Tsaqofah

Carilah Ridha Allah, Jangan Goyah Oleh Penilaian Manusia!

Salafusshalih.com – Dalam perjalanan hidup, manusia sering dihadapkan pada persimpangan antara keyakinan yang lahir dari iman dengan bisikan sangkaan manusia yang sering kali menyesatkan.

Tak sedikit orang yang akhirnya kehilangan prinsip, meninggalkan jalan yang lurus, hanya karena ingin mengikuti penilaian manusia. Padahal, rida Allah jauh lebih utama daripada penilaian makhluk.

Keyakinan adalah anugerah besar yang Allah tanamkan dalam hati orang-orang beriman. Allah ﷻ berfirman:

وَلَكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِي قُلُوبِكُمۡ وَكَرَّهَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكُفۡرَ وَٱلۡفُسُوقَ وَٱلۡعِصۡيَانَ ۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ

“Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada iman dan menghiasinya dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (Al-Hujurat: 7)

Namun dalam kenyataan, banyak orang mudah tergoyahkan oleh sangkaan orang. Kadang karena ingin diterima, kadang karena takut dicela. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَرْضَى اللَّهَ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ، وَمَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

“Barang siapa mencari rida Allah meskipun manusia murka, Allah akan meridai dan membuat manusia pun rida kepadanya. Dan barang siapa mencari rida manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya dan membuat manusia pun murka kepadanya.” (H.R. Ibn Hibban)

Hadis ini adalah panduan besar bagi setiap muslim: jangan pernah menggadaikan iman demi citra di mata manusia. Sebab manusia tidak memiliki kuasa memberi manfaat maupun menolak mudarat. Allah ﷻ berfirman:

إِن يَنصُرۡكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمۡۖ وَإِن يَخۡذُلۡكُمۡ فَمَن ذَا ٱلَّذِي يَنصُرُكُم مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ

“Jika Allah menolong kamu, maka tak ada seorang pun yang dapat mengalahkanmu. Tetapi jika Allah membiarkanmu, maka siapa yang dapat menolongmu selain dari-Nya? Karena itu hendaklah orang-orang mukmin bertawakal hanya kepada Allah.” (Ali Imran: 160)

Contoh Nyata Dalam Kehidupan Modern

Di era modern, “sangkaan manusia” sering hadir dalam wujud baru yang halus tapi berbahaya.

  • Dalam gaya hidup. Ada orang yang merasa harus selalu tampil mewah di depan teman atau tetangga, meski sebenarnya terjerat utang. Ia takut dicap sederhana, padahal kesederhanaan jauh lebih dekat dengan sunah. Menjaga keyakinan berarti berani hidup sesuai kemampuan tanpa malu, karena Allah menilai hati, bukan penampilan.
  • Dalam pekerjaan. Seorang karyawan bisa saja tergoda untuk ikut korupsi atau manipulasi data karena tekanan rekan kerja atau atasan. Ia takut dianggap “tidak kompak” bila menolak. Namun seorang mukmin yang teguh sadar bahwa rida Allah lebih berharga daripada penilaian manusia, walau harus dianggap aneh atau keras kepala.
  • Dalam media sosial. Banyak orang mengatur kontennya agar selalu terlihat bahagia, sukses, dan sempurna. Mereka takut dinilai gagal bila tampil apa adanya. Padahal hidup yang penuh kepura-puraan hanya mengikis ketenangan hati. Menjaga keyakinan berarti berani jujur, menggunakan media sosial untuk kebaikan, bukan untuk mencari validasi yang fana.
  • Dalam pergaulan anak muda. Ada yang ikut-ikutan tren joget TikTok atau challenge berbahaya hanya karena takut disebut “ketinggalan zaman”. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda: «لَا تَكُنْ إِمَّعَةً…» – jangan menjadi orang tanpa pendirian. Berani berbeda demi iman adalah bentuk kehormatan.

Sangkaan manusia sering kali tidak lebih dari prasangka buruk yang tidak berdasar. Allah ﷻ memperingatkan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Sayangnya, ada orang yang bukan hanya berprasangka, tetapi hidupnya digerakkan oleh penilaian orang lain. Setiap langkahnya diukur dengan “apa kata orang”. Sehingga ia kehilangan pijakan iman. Ibnu ‘Atha’illah dalam kitab Al-Hikam menegaskan: “Sebodoh-bodoh manusia adalah orang yang meninggalkan keyakinannya karena mengikuti sangkaan orang-orang.” Ini adalah tamparan keras bagi mereka yang mudah goyah.

Rasulullah ﷺ pun mengingatkan bahwa di antara tanda kelemahan iman adalah mencari pengakuan manusia dengan mengorbankan kebenaran. Dalam hadis disebutkan:

لَا يَكُونُ أَحَدُكُمْ مُؤْمِنًا حَتَّى يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

“Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya.” (H,R. Bukhari dan Muslim)

Maka seorang mukmin sejati adalah yang meneguhkan hatinya pada rida Allah, walau seluruh manusia menentangnya. Ia sadar bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah yang setuju, melainkan oleh kesesuaian dengan wahyu. Allah ﷻ berfirman:

وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan belaka, dan mereka hanyalah berdusta.” (Al-An’am: 116)

Ayat ini menegaskan bahwa kebenaran bukanlah hasil voting manusia. Bahkan kebanyakan manusia bisa jadi salah jika hanya mengikuti prasangka. Maka janganlah sekali-kali kita tinggalkan kebenaran hanya untuk menuruti suara mayoritas yang salah arah.

Hidup dengan keyakinan berarti hidup dengan keberanian. Berani berbeda bila harus, berani teguh saat goyah, dan berani mengatakan benar meski pahit. Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا تَكُنْ إِمَّعَةً، تَقُولُ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنْتُ، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْتُ، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا»

“Janganlah kalian menjadi orang yang tidak punya pendirian, yang berkata: ‘Jika orang berbuat baik, aku pun berbuat baik. Jika mereka berbuat zalim, aku pun ikut berbuat zalim.’ Tetapi biasakanlah diri kalian: jika orang berbuat baik, kalian pun berbuat baik; dan jika mereka berbuat buruk, janganlah kalian berbuat zalim.” (H.R. Tirmidzi)

Inilah pesan yang sejalan dengan hikmah Ibnu ‘Atha’illah: jangan pernah kehilangan pendirian karena ikut-ikutan. Sebab orang yang kehilangan pendirian sejatinya kehilangan jati diri.

Lalu bagaimana cara agar kita bisa teguh di atas keyakinan? Pertama, perbanyak doa agar Allah meneguhkan hati. Rasulullah ﷺ sering berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (H.R. Tirmizi)

Kedua, dekatkan diri dengan Al-Qur’an dan sunah. Jadikan keduanya sebagai kompas, bukan opini manusia. Ketiga, bertemanlah dengan orang-orang saleh yang menguatkan iman, bukan yang meruntuhkannya.

Dengan itu, kita akan terhindar dari kebodohan yang disebutkan Ibnu ‘Atha’illah: meninggalkan keyakinan demi sangkaan manusia. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang teguh, berprinsip, dan berani menjaga kebenaran walau dunia menentang.

(Dwi Taufan Hidayat)

Related Articles

Back to top button