Mujadalah

Siapakah Ibadurrahman di Era Digital?

Salafusshalih.com – Kehidupan manusia di era digital saat ini penuh dengan kemudahan. Informasi dapat diakses hanya dalam hitungan detik melalui berbagai platform media sosial. Tak heran jika muncul ungkapan, “Aku klik, maka aku ada.”

Ungkapan ini mencerminkan bagaimana dunia digital telah menjadi ruang vital dalam pemenuhan kebutuhan manusia—baik secara material maupun informasi.

Namun, di balik segala kemudahan itu, ada sisi lain yang tak boleh kita abaikan. Media sosial seperti WhatsApp, TikTok, Instagram, dan Facebook, selain bermanfaat, juga menyimpan potensi keburukan yang dapat menjerumuskan. Dalam pandangan Islam, media sosial adalah washilah ad-dakwah—alat untuk menyampaikan pesan dakwah kepada umat manusia.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Yusuf 108:

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.”

Kata “basyirah” dalam ayat tersebut mengisyaratkan pentingnya pendekatan dakwah yang berbasis pengetahuan—bukan sekadar retorika, melainkan data, analisis, bahkan visualisasi informasi seperti grafik dan tabel. Maka, diperlukan bukan hanya penguasaan teknologi informasi, tetapi juga kecerdasan spiritual dalam menyampaikan pesan dakwah secara bijak di ruang digital.

Hal ini ditegaskan pula dalam Surah An-Nahl 125:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”

Ayat ini mengajarkan bahwa dalam berdakwah, kita mesti memperhatikan metode, gaya bahasa, serta pendekatan yang sesuai dengan akal dan budaya khalayak. Tugas kita adalah menyampaikan, bukan memaksakan. Maka, media digital bukan semata alat komunikasi, tetapi medan dakwah yang menuntut kearifan dan kelembutan.

Siapakah Ibadurrahman di Era Digital?

‘Ibadurrahman adalah sebutan bagi hamba-hamba Allah yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi, sekaligus piawai memanfaatkan ruang digital. Mereka menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah tauhid yang memancarkan nilai-nilai Islam: keramahan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi semesta.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Furqan 63:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan perkataan kasar), mereka mengucapkan ‘salam’.”

Inilah potret ‘Ibadurrahman—mereka yang santun dalam bersikap, sabar dalam menghadapi provokasi, dan cerdas dalam berdakwah, termasuk di dunia maya. Mereka tidak larut dalam arus viralitas yang merusak, tetapi justru menjadi pelita yang menerangi ruang digital dengan kebijaksanaan.

Mari, jadikan era digital ini sebagai ladang dakwah yang bijak. Tebarkan nilai-nilai Islam dengan kearifan spiritual dan keilmuan yang mumpuni, agar dunia semakin mengenal dan mencintai Islam—bukan hanya sebagai agama, tetapi sebagai jalan hidup yang menentramkan. Wallahualam!

(Ridwan Ma’ruf)

Related Articles

Back to top button