Bekerja Bukan Sekedar Mencari Rezeki

Salafusshalih.com – Kadang kita merasa lelah dengan pekerjaan yang dijalani setiap hari. Berangkat sejak pagi, pulang menjelang malam, bahkan tidak jarang harus lembur hingga tubuh benar-benar kehabisan tenaga. Waktu lebih banyak dihabiskan di tempat kerja dibandingkan di rumah sendiri. Hari libur pun terkadang terasa hanya numpang lewat untuk beristirahat sebelum kembali menghadapi rutinitas yang sama.
Tidak sedikit pekerja lapangan yang harus bertahan di tengah panas, hujan, kemacetan, dan tekanan pekerjaan yang datang silih berganti. Ada yang belum sempat sarapan, tetapi sudah harus berangkat pagi. Ada yang harus berdiri berjam-jam demi menyelesaikan pekerjaan. Ada pula yang baru benar-benar bisa merebahkan tubuh ketika malam sudah terlalu larut.
Kadang rasa lelah itu membuat seseorang mulai bertanya-tanya tentang hidupnya sendiri. Mengapa hampir seluruh waktu habis untuk bekerja? Mengapa hari terasa begitu cepat berlalu antara perjalanan, pekerjaan, dan rasa lelah yang terus berulang? Tidak sedikit orang yang akhirnya menjalani pekerjaan hanya sebagai rutinitas tanpa benar-benar memahami makna dari apa yang sedang dijalani.
Di tengah rutinitas yang melelahkan itu, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, sebenarnya untuk apa kita bekerja?
Sebagian besar orang mungkin akan menjawab untuk mencari rezeki. Jawaban itu memang tidak sepenuhnya salah. Namun, sebagai seorang muslim, kita juga meyakini bahwa Allah Swt. telah mengatur rezeki setiap makhluk-Nya.
Allah Swt. berfirman yang artinya:
“Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”
(QS. Hud: 6)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa rezeki bukan sesuatu yang hadir semata karena kuatnya tenaga manusia. Rezeki sudah menjadi bagian yang Allah tetapkan bahkan sebelum manusia dilahirkan ke dunia. Selama seseorang masih diberi kehidupan, selama itu pula Allah tetap membuka jalan rezeki baginya.
Namun sayangnya, banyak orang memahami rezeki hanya sebatas uang dan pekerjaan. Padahal, rezeki memiliki bentuk yang jauh lebih luas. Tubuh yang sehat, keluarga yang masih lengkap, kesempatan bekerja, hati yang tenang, hingga kemampuan untuk bertahan dalam hidup juga termasuk bagian dari rezeki yang Allah berikan.
Karena itu, ketika seseorang masih mampu bangun pagi untuk bekerja, sebenarnya ada banyak nikmat yang sedang Allah titipkan kepadanya. Kaki yang masih kuat melangkah, tubuh yang masih sanggup bergerak, pikiran yang masih dapat digunakan, serta kesempatan untuk terus berusaha merupakan nikmat yang sering kali luput dari rasa syukur.
Lalu, jika rezeki sudah diatur oleh Allah, mengapa manusia tetap harus bekerja?
Di sinilah banyak orang sering salah memahami makna bekerja. Bekerja bukan hanya soal mengejar uang atau memenuhi kebutuhan hidup semata. Lebih dari itu, bekerja juga dapat menjadi bentuk syukur seorang hamba kepada Allah Swt.
Kita bekerja karena Allah masih memberi kesehatan pada tubuh kita. Kita masih memiliki tenaga, kemampuan, dan keterampilan untuk digunakan. Tidak semua orang memiliki nikmat tersebut.
Ada orang yang ingin bekerja, tetapi terhalang sakit. Ada yang ingin membantu keluarganya, tetapi belum diberi kesempatan. Ada pula yang memiliki semangat besar untuk mencari nafkah, tetapi keadaan hidup belum memudahkannya. Di luar sana, banyak orang yang sedang berjuang mendapatkan pekerjaan, sementara sebagian lainnya sedang berjuang mempertahankan pekerjaan yang dimiliki hari ini.
Karena itu, saat hari ini kita masih memiliki pekerjaan dan masih mampu menjalankannya, sebenarnya ada alasan besar untuk bersyukur.
Allah Swt. berfirman yang artinya:
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’”
(QS. Ibrahim: 7)
Bersyukur ternyata bukan hanya tentang mengucapkan “Alhamdulillah” setelah mendapat sesuatu yang menyenangkan. Bersyukur juga berarti menggunakan nikmat yang Allah berikan dengan jalan yang baik. Tenaga dipakai untuk bekerja yang halal, kemampuan digunakan untuk membantu keluarga, dan waktu dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat.
Dalam kehidupan sehari-hari, rasa syukur sering kali hilang karena manusia terlalu sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain. Media sosial membuat seseorang mudah merasa kurang. Melihat orang lain tampak sukses, hidup nyaman, atau memiliki pekerjaan yang lebih baik terkadang membuat hati lupa melihat nikmat yang sudah dimiliki.
Padahal, belum tentu kehidupan yang terlihat menyenangkan di media sosial benar-benar seindah kenyataannya. Banyak orang yang tampak bahagia di luar, tetapi diam-diam sedang menyimpan masalah dan kelelahan hidupnya sendiri.
Karena itu, saat pulang kerja dengan tubuh lelah, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan melihat hidup dengan lebih tenang. Masih bisa bekerja, masih memiliki penghasilan, masih diberi kesehatan, dan masih ada keluarga yang menunggu di rumah merupakan nikmat yang tidak dimiliki semua orang.
Rasa lelah dalam bekerja sebenarnya tidak selalu buruk. Bisa jadi rasa lelah tersebut justru menjadi tanda bahwa seseorang sedang berusaha menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Dalam Islam, bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga termasuk bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal.
Mungkin itulah sebabnya Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hanya berpangku tangan menunggu rezeki datang. Islam mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar. Rezeki memang sudah Allah atur, tetapi manusia tetap diperintahkan untuk berusaha dan memanfaatkan nikmat yang telah diberikan kepadanya.
Jadi, ketika esok pagi kita kembali berangkat bekerja dan menjalani rutinitas yang sama, jangan hanya melihatnya sebagai beban hidup semata. Bisa jadi, itu adalah salah satu cara kita bersyukur kepada Allah atas nikmat kehidupan yang masih diberikan sampai hari ini.
Wallahu a‘lam bi ash-shawab.
(Andry Setyawan)



