Al Qur'an

Mengapa Al Quran Mengajar Manusia Melalui Pertanyaan?

Salafusshalih.com – Wahyu tidak hanya turun dalam bentuk doktrin atau pernyataan final, tetapi juga dalam bentuk pertanyaan yang mengguncang kesadaran manusia. Seolah-olah Al-Qur’an sedang mengajari manusia cara berpikir, bukan sekadar memberi informasi.

Banyak ayat berbentuk pertanyaan:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Tidakkah kalian berpikir?”

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?”

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

“Maka ke mana kalian akan pergi?”

هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ

“Adakah pencipta selain Allah?”

أَفِي اللَّهِ شَكٌّ

“Apakah terhadap Allah masih ada keraguan?”

Secara epistemologis, ini sangat dalam.

Al-Qur’an tidak memperlakukan manusia seperti robot penerima data, tetapi sebagai subjek sadar yang harus:

  • berpikir
  • merenung
  • mempertanyakan
  • menemukan jawaban.

Menariknya, pertanyaan-pertanyaan itu sering kali sekaligus membawa arah jawabannya.

Misalnya:

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan bagi kebaikan selain kebaikan pula.”

Secara bentuk itu pertanyaan, tetapi hakikatnya adalah penegasan nilai moral.

Atau:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?”

Ini adalah pertanyaan retoris, tetapi di dalamnya sudah terkandung jawaban teologis dan spiritual.

Maka wahyu bekerja dengan dua cara sekaligus:

  • membangunkan akal melalui pertanyaan
  • membimbing akal melalui jawaban

Inilah perbedaan mendasar antara epistemologi Al-Qur’an dan skeptisisme modern ekstrem.

Dalam sebagian filsafat modern, pertanyaan kadang dibiarkan menggantung tanpa ujung:

  • semua diragukan
  • semua dipertanyakan
  • tetapi tidak ada kepastian final

Sedangkan Al-Qur’an:

  • membuka ruang berpikir
  • menghidupkan nalar
  • mengajak dialog
  • tetapi juga memberi arah kepada kebenaran

Karena tujuan wahyu bukan membuat manusia tenggelam dalam kebingungan intelektual, melainkan membimbingnya menuju hudā (petunjuk).

Bahkan bisa dikatakan:

  • pertanyaan dalam filsafat modern sering berujung pada problem
  • sedangkan pertanyaan dalam Al-Qur’an diarahkan menuju hidayah.

Dan ini sangat penting: Al-Qur’an bukan hanya memberi jawaban atas pertanyaan manusia, tetapi juga mengajari manusia pertanyaan apa yang seharusnya ditanyakan.

Karena tidak semua pertanyaan membawa manusia kepada kebenaran.

Ada pertanyaan yang lahir dari kesombongan, ada yang lahir dari hawa nafsu, ada pula yang lahir dari pencarian hakiki.

Maka wahyu mendidik struktur kesadaran manusia:

  • bagaimana berpikir
  • bagaimana bertanya
  • dan ke mana jawaban harus bermuara

Itulah sebabnya wahyu pertama adalah:

اقْرَأْ
“Bacalah.”

Bukan sekadar perintah membaca teks, tetapi pembukaan gerbang kesadaran epistemologis bagi manusia:

  • membaca alam
  • membaca diri
  • membaca sejarah
  • membaca makna
  • membaca semuanya dengan cahaya Tuhan.

(Muhammad Hidayatulloh)

Related Articles

Back to top button