Tsaqofah

Tahun Baru di Tanah Bencana

Salafusshalih.com – Penghujung tahun 2025, tragedi bencana alam menguji kekuatan dan solidaritas kita sebagai sebuah bangsa. Banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Menyisakan duka mendalam, gemanya hingga menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, bencana Sumatra mengakibatkan korban meninggal dunia mencapai 1.016 orang, sebanyak 212 hilang, 5.400 orang terluka, serta 894.501 orang mengungsi.

Berdampak pada 3,2 juta jiwa di tiga provinsi. Aceh mencatat korban jiwa tertinggi dengan 415 orang. Kerugian ekonomi ditaksir Rp 15 triliun akibat kerusakan infrastruktur dan hilangnya mata pencaharian masyarakat. Pemerintah terus melakukan pemulihan dan menyatakan dapat mengatasi segera.

“Terima kasih atas simpati beberapa pemimpin dunia yang ingin memberikan bantuan, tetapi maaf sejauh ini kami masih bisa mengatasi musibah tersebut,” demikian ditegaskan Presiden Prabowo Subianto menanggapi keinginan beberapa negara yang ingin memberi bantuan.

Menguatkan Solidaritas

Saat masyarakat di belahan lain bersiap menyambut Natal dan Tahun Baru, yang secara filosofi melambangkan harapan, kelahiran baru, dan solidaritas bersama, di sini dituntut menyikapi bencana ini sebagai momentum merefleksikan segala ikhtiar. Termasuk bagaimana merancang libur nasional atau cuti bersama penuh empati pada korban.

Nataru tidak boleh berpotensi menciptakan long weekend penuh euforia, di tengah duka melanda Sumatra. Bencana ini menjadi momentum reflektif pada esensi kemanusiaan, sekaligus ajang merajut kembali persaudaraan, menguatkan solidaritas bersama, dan mendorong berkumpulnya keluarga mereka yang masih terpisah di perantauan untuk berbagi duka.

Mahasiswa yang kuliah di luar Sumatra misalnya, atau perantau yang belum berkesempatan bertemu keluarga, karena biaya, ada baiknya pemerintah melalui kementerian terkait memfasilitasi agar bisa pulang ke kampung halaman.

Bencana alam meninggalkan luka mendalam, mengoyak kekuatan dan ketabahan korban dalam komunitas. Peristiwa ini dapat dijadikan ajang mengokohkan, sembari melantunkan doa bersama, dan kegiatan amal.

Panggung-panggung hiburan malam tahun baru harus dihiasi pesan spiritual, dan doa bersama serta kegiatan amal.

Sebab secara psikologi klinis, dalam situasi seperti sekarang, para penyintas dapat mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD), kecemasan kronis, depresi, flashback traumatis, dan rasa isolasi mendalam. Bisa trauma individual, bisa secara kolektif.

Data Kementerian Kesehatan RI, 20-30% penyintas bencana alam mengalami gejala PTSD, dengan angka lebih tinggi pada kelompok anak-anak dan lansia yang mencapai 40%.

Para psikolog yakin munculnya disintegrasi komunitas, hilangnya rasa aman, dan ketidakberdayaan berkepanjangan dapat menimbulkan regresi emosional, gangguan tidur, atau bahkan psikosomatis seperti sakit kepala dan mual tanpa penyebab fisik.

Jika tidak segera ditangani, trauma ini berpotensi menjadi beban jangka panjang, menghambat resiliensi masyarakat.

Maka momentum libur atau cuti bersama harus dapat mendorong lebih banyak relawan psikolog terjun di lokasi-lokasi pemulihan

Masa Pemulihan

Perpanjangan waktu cuti bersama dapat diprioritaskan pada program pemulihan secara holistik. Aparatur Sipil Negara (ASN), relawan, dan keluarga korban di wilayah terdampak, diberi ruang ambil bagian terutama pada pemulihan psikologis.

Bagaimanapun waktu berkumpul keluarga, berduka bersama, dan membangun kembali ikatan sosial yang retak akibat hentakan bencana yang tiba-tiba, sangat penting.

Seperti dikemukakan Abraham Maslow dalam teori hierarki kebutuhan, rasa aman dan belonging, harus terpenuhi sebelum individu bisa bangkit.

Di Aceh Utara atau Tapanuli Tengah, ribuan saudara kita  masih mengungsi, libur tambahan dapat menjadi fase pendampingan psikososial lebih intensif.

Cuti bersama dapat digunakan untuk akselerasi bantuan kemanusiaan lebih masif. Memastikan bahwa kebutuhan primer, mulai dari makanan, air bersih, tempat tinggal sementara terpenuhi sepenuhnya sebelum 25 Desember, terutama untuk yang merayakan Natal.

Koordinasi efektif antara BNPB, pemerintah daerah, TNI/Polri, dan lembaga kemanusiaan seperti PMI lebih ditingkatkan, untuk menghindari tumpang tindih, bahkan keterlambatan bantuan pemulihan.

Dari sudut pandang lebih teknis, evaluasi distribusi logistik via udara dan darat, di wilayah terisolasi seperti Agam dan Humbang Hasundutan, perlu diawasi ketat, untuk mencegah kecurangan atau salah sasaran.

Peran Media

Perayaan tahun baru harus mencerminkan sikap nasionalisme, menguatkan kebangkitan korban. Maka penting jika media menyampaikan pesan agar kegiatan perayaan tidak berlebihan.

Seyogyanya diisi pesan solidaritas, gerakan gotong royong, doa lintas agama, dan inisiatif donasi.

Media massa dan seluruh platform digital, harus mengampanyekan makna resiliensi dan membangun harapan baru, bukan pesta memotret kembang api megah.

Psikolog Martin Seligman pernah mengatakan, harapan (hope) dan makna (meaning), kunci pemulihan trauma.

Perayaan yang dipenuhi empati oriented, misalnya konser amal atau kunjungan virtual ke posko pengungsi, akan membangun semangat nasional tanpa menyakiti hati yang sedang berduka.

Pengawasan Pesta

Karena itu perlu penerapan pengawasan ketat terhadap kegiatan Nataru, agar tidak berpotensi mengganggu program pemulihan korban bencana, seperti pesta malam tahun baru di wilayah rawan atau mobilitas tinggi yang bisa merusak infrastruktur.

Ini bukan pembatasan kebebasan, tapi upaya membangkitkan tanggung jawab kolektif, mencegah secondary trauma korban.

Ketika melihat euforia di tempat lain, dan mereka sedang kehilangan segalanya, energi Nataru harus menguatkan kohesi sosial dan kerapuhan eksistensi sesama di hadapan alam. Seperti yang pernah ditulis filsuf Jean-Paul Sartre, bahwa “kebebasan kita sesungguhnya terbatas oleh situasi”.

Situasi duka nasional yang menuntut kita memilih empati daripada indiferensi. Pandangan didukung pendapat psikolog humanistik Carl Rogers bahwa unconditional positive regard, penerimaan tanpa syarat, adalah obat mujarab bagi luka jiwa.

Bangunan komitmen yang telah ditunjukkan pemerintah akan menjadi daya ungkit kadar kepercayaan publik, memperkuat dukungan, dan mengontrol di tengah potensi kerawanan pasca bencana.

Mari kita menyikapi Natal dan Tahun Baru 2025 dengan prioritas untuk saudara kita korban bencana Sumatra. Bukan tuntutan pengorbanan, tetapi investasi kemanusiaan yang tak terukur nilainya.

Sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya negara majemuk, tapi bangsa yang matang dan kuat, mampu berduka bersama, bangkit bersama.

Di tengah harapan pergantian tahun baru. Pada akhirnya, empatilah yang akan memenangkan pertarungan saat badai datang.

(Dr. Eko Wahyuanto)

Related Articles

Back to top button