Tsaqofah

Menyadari Kematian, Menjauhi Kesombongan

Salafusshalih.com – Dalam kehidupan yang penuh dengan kesibukan dan kenikmatan dunia, manusia sering kali terlena oleh apa yang ada di sekitarnya. Kita sering terjebak dalam rasa sombong, angkuh, dan takabur, seolah dunia ini abadi dan kita tak terkalahkan. Namun, dalam Islam, kita diajarkan untuk selalu rendah hati dan menyadari bahwa kita hanyalah hamba yang lemah di hadapan Allah.

Salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ, Ali bin Abi Thalib R.A., pernah berkata, “Singkirkanlah kesombonganmu, turunkanlah keangkuhanmu, dan ingatlah kuburanmu.” Kata-kata ini mengingatkan kita untuk selalu merendahkan hati, menjaga sikap kita, dan tidak terbuai oleh kedudukan atau harta yang sementara. Kesombongan hanya akan membawa kehancuran, sementara kesadaran akan kematian akan membawa kita untuk hidup dengan lebih rendah hati.

 

Kematian adalah takdir yang pasti bagi setiap makhluk hidup, namun seringkali kita lupa akan hal ini. Rasulullah ﷺ sendiri mengingatkan umatnya untuk memperbanyak mengingat sesuatu yang dapat menghancurkan kenikmatan, yaitu kematian. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang dapat menghancurkan kenikmatan, yaitu kematian.” (H.R. Ibnu Majah: 4248)

Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk tidak hanya terfokus pada kehidupan dunia yang sementara, tetapi juga untuk mengingat bahwa kematian bisa datang kapan saja. Hal ini bukan dimaksudkan untuk menakuti kita, tetapi agar kita selalu waspada dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang abadi di akhirat.

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga menegaskan dalam hadis yang lain, bahwa seseorang yang memiliki kesombongan, meskipun sekecil biji sawi, tidak akan masuk surga. Beliau bersabda:

“Tidak masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” (H.R. Ibnu Hibban: 224)

Kesombongan adalah salah satu sifat yang sangat dilarang dalam Islam. Kesombongan muncul ketika seseorang merasa lebih unggul dari orang lain, merasa memiliki segalanya, atau merasa lebih baik dari orang lain. Padahal, semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan dari Allah dan tidak ada yang kekal. Segala kenikmatan yang kita nikmati hari ini, bisa saja hilang dalam sekejap.

Dalam kitab At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah karya Imam al-Qurthubi, dijelaskan bahwa siapa pun yang banyak mengingat kematian akan dimuliakan dengan tiga hal:

  1. Bersegera untuk bertobat – Mengingat kematian membuat kita selalu merasa takut dan khawatir jika kita belum melakukan amal yang cukup. Oleh karena itu, kita akan segera bertobat dari dosa-dosa yang kita lakukan.
  2. Puas hati – Mengingat kematian juga membawa kita untuk menerima apa yang telah Allah takdirkan. Kita akan lebih bersyukur atas segala nikmat yang diberikan dan tidak akan merasa gelisah dengan kekurangan yang ada.
  3. Semangat beribadah – Dengan mengingat kematian, kita menjadi lebih rajin dalam beribadah, karena kita sadar bahwa waktu kita di dunia sangat terbatas. Setiap amal baik yang kita lakukan akan menjadi bekal untuk kehidupan yang lebih kekal.

Sebaliknya, bagi mereka yang lupa akan kematian, mereka akan mendapatkan tiga hukuman:

  1. Menunda-nunda tobat – Mereka akan terus menunda-nunda tobat karena merasa hidup masih panjang dan kesempatan untuk bertobat masih banyak.
  2. Tidak ridha dengan keadaan – Mereka akan merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki dan terus mencari kesenangan duniawi tanpa batas.
  3. Malas beribadah – Mereka akan menjadi malas dalam beribadah karena merasa dunia ini adalah tempat yang lebih penting daripada akhirat.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa cemas, sombong, dan angkuh dengan pencapaian kita. Namun, kita perlu terus mengingat bahwa semua yang kita miliki saat ini hanyalah pinjaman dari Allah. Kematian adalah bagian dari takdir yang tidak bisa kita hindari, dan segala kenikmatan yang kita nikmati di dunia ini akan hilang begitu saja. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga sikap rendah hati, bersegera bertobat, bersyukur dengan apa yang kita miliki, dan giat beribadah kepada Allah.

Kita tidak tahu kapan kematian akan datang. Oleh karena itu, mari kita isi setiap hari kita dengan amal yang baik, agar saat ajal menjemput, kita dalam keadaan yang diridhai oleh Allah. Dengan mengingat kematian, kita akan selalu mengutamakan akhirat daripada dunia, dan menurunkan kesombongan kita agar tidak terjerumus dalam keburukan.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami lah kalian dikembalikan.” (Al-Anbiya: 35)

Kematian adalah kenyataan yang harus kita hadapi dengan sikap yang tawaduk (rendah hati) dan penuh persiapan. Semoga dengan mengingat kematian, kita dapat menjadi hamba yang lebih baik dan lebih dekat dengan Allah, serta memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

(Dwi Taufan Hidayat)

Related Articles

Back to top button