Miskin Sombong, Kaya Bermasalah

Salafusshalih.com – Miskin sombong, kaya bermasalah menggambarkan dua bentuk perilaku atau kondisi manusia yang dinilai tercela secara moral, sosial, maupun agama.
Dalam ajaran Islam, orang miskin yang sombong merupakan salah satu golongan yang dibenci dan dimurkai oleh Allah Ta’ala. Miskin bukan aib. Menjadi aib kalau muncul sifat sombong. Malah menjadi berlipat ganda aibnya. Sudah miskin, sombong lagi. Apa yang disombongkan?
Orang kaya bermasalah adalah kondisi ketika seseorang memiliki kelimpahan harta tetapi kehidupannya dipenuhi dengan masalah moral, pelanggaran hukum, korupsi, atau kikir. Ciri yang tampak pada orang kaya bermasalah seperti suka pamer harta (flexing), arogan terhadap orang kecil, mengabaikan etika, dan sering terlibat masalah hukum, gaya hidup berlebihan.
Orang miskin sombong biasanya karena ingin gengsi tinggi, malu menerima kenyataan, enggan dibantu, serta sering memamerkan hal semu yang tidak sesuai dengan realitas.
Fase Perubahan
Sesungguhnya setiap manusia pernah mengalami pada dua fase. Kesuksesan dan kegagalan. Dua fase tersebut senantiasa melekat dan hadir di kehidupan setiap manusia.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam surah Ali Imran ayat 140 :
وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ ٱللَّهُٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَآءَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ ………
Demikian itulah masa (kesuksesan dan kegagalan) Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikanNya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.
Dunia ini dipenuhi dengan perkara dan peristiwa yang tidak pernah menetap. Terkadang sesuatu menjadi tinggi derajatnya lantas jatuh. Kekayaan seketika bisa berubah menjadi kemiskinan. Juga sebaliknya miskin mendadak jadi kaya.
Semua di dunia ini pasti berubah. Yang tidak berubah hanya perubahan itu sendiri. Itu maksud dari firman Allah Ta’ala pada ayat di atas. Masa kesuksesan dan kegagalan itu digilirkan di antara manusia, agar mereka mau mengambil pelajaran dengan bijak di dalam menapaki kehidupan dunia yang fana ini.
Makhluk Sombong Pertama
Makhluk yang pertama sombong adalah iblis. Mereka dari kelompok jin. Sifat sombong muncul ketika menolak menghormati Nabi Adam, makhluk baru yang diciptakan Allah. Iblis merasa lebih senior dan hebat.
Allah berfirman dalam surah Al-Araf ayat 12
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ
Allah berfirman, apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu? Menjawab iblis:Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.
Maka Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Araf ayat 18.
قَالَ ٱخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَّدْحُورًا ۖ لَّمَن تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكُمْ أَجْمَعِينَ
Allah berfirman: keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya.
Iblis takabur karena merasa lebih hebat diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah. Dia lupa padahal semuanya makhluk Allah yang tergantung kepada penciptanya.
Merasa diri lebih mulia, lebih pintar, atau lebih baik dari orang lain adalah penyakit. Dalam Islam, kekayaan bukanlah tanda kecintaan Allah, melainkan sebuah amanah dan ujian. Kemiskinan juga bukan tanda kebenciaan Allah kepada hamba melainkan ujian.
Orang pun pada berseloroh kalau sama-sama, ujian lebih enak memilih ujian menjadi kaya daripada ujian kemiskinan. Kalau berhasil mengatasi ujian sama-sama masuk surga. Beruntungnya tidak pernah menderita di dunia. Kalau gagal orang kaya tetap beruntung pernah menikmati kekayaan.
Orang kaya bermasalah ketika gagal mengelola titipan kekayaan sesuai syariat Islam. Merasa kekayaan yang diperoleh karena kecerdasan, kerja keras, atau kehebatan dirinya, bukan karena kemurahan Allah.
Sedangkan kesombongan orang miskin muncul dalam bentuk tidak mau menerima nasihat, merasa diri paling menderita sehingga berhak melanggar aturan, atau enggan berusaha karena gengsi yang tinggi.
Solusi Mengatasi Sombong
Solusinya agar orang miskin tidak sombong, dan orang kaya tidak bermasalah dalam menggunakan harta adalah audit kehalalan sumber harta.
Periksa kembali apakah ada unsur riba, manipulasi, atau hak orang lain yang terzalimi dalam bisnis atau pekerjaan yang diperoleh.
Jika ada, segera tinggalkan dan lakukan taubat nasuha. Harta yang tidak berkah cenderung mendatangkan masalah fisik maupun psikologis.
Menjaga diri dari makanan haram memberikan banyak manfaat penting bagi kesehatan fisik, ketenangan jiwa, dan diterima atau tidaknya amal ibadah seseorang.
Menjauhi makanan haram menghindarkan hati dari kegelapan, rasa malas, serta noda hitam yang mengeraskan nurani sehingga sulit menerima nasihat.
Miskin sombong caranya dengan membuang gengsi. Berhenti memaksakan gaya hidup di luar kemampuan demi pujian manusia. Tidak gengsi melakukan pekerjaan yang dianggap rendah.
Keadaan ekonomi tidak menentukan derajat seseorang di mata Allah Ta’ala. Derajat kemuliaan itu adalah takwa. Islam memandang mulia segala jenis pekerjaan asalkan halal, meskipun secara sosial dianggap rendah atau kasar seperti mencari kayu bakar.
Kesimpulan
Islam tidak melarang orang menjadi kaya dan tidak menghinakan orang yang miskin. Hikmah terbesar dari spiritual Islam adalah menjadikan kaya dan miskin sebagai jalan takwa.
Orang miskin menjadi mulia dengan kesabaran dan kerendahan hatinya, sedangkan orang kaya menjadi mulia dengan kesyukuran dan kedermawanannya.
Keduanya akan bermuara pada ketenangan jiwa yang sama di hadapan Allah Ta’ala. Wallaahu ’alamu bishshawwab.
(Ridwan Ma’ruf)


