Dalil Katanya

Salafusshalih.com – Di era media sosial, membentuk opini tentang seseorang menjadi sangat mudah. Hanya melalui satu unggahan, satu potongan video, atau cerita dari orang lain, kita merasa telah mengenal karakter seseorang secara utuh.
Tanpa pernah bertemu, tanpa pernah berdialog, bahkan tanpa pernah berinteraksi, kita sudah berani memberikan penilaian. Hanya pakai dalil katanya.
Katanya dia sombong. Katanya dia tidak amanah. Katanya dia pernah berbuat begini dan begitu.
Kata demi kata berpindah dari satu orang ke orang lain hingga berubah menjadi sesuatu yang dianggap sebagai kebenaran, padahal belum tentu demikian. Itulah runyamnya dalil katanya.
Karena itulah pesan yang disampaikan Gus Ma’shum Faqih, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus salah satu masyayikh Pondok Pesantren Langitan, layak menjadi renungan bersama: Jangan membenci orang karena katanya. Kenali seseorang lewat interaksi, bukan lewat testimoni orang lain. Sebab apa yang kita dengar sering kali hanyalah separuh cerita.”
Kalimat sederhana ini sesungguhnya mengandung hikmah yang sangat dalam. Islam mengajarkan agar seorang mukmin bersikap adil dalam menilai orang lain. Penilaian yang lahir dari prasangka atau cerita sepihak sangat rentan melahirkan kezaliman.
Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini tidak melarang manusia berpikir kritis, tetapi mengingatkan agar tidak menjadikan prasangka sebagai dasar dalam mengambil kesimpulan. Sebab prasangka lahir ketika informasi belum lengkap, sedangkan keputusan sudah terlanjur dibuat.
Lebih jauh lagi, Allah juga berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini menjadi prinsip penting dalam kehidupan sosial. Setiap informasi harus diverifikasi sebelum dipercaya, apalagi sebelum disebarkan. Sebab satu berita yang tidak benar dapat merusak nama baik seseorang, memutus persaudaraan, bahkan menimbulkan permusuhan yang berkepanjangan.
Tiga Versi Penilaian
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit hubungan yang rusak hanya karena mendengar cerita dari pihak lain.
Persahabatan retak karena fitnah. Hubungan keluarga renggang karena kabar yang belum tentu benar. Bahkan di lingkungan kerja dan organisasi, banyak konflik berawal dari informasi yang tidak pernah dikonfirmasi.
Setiap manusia memiliki sudut pandang yang berbeda. Apa yang diceritakan seseorang tentang orang lain sering kali dipengaruhi oleh pengalaman pribadinya, emosinya, bahkan kepentingannya. Akibatnya, kita hanya menerima satu sisi cerita, sementara sisi yang lain tidak pernah kita dengarkan.
Ada pepatah yang mengatakan, “Setiap cerita selalu memiliki tiga versi: versimu, versiku, dan versi yang sebenarnya.” Karena itu, kebijaksanaan menuntut kita untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
Rasulullah saw. memberikan teladan luar biasa dalam menyikapi manusia. Beliau tidak mudah menghakimi hanya berdasarkan laporan. Beliau mendengar, mengklarifikasi, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk menjelaskan keadaannya. Sikap seperti inilah yang melahirkan keadilan.
Imam Syafi’i pernah berpesan, “Barang siapa menasihatimu secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar telah menasihatimu. Namun siapa yang menasihatimu di hadapan banyak orang, maka sesungguhnya ia sedang mempermalukanmu.”
Nasihat ini mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan orang lain. Islam tidak mengajarkan budaya membuka aib, apalagi membangun kebencian berdasarkan cerita yang belum jelas kebenarannya.
Di era digital, pesan ini menjadi semakin relevan. Media sosial sering kali menghadirkan potongan-potongan kehidupan seseorang. Satu video berdurasi beberapa detik bisa mengubah citra seseorang di mata publik.
Padahal konteksnya belum tentu dipahami secara utuh. Algoritma media sosial pun cenderung mempercepat penyebaran informasi yang sensasional dibandingkan informasi yang mendalam.
Karena itu, seorang muslim dituntut memiliki kedewasaan dalam bermedia. Tidak mudah percaya, tidak mudah membenci, dan tidak mudah menyebarkan sesuatu yang belum jelas. Hindari pakai dalil katanya.
Perbanyak Husnuzan
Salah satu bentuk akhlak yang mulai langka adalah husnuzan, berbaik sangka. Berbaik sangka bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan, tetapi memilih tidak menjatuhkan vonis sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya.
Begitu pula dalam pergaulan. Mengenal seseorang melalui interaksi langsung akan memberikan pemahaman yang jauh lebih utuh daripada sekadar mendengar penilaian orang lain. Mungkin seseorang terlihat pendiam, tetapi ternyata rendah hati. Mungkin ada yang tampak tegas, tetapi sesungguhnya sangat penyayang. Sebaliknya, ada pula yang terlihat ramah di depan, tetapi berbeda ketika tidak ada yang melihat.
Karakter seseorang tidak dapat diukur hanya dari satu cerita atau satu peristiwa. Ia dikenali melalui konsistensi sikap, integritas, dan interaksi yang berlangsung dalam waktu yang cukup.
Maka sebelum membenci seseorang karena cerita yang kita dengar, berhentilah sejenak. Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah aku benar-benar mengenalnya? Ataukah aku hanya mengenal cerita tentang dirinya?”
Sebab bisa jadi yang kita benci bukanlah orangnya, melainkan persepsi yang dibangun oleh orang lain.
Menjaga hati dari prasangka adalah bagian dari menjaga persaudaraan. Dunia sudah terlalu gaduh oleh kebencian yang lahir dari informasi yang tidak utuh. Jangan ikut menambahnya dengan penilaian yang tergesa-gesa.
Mari belajar mengenal manusia melalui akhlaknya, melalui interaksi yang jujur, dan melalui pengalaman yang nyata. Sebab apa yang kita dengar sering kali hanyalah separuh cerita, sedangkan keadilan hanya lahir ketika kita bersedia melihat keseluruhan kisah.
Karena itu, jangan membenci seseorang karena katanya. Kenalilah ia sebagaimana adanya. Sebab Islam mengajarkan kita untuk berlaku adil, bahkan kepada orang yang belum kita sukai. Itulah akhlak yang menjaga hati tetap bersih dan persaudaraan tetap utuh.
(Ansorul Hakim)



