Islam Berkemajuan dan Dakwah Moderat Muhammadiyah
Salafusshalih.com – Dalam pandangan Muhammadiyah, Islam adalah agama yang berkemajuan (dīn al-ḥaḍārah), agama yang membawa rahmat bagi seluruh kehidupan. Islam tidak hanya mengatur hubungan dengan Tuhan, tetapi juga mendorong kemajuan dalam ilmu, budaya, dan kemanusiaan.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali Imran 104:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
Ayat ini menegaskan pentingnya umat Islam untuk aktif berdakwah kepada kebaikan, mengajak pada kemaslahatan, serta mencegah keburukan.
Dalam hal ini, Muhammadiyah senantiasa mendorong budaya berpikir kritis dan semangat tajdid (pembaruan). Semangat itu telah melekat sejak pendiriannya pada 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan.
Gerakan tajdid itu nyata dalam bentuk amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Semua ini merupakan pengejawantahan teologi Surah Al-Ma’un—Islam yang membumi dalam kehidupan sehari-hari.
Islam berkemajuan juga menuntut penyampaian dakwah dengan pendekatan rasional dan menyentuh hati. Maka, pilihan bahasa dakwah harus menyesuaikan dengan akal dan tingkat pemahaman audiensnya. Nabi bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Mas’ud Ra.:
ما أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ، إلّا كانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً
“Tidaklah engkau menyampaikan suatu pembicaraan kepada suatu kaum yang belum sampai pada akal mereka, kecuali akan menimbulkan fitnah bagi sebagian mereka.”
Muhammadiyah dan Dakwah Wasathiyah untuk Mencerdaskan Umat
Kata wasathiyah berasal dari akar kata وسط (al-wasaṭ) yang berarti pertengahan atau seimbang. Konsep ini adalah inti dari Islam sebagai agama yang adil dan moderat. Sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah 143:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا …
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan…”
Makna ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam dituntut menjadi penengah—tidak ekstrem dalam urusan dunia maupun akhirat.
Sifat ummatan wasathan ini juga ditegaskan dalam Surah Ali ‘Imran ayat 110:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ …
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…”
Ayat ini menjadi landasan ideologis dakwah Muhammadiyah yang berpijak pada Al-Qur’an dan As-Sunah, serta dimaknai melalui pendekatan tarjih dan tajdid untuk mencerdaskan umat semesta.
Umat wasathan adalah umat yang seimbang, moderat, dan menghindari sikap ekstrem atau ghuluw dalam beragama. Sifat pertengahan ini bukan berarti kompromistis, melainkan menjunjung keadilan, kebijaksanaan, dan keseimbangan.
Inspirasi Wasatiah dari 7 Pesan Bogor
Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Tokoh Islam Dunia tentang Islam Wasatiah yang diselenggarakan di Istana Bogor, 1–3 Mei 2018, dihadiri oleh Prof. Dr. Din Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Presiden RI.
Dalam KTT tersebut, dirumuskan 7 Pesan Bogor yang menjadi nilai-nilai utama Islam wasathiyah:
-
Tawazun – Keseimbangan antara aspek spiritual dan material.
-
Iktidal – Sikap adil, proporsional, dan bertanggung jawab.
-
Tasamuh – Toleransi terhadap perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan.
-
Syura – Musyawarah dalam pengambilan keputusan.
-
Islah – Perbaikan dan pembaruan demi kebaikan bersama.
-
Kudwah – Keteladanan dan menjadi pelopor kebaikan.
-
Muwatanah – Pengakuan atas negara dan kepatuhan terhadap hukum.
Penutup
Wasatiaah adalah role model dakwah Muhammadiyah yang telah berlangsung lebih dari satu abad. Dengan pendekatan yang berkemajuan, rasional, dan menyejukkan, Muhammadiyah berkontribusi nyata dalam mencerdaskan umat dan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya: masyarakat yang adil, seimbang, dan rahmatanlilalamin. Wallāhua‘lambisawāb.
(Ridwan Ma’ruf)



