Dakwah Atau Perang Algoritma?
Salafusshalih.com – Hari ini kita hidup di zaman yang aneh: dakwah makin ramai, tetapi pemahaman makin sempit. Kajian agama menjamur di mana-mana—masjid, musala, kampus, komunitas hijrah, bahkan kafe kekinian.
Tidak cukup di ruang nyata, dakwah digital pun membanjiri ruang maya: Instagram, TikTok, YouTube, hingga podcast spiritual.
Setiap hari kita menyaksikan ribuan potongan video ceramah viral. Judul-judulnya bombastis:
-
“Amalan Ini Langsung Masuk Surga!”
-
“Kalau Kamu Lakukan Ini, Habis Sudah Imanmu!”
-
“Golongan Ini Pasti Masuk Neraka!”
Seruan-seruan itu cepat menyebar, memancing emosi, dan menggiring jutaan orang untuk memilih “siapa ustaz kita” dan “siapa kelompok kita”. Ironisnya, semakin banyak kajian, semakin tajam perpecahan. Semakin banyak dai, semakin kuat polarisasi.
Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Apakah ini tanda kebangkitan agama atau justru kegaduhan spiritual?
Apakah kita makin dekat dengan Allah atau makin jauh dari persaudaraan?
Apakah dakwah menjadi jalan pencerahan atau hanya arena perang algoritma?
Dakwah Jadi Konten, Ustadz Jadi Influencer
Era digital telah mengubah wajah dakwah. Jika dulu keulamaan dinilai dari kedalaman ilmu dan sanad, kini popularitas lebih ditentukan oleh jumlah views, likes, dan subscribers.
Dulu, orang mengaji kepada ulama mursyid dengan proses panjang, bertahun-tahun, penuh kesabaran. Kini, cukup scroll TikTok 30 detik, seseorang merasa sudah “paham Islam”. Fenomena ini melahirkan ustaz-ustaz instan, bukan dari madrasah keilmuan, melainkan dari algoritma.
Media sosial punya logika sendiri: konten kontroversial lebih cepat naik peringkat. Maka, strategi sebagian pendakwah adalah membuat judul sensasional, membakar emosi, dan memancing debat. Semakin panas konfliknya, semakin tinggi engagement-nya, semakin besar pula peluang monetisasi.
Makna dakwah pun bergeser:
-
Dari proses mendidik → menjadi perlombaan menarik perhatian.
-
Dari upaya mencerdaskan → menjadi ajang memenangkan algoritma.
-
Dari ruang pencerahan → menjadi medan perang opini.
Padahal Rasulullah saw. mengingatkan dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim:
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba-Nya, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu; maka mereka sesat dan menyesatkan.”
Apakah kita sedang menuju zaman itu—saat penceramah viral menggantikan ulama berotoritas.
Fragmentasi Umat: dari Masjid ke Lini Masa
Fenomena ini tidak hanya memecah ruang digital, tetapi juga merembes ke ruang sosial.
Komunitas kajian agama kini terbentuk bukan sekadar berdasarkan mazhab atau tradisi fikih, tetapi berbasis identitas digital. Umat semakin terbelah:
-
“Kami pengikut ustaz A, yang paling murni sunnahnya.”
-
“Kami pengikut ustaz B, yang paling moderat dan rasional.”
-
“Kami komunitas hijrah, paling syar’i, paling kaffah.”
Sayangnya, semangat beragama sering berubah menjadi semangat berkelompok. Orang lebih sibuk membela figur daripada memperdalam agama. Islam yang seharusnya menjadi pemersatu justru berubah menjadi identitas pemisah.
Padahal Al-Qur’an menegaskan dalam QS. Ali ‘Imran [3]:103:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
Namun, di era dakwah digital, bercerai-berai justru menjadi kenyataan sehari-hari. Linimasa media sosial berubah menjadi medan tempur wacana:
-
Setiap kelompok merasa paling benar.
-
Setiap pendakwah menyerang pendakwah lain.
-
Setiap konten diseret ke arena debat publik.
Dakwah kehilangan akhlaknya. Islam kehilangan kelembutannya.
Psikologi Massa Digital
Mengapa umat mudah terbelah? Karena di era serba cepat, manusia menginginkan jawaban instan. Konten agama yang pendek, emosional, dan penuh kepastian lebih disukai daripada kajian panjang yang penuh nuansa.
Akibatnya, umat lebih percaya potongan hadis daripada memahami metodologi penafsiran hadis. Lebih yakin pada kutipan motivasi agama daripada membaca kitab tafsir.
Fenomena ini menimbulkan ilusi pengetahuan: merasa tahu padahal belum paham, merasa paham padahal keliru. Maka, perdebatan di kolom komentar bisa lebih panas daripada diskusi kitab di pesantren.
Parahnya, algoritma media sosial membentuk echo chamber—ruang gema digital yang membuat kita hanya melihat konten yang sejalan dengan keyakinan kita. Jarang ada pertemuan dengan pandangan berbeda, apalagi belajar memahaminya. Akibatnya:
-
Empati menipis.
-
Dialog mati.
-
Perbedaan jadi bahan konflik, bukan rahmat.
Lalu muncullah paradoks besar: dakwah melimpah, pencerahan langka.
Jalan Keluar Dari Perang Algoritma
Mengapa semakin banyak ustaz, umat tidak semakin dewasa? Karena orientasi dakwah bergeser:
-
Ustaz bicara untuk viral, bukan untuk memahamkan.
-
Umat mencari validasi kelompok, bukan kebenaran ilahi.
-
Media sosial memproduksi kehebohan, bukan kebijaksanaan.
Padahal Allah berfirman dalam An-Nahl:125: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
Namun hari ini, hikmah kalah oleh algoritma. Konten yang mendamaikan tenggelam, sementara yang kontroversial justru viral.
Apakah kita hanya akan menjadi korban perang algoritma? Tidak. Masih ada jalan keluar:
-
Kembali ke sanad keilmuan – menuntut ilmu dari ulama otoritatif, bukan sekadar ustaz viral.
-
Mengajarkan metodologi, bukan potongan dalil – pemahaman agama harus bertumpu pada ushul fikih, maqasid syariah, dan tafsir mendalam.
-
Membangun literasi digital keagamaan – mengajarkan cara memilah konten dakwah, bukan sekadar mengonsumsi.
-
Menghidupkan dialog, bukan debat – menjadikan dakwah jembatan, bukan tembok pemisah.
-
Mengembalikan hikmah sebagai ruh dakwah – ukuran keberhasilan bukan jumlah pengikut, melainkan kualitas akhlak umat.
Kita sedang hidup di zaman paradoks: kajian menjamur, tetapi kebijaksanaan langka; ustaz bertambah, tetapi ulama menipis; konten agama melimpah, tetapi pemahaman dangkal.
Jika tidak berhati-hati, umat ini akan terus terbelah oleh algoritma, terseret perang konten, dan melupakan esensi dakwah: mendekatkan manusia kepada Allah dan memuliakan perbedaan.
Maka, saatnya mengubah cara beragama: dari fanatisme menuju literasi, dari kegaduhan menuju pencerahan, dari algoritma menuju hikmah.
(Dr. Aji Damanuri, M.E.I.)



