Mengapa Adab Ilahi Allah Tidak Memanggil Nabi Muhammad Dengan Namanya?

Salafusshalih.com – Membicarakan Nabi Muhammad SAW seakan tidak pernah kehabisan ruang untuk direnungkan. Sirah beliau ditulis dalam berbagai kitab, pujian kepadanya dilantunkan dalam majelis-majelis, dan cinta kepada beliau terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, ada satu hal menarik dalam Al-Qur’an yang layak menjadi bahan renungan: Allah SWT tidak pernah memanggil Nabi Muhammad SAW secara langsung dengan redaksi “Yā Muhammad”. Padahal, terhadap nabi-nabi sebelumnya, Allah menggunakan nama mereka secara langsung, seperti “Yā Ādam”, “Yā Nūh”, “Yā Ibrāhīm”, “Yā Mūsā”, dan “Yā ‘Īsā”.
Lantas, mengapa Nabi Muhammad SAW dipanggil dengan sebutan “Yā Ayyuhan Nabiyyu” (Wahai Nabi) dan “Yā Ayyuhar Rasūl” (Wahai Rasul)?
Nama Muhammad memang disebut empat kali dalam Al-Qur’an dan Ahmad satu kali. Namun, penyebutan tersebut berada dalam konteks pemberitaan tentang beliau, bukan sebagai panggilan langsung. Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan hal ini dalam Mafātīh al-Ghaib ketika menafsirkan QS. al-Ahzab ayat 40.
Panggilan Yang Mengandung Pengagungan
Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama melihat pola tersebut sebagai salah satu bentuk ta‘zhīm atau pengagungan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Allah memanggil beliau dengan gelar yang menunjukkan kedudukan dan tugasnya: “Yā Ayyuhan Nabiyyu” dan “Yā Ayyuhar Rasūl”. Bahkan, pada awal surah al-Muzzammil dan al-Muddassir, Allah memanggil beliau dengan keadaan atau sifatnya: “Yā Ayyuhal Muzzammil” dan “Yā Ayyuhal Muddassir”.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun mengenal logika penghormatan semacam ini. Seorang santri, misalnya, akan merasa kurang beradab jika memanggil kiainya hanya dengan nama. Ia lebih lazim menggunakan panggilan “Kiai”, karena gelar tersebut mencerminkan penghormatan terhadap kedudukan orang yang dipanggil.
Begitu pula ketika seorang ustadz berhadapan dengan kiainya. Panggilan “Ustadz” bukan sekadar identitas, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap kedudukannya. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki menjelaskan bahwa panggilan Allah kepada Nabi Muhammad SAW dengan gelar Nabi dan Rasul merupakan bentuk pemuliaan terhadap beliau. Pandangan serupa disampaikan Badruddin az-Zarkasyi dalam Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān:
وَلَمْ يَقَعْ فِي الْقُرْآنِ النِّدَاءُ بِـ “يَا مُحَمَّدُ” بَلْ بِـ “يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ” وَ “يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ”؛ تَعْظِيمًا لَهُ، وَتَبْجِيلاً، وَتَخْصِيصًا بِذَلِكَ عَنْ سِوَاهُ.
“Dan tidak ada di dalam Al-Qur’an panggilan dengan ‘Wahai Muhammad’, melainkan dengan ‘Wahai Nabi’ dan ‘Wahai Rasul’, sebagai bentuk pengagungan, penghormatan, dan keistimewaan baginya dibandingkan nabi-nabi yang lain.”
Al-Qadhi ‘Iyadh juga menerangkan bahwa Allah tidak memanggil Nabi Muhammad SAW dengan namanya sebagaimana Allah memanggil Adam, Nuh, Musa, dan Isa. Sebaliknya, beliau dipanggil dengan “Wahai Nabi” dan “Wahai Rasul” sebagai bentuk ikrām dan ta‘zhīm terhadap kedudukannya.
Imam al-Qusyairi bahkan menyebut panggilan tersebut sebagai bentuk ijlāl terhadap derajat Nabi Muhammad SAW, penghormatan terhadap kedudukannya, sekaligus penegasan atas keistimewaan beliau di sisi Allah.
Memuliakan Nabi Bukan Sekedar Dengan Panggilan
Hikmah tersebut semakin terasa ketika kita melihat bagaimana para sahabat memperlakukan Nabi Muhammad SAW. Ketika berbicara kepada beliau, mereka terbiasa menggunakan panggilan “Yā Rasulallah”.
Dalam Shahih Muslim disebutkan:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟
“Wahai Rasulullah, bagaimana kami bershalawat kepadamu?”
Tradisi penghormatan itu juga tampak dalam sikap para ulama. Imam Malik bin Anas, misalnya, dikenal sangat menjaga adab ketika nama Nabi Muhammad SAW disebut di hadapannya. Ketika ada orang yang menyebut beliau secara langsung, Imam Malik mengingatkan, “Celaka kalian! Tidakkah kalian tahu siapa ini?” Al-Qur’an sendiri memberikan pedoman yang sangat jelas mengenai adab terhadap Rasulullah SAW. Allah berfirman:
لَا تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاۤءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا
“Janganlah kamu menjadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain.”
(QS. an-Nur: 63)
Adab tersebut semakin ditegaskan dalam firman Allah:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain. Hal itu dikhawatirkan akan membuat pahala segala amalmu terhapus, sedangkan kamu tidak menyadarinya.”
(QS. al-Hujurat: 2)
Mengapa penghormatan itu begitu ditekankan? Karena Nabi Muhammad SAW bukan sekadar seorang manusia biasa dalam perspektif risalah. Beliau adalah utusan Allah yang membawa petunjuk dan menjadi teladan bagi umat.
Allah menggambarkan kasih sayang beliau kepada umatnya:
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
“Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. at-Taubah: 128)
Karena itu, memuliakan Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya dengan memperindah ucapan atau memperbanyak lantunan pujian. Cinta kepada Rasul harus menemukan bentuk nyatanya dalam kehidupan. Mengikuti sunnahnya, meneladani akhlaknya, menaati ajarannya, dan menjaga adab ketika menyebut namanya adalah bagian dari kecintaan kepada beliau.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar mengapa Allah tidak memanggil beliau dengan “Yā Muhammad”, tetapi apakah kita sudah benar-benar memuliakan Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang diajarkan Al-Qur’an? Sebab, mengaku mencintai Nabi tetapi enggan mengikuti sunnahnya adalah cinta yang masih perlu dipertanyakan. Demikian pula, mengharapkan syafaat beliau, tetapi tidak berusaha meneladani akhlak dan ajarannya, tentu menjadi sebuah ironi.
(Muhammad Rosyidi)



