan menghapusnya untuk selamanya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil surat perjanjian itu lalu menuliskan: Ini adalah keputusan yang ditetapkan oleh Muhammad bin Abdullah di mana dia tidak boleh memasuki kota Makkah dengan membawa senjata kecuali dimasukkan ke dalam sarungnya.”
Dari hadis ini dan nas-nas di atas menjadi bukti, ada cerita Nabi Saw bisa membaca, menulis, dan juga paham perhitungan dalam ilmu falak. Wallaahu ’alamu bishshawwab.
(Ridwan Ma’ruf)



