Mujadalah

Menilik Jemaah Haji, Arab Saudi, dan Kewaspadaan Akan Wahabisasi

Salafusshalih.com – Naik haji merupakan ibadah yang sangat penting bagi umat Muslim di seluruh dunia. Setiap tahun, jutaan jemaah Muslim dari berbagai negara berkumpul di Tanah Suci, Makkah dan Madinah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Arab Saudi, memiliki peran krusial dalam menyelenggarakan ibadah tersebut. Namun, di balik urgensitas Saudi dalam haji, ada kekhawatiran besar: Wahabisasi. Bukankah Arab Saudi adalah sarang Wahabisme?

Arab Saudi, sebagai negara yang ingin dikunjungi umat Islam seluruh dunia untuk melengkapi perintah syariat, ternyata paham keislamannya didominasi Wahabisme. Paham tersebut menarasikan konservatisme Islam yang kuat. Wahabisme didasarkan pada ajaran dari Muhammad bin Abdul Wahab, ulama abad ke-18 yang kontroversial. Paham Wahabi menekankan ajaran Islam yang sangat literal dan kerap mengadopsi pendekatan yang kaku dan konservatif.

Menariknya, Saudi telah lama jadi pusat penyebaran paham Wahabi, yang ultra-konservatif. Dalam beberapa dekade terakhir, rezim Ibnu Saud telah menginvestasikan sumber daya signifikan untuk menyebarkan ajaran Wahabi ke berbagai negara di dunia. Siasat mereka ialah melalui lembaga pendidikan, masjid, lembaga amal, dan media. Meskipun tidak semua warga Saudi atau orang Arab itu pengikut Wahabi, peran negara tersebut meniscayakan kekhawatiran serius.

Logikanya, jika Arab Saudi rela menggelontorkan dana triliunan untuk proyek Wahabisasi, apakah mereka akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menebarkan Wahabisme kepada para tamu Allah yakni jemaah haji? Negara tersebut punya pengaruh besar dalam puritanisasi Muslim sedunia. Beberapa faktor yang menunjukkan seberapa besar Arab Saudi menjadi sarang Wahabisasi meliputi akomodasi finansial, propaganda media, hingga intrik politik. Maka, jemaah haji mesti waspada.

Peran Saudi dalam Wahabisasi

Ada beberapa hal yang dilakukan Arab Saudi untuk melancarkan Wahabisasi. Pertama, pembiayaan eksternal. Arab Saudi telah menggunakan kekayaan minyaknya untuk mendukung proyek-proyek pendidikan, pembangunan masjid, dan lembaga amal di berbagai negara. Pembiayaan tersebut kerap diarahkan ke proyek-proyek yang didukung oleh ajaran Wahabi, yang mengarah pada penyebaran paham tersebut di kalangan masyarakat yang lebih luas, termasuk Indonesia.

Kedua, lembaga pendidikan. Arab Saudi memiliki banyak lembaga pendidikan, seperti Universitas Islam Madinah dan Universitas King Saud, yang memiliki pengaruh kuat dalam menyebarkan ajaran Wahabi. Lembaga-lembaga tersebut selalu mengajarkan pendekatan interpretasi agama yang konservatif dan mendukung paham Wahabi. Gembong teroris dan pendiri Al-Qaeda, Osama bin Laden alumni Universitas King Saud. Di Indonesia, mereka punya LIPIA di Jakarta Selatan.

Ketiga, masjid dan imam. Masjid-masjid di Arab Saudi, terutama di Makkah dan Madinah, merupakan tempat utama ibadah bagi jutaan jemaah haji setiap tahun. Beberapa masjid di sana diisi dengan imam-imam yang mengajarkan paham Wahabi. Pada saat yang sama, pemerintah Arab Saudi memiliki kontrol yang kuat atas pengelolaan masjid-masjid tersebut, yang memungkinkan mereka untuk memengaruhi pengajaran Islam di dalamnya. Di luar Wahabisme, jelas dilarang.

Keempat, lembaga dakwah. Saudi juga memiliki lembaga-lembaga dakwah yang aktif menyebarkan paham Wahabi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Lembaga tersebut mencakup badan-badan seperti World Muslim League, yang berfokus pada penyebaran ajaran Wahabi dan membantu mendirikan masjid dan lembaga agama di berbagai negara. Tentu saja, nanti di dalamnya diselipkan ajaran Wahabi, bahkan kepengurusan lembaga itu sendiri adalah orang Wahabi.

Kelima, pengaruh politik. Arab Saudi sebagai kerajaan dengan sistem politik berbasis Islam telah menggunakan pengaruh politiknya untuk mempromosikan paham Wahabi. Hal itu dapat terlihat dalam kebijakan internal Saudi yang sarat dengan ajaran Wahabi, serta dukungan mereka terhadap gerakan dan kelompok yang terkait dengan paham tersebut di luar negeri. Pengaruh politik di sini bukan politik elektoral, tapi lebih pada non-elektoral.

Apakah Arab Saudi sebahaya itu? Tidak juga, tapi nyaris. Memang, tidak semua orang Arab Saudi atau penduduknya mengikuti Wahabisme. Terdapat berbagai kelompok masyarakat di dalam negeri yang memiliki pemahaman agama yang beragam. Ada juga gerakan reformis dan ulama yang berusaha untuk memperkenalkan pemahaman agama yang lebih moderat dan inklusif di Arab Saudi, seperti yang sedang digencarkan Pengeran Muhammad bin Salman. Namun begitu, waspada tetaplah harus.

Dampak Buruk Wahabisasi untuk Jemaah Haji

Dalam konteks jemaah haji, ada kekhawatiran serius terkait dampak dari penyebaran paham Wahabi yang dapat memengaruhi pengalaman spiritual mereka. Meskipun Arab Saudi berupaya untuk menyelenggarakan haji dengan baik dan memberikan pelayanan kepada jemaah, potensi Wahabisasi tersebut masih terbuka lebar. Beberapa masjid di Makkah dan Madinah jadi sarang paham Wahabi. Maka, jemaah haji mesti menjaga diri dari Wahabisasi.

Sebagai wujud waspada terhadap Wahabisasi, penting bagi jemaah dan pemerintah negara asal, dalam hal ini Indonesia, untuk memahami dan menghadapi potensi dan dampak buruk Wahabisme dengan benar. Pendidikan dan persiapan yang matang, sebagai contoh. Jemaah mesti punya pengetahuan yang cukup tentang Islam moderat dan inklusif. Mereka harus mampu membedakan antara nilai-nilai Islam yang sejati dengan doktrin-doktrin nyeleneh yang mungkin mereka jumpai.

Pemahaman yang kritis juga penting untuk jemaah haji. Mereka harus memiliki pemahaman yang kritis terhadap ceramah, khutbah, dan pengajaran yang mereka hadiri. Mereka perlu menganalisis secara objektif apakah pesan yang disampaikan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang inklusif dan toleran, atau justru menjerumuskan pada Wahabisme. Jika menyanggah bagi mereka adalah tidak mungkin, keluar dari forum merupakan alternatif yang baik.

Dampak buruk Wahabisasi juga bisa ditangkal dengan membangun kesadaran. Negara asal jemaah haji juga harus membangun kesadaran jemaah tentang risiko Wahabisasi dan memberikan pendidikan yang tepat sebelum dan setelah perjalanan haji. Ini dapat dilakukan melalui seminar, diskusi, dan pengajaran yang berfokus pada pemahaman yang komprehensif tentang Islam. Di Indonesia, ini menjadi tugas Kemenag divisi terkait.

Satu lagi cara menangkal dampak buruk Wahabisasi ialah melalui kerja sama internasional. Negara-negara Muslim perlu bekerja sama mengawasi dan memastikan bahwa pengajaran Islam di Tanah Suci sejalan dengan prinsip moderasi Islam. Melalui kerja sama tersebut, mereka dapat saling mengawasi pengaruh Wahabisme dan mencegah para jemaah terjerumus ke dalamnya. Jangan sampai, pulang ke tanah air, jemaah haji malah jadi orang Wahabi yang suka mengafirkan sesama. Na‘ūdzubillāh.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

(Ahmad Khoiri)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button