Hubbul Wathan

Pendidikan Gratis Atau Makan Gratis?

Salafusshalih.com – Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN, anggaran pendidikan 2026 dialokasikan sebesar Rp769,08 triliun untuk semua kementerian terkait.

Besaran ini tetap memenuhi amanat konstitusi, yakni 20 persen dari total belanja negara yang mencapai Rp3.842,78 triliun.

Dari anggaran pendidikan tersebut, Rp223,5 triliun di antaranya dialokasikan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan total anggaran program tersebut sebesar Rp325 triliun.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah mendeklarasikan pentingnya MBG sebagai prioritas utama dalam program kerjanya. Maka muncullah pertanyaan yang terus berulang di ruang publik: lebih perlu mana, pendidikan gratis atau makan gratis?

Pendidikan

Pendidikan itu penting. Melalui pendidikan, kualitas sumber daya manusia suatu bangsa akan meningkat. Salah satu produk utama pendidikan adalah terbentuknya karakter anak bangsa yang baik sekaligus cerdas.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang pendidikannya kuat. Tanpa pendidikan yang memadai, sulit membayangkan kemajuan jangka panjang suatu negara.

Makan

Makan juga penting. Dengan makan, manusia terjaga dari kelaparan. Bila tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuh, sel-sel pertumbuhan akan mati. Jika tidak terjadi pertumbuhan sel, lambat laun akan terjadi kematian.

Makan adalah kebutuhan dasar kehidupan. Ia bukan sekadar soal kenyang, tetapi menyangkut keberlangsungan fungsi tubuh dan kesehatan manusia.

Dua-Duanya Penting

Pendidikan dan makan sama-sama penting. Bila seseorang lapar, proses belajar akan terganggu. Tubuh membutuhkan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan energi otak dan organ-organ lainnya.

Sebagai dokter dan pengajar, penulis menilai bahwa makan dan pendidikan memiliki hubungan yang saling terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Namun perlu dipahami, tidak mutlak bahwa orang yang diberi makan pasti menjadi pintar. Ada banyak faktor lain yang memengaruhi hasil pendidikan, seperti peran orang tua, guru, lingkungan rumah dan sekolah, keteladanan seseorang, serta faktor-faktor lainnya.

Siapa Yang Bertanggung Jawab?

Pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan makan dan pendidikan masyarakat?

Jawaban atas pertanyaan ini sangat bergantung pada sistem negara yang dianut. Dalam negara dengan sistem sosialis, hampir semua kebutuhan warga menjadi tanggung jawab negara. Semua warga diperlakukan sama di mata negara.

Sebaliknya, dalam negara yang tidak menganut sistem sosialis penuh, kewajiban tersebut dibagi. Ada yang menjadi tanggung jawab negara, dan ada pula yang menjadi tanggung jawab keluarga atau individu.

Bagaimana di Indonesia?

Indonesia bukan negara sosialis penuh. Karena itu, tanggung jawab pemenuhan kebutuhan makan dan pendidikan dilakukan secara segmentatif. Ada segmen masyarakat tertentu yang menjadi tanggung jawab negara, dan ada segmen lain yang menjadi tanggung jawab individu atau keluarga.

Tidak semua harus gratis.

Target Program Atau “Target Terapi”

Dalam dunia kedokteran dikenal istilah target terapi, yakni pengobatan yang ditujukan langsung pada organ yang mengalami gangguan. Misalnya, pada gangguan pernapasan, terapi diarahkan langsung ke saluran napas agar pernapasan menjadi lebih lega.

Pendekatan target terapi lebih efektif dan efisien karena tepat sasaran serta mengurangi efek samping sistemik pada organ lain.

Makan dan pendidikan seharusnya juga diberikan dengan pendekatan serupa: tepat sasaran. Penyuluhan agar masyarakat makan bergizi dan berpendidikan adalah tanggung jawab negara.

Negara mendorong agar rakyatnya sehat dan pandai. Namun dalam pelaksanaannya, ada makanan dan pendidikan yang gratis ditanggung negara, dan ada pula yang menjadi biaya sendiri atau keluarga.

Anggaran yang Efektif dan Efisien

Efektif dan efisien berarti dengan sumber daya yang optimal dapat menghasilkan daya ungkit yang tinggi.

Efektivitas adalah kemampuan mencapai sasaran atau tujuan yang tepat waktu dan berfokus pada hasil akhir (do the right things).

Efisiensi adalah penggunaan sumber daya—waktu, uang, dan tenaga—secara optimal untuk hasil maksimal dengan pemborosan minimal (do things right).

Dalam keluarga, perusahaan, maupun negara, prinsip ini mutlak diterapkan. Jika tidak, niscaya akan terjadi kehabisan dana, bahkan kebangkrutan. Ibarat pepatah lama: “Besar pasak daripada tiang.”

Penutup

Makan dan pendidikan sama-sama penting bagi suatu bangsa. Keduanya tidak untuk dipertentangkan.

Dana Makan Bergizi Gratis dan pendidikan harus dikelola secara efektif dan efisien, dengan pendekatan segmentatif sesuai kondisi masyarakat. Dengan demikian, tujuan negara untuk menciptakan rakyat yang sehat dan cerdas dapat tercapai secara berkelanjutan.

(dr. Mohamad Isa)

Related Articles

Back to top button