Kunci Membangun Rumah Tangga yang Harmonis: Menghindari Toxic Relationship dalam Keluarga
Salafusshalih.com – Setiap di antara kita pasti menginginkan jalinan hubungan yang sehat, baik dalam pertemanan di lingkungan kerja, lingkungan tempat tinggal, maupun di dalam keluarga itu sendiri.
Toxic relationship atau hubungan tidak sehat adalah hubungan yang dalam interaksinya membuat seseorang merasa tersakiti karena mengalami bullying (perundungan), marah-marah, memperlihatkan wajah cemberut saat berpapasan, serta ucapan kasar yang bisa berujung pada kekerasan mental maupun fisik.
Jika dibiarkan, hubungan yang tidak sehat ini dapat memengaruhi kesehatan psikis dan fisik seseorang, bahkan bisa berakhir pada kematian.
Sebagaimana kisah terbunuhnya Habil oleh kakaknya Qabil akibat toxic relationship, yang diceritakan Allah Ta’ala dalam Surah Al-Māidah 27:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban. Maka diterima dari salah seorang di antara mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.”
Demikian pula kisah Nabi Yusuf yang dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya karena dengki terhadap karunia Allah Ta’ala berupa wajah tampan, bakti kepada orang tua, dan ilmu pengetahuan, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Yusuf 10:
قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ ٱلْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ ٱلسَّيَّارَةِ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ
“Seseorang di antara mereka berkata, “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.”
Dua ayat tersebut menjadi dalil bahwa toxic relationship dalam keluarga sering kali muncul karena kurangnya keterbukaan komunikasi antara ayah, bunda, dan anak, serta sikap acuh tak acuh terhadap persoalan internal keluarga.
Anehnya, sikap ini cenderung mengedepankan amarah dalam menyelesaikan masalah, sehingga suasana rumah menjadi panas dan anggota keluarga tidak betah tinggal lama di dalam rumah. Mengapa? Karena rumah terasa seperti neraka.
Tips Mengatasi Toxic Relationship dalam Keluarga
Hubungan yang buruk dalam keluarga tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Setidaknya ada tiga solusi untuk mengatasinya:
1. Bermusyawarah
Jika terjadi ketegangan antara pasangan atau antara orang tua dan anak, salah satu pihak harus membuka diri untuk bermusyawarah atau berdiskusi ringan (santai, tidak tegang) guna mencari solusi bersama tanpa mengedepankan ego.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surah Ali Imran 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakalah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”
2. Jangan Mudah Baper
Sikap mudah tersinggung dan terlalu membawa perasaan cenderung membentuk pribadi yang temperamental. Umumnya, keluarga yang demikian mudah tersinggung, mudah marah, mudah curiga, dan jauh dari keramahan.
Padahal, keramahan sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw. sebagaimana sabdanya:
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam setiap urusan.” (H.R. Bukhari No. 6024; Muslim No. 2165).
3. Jangan Gemar Berutang
Salah satu pemicu hubungan buruk adalah kebiasaan berutang tanpa mempertimbangkan kemampuan mengembalikannya. Orang yang gemar berutang biasanya berdusta dan mengingkari janji.
Sebagaimana sabda Nabi: “Nabi Saw biasa berdoa di dalam salat, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan banyak utang.” Lalu ada yang bertanya, “Mengapa engkau sering meminta perlindungan dari utang?” Rasulullah bersabda, “Jika seseorang berutang, ia akan berdusta. Jika berjanji, ia akan mengingkari.” (H.R. Bukhari No. 2397; Muslim No. 589).
Karena itu, hindarilah kebiasaan berutang yang bisa merusak hubungan persaudaraan.
Kesimpulan
Toxic relationship atau hubungan bermuamalah yang buruk sangat dicela oleh Nabi Muhammad Saw, terlebih jika sampai menyebabkan putusnya tali persaudaraan.
Apalagi bila hidup satu rumah tetapi antaranggota keluarga saling berdiam diri tanpa komunikasi.
Sebagaimana sabda Nabi Saw.:
“Tidak halal bagi seorang Muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga malam. Mereka bertemu, lalu seseorang berpaling dan yang lain juga berpaling. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” (H.R. Bukhari No. 6077; Muslim No. 2560).
Jika ada persoalan yang mendesak dalam keluarga, jangan biarkan berlarut. Segera cari solusi bersama agar suasana keluarga menjadi harmonis. Hadapilah masalah dengan senyuman tanpa saling menyalahkan. Wallāhua‘lambisawāb.
(Ridwan Ma’ruf)



