Ulul Amri

Mengelola Kekuasaan: Antara Amanah dan Godaan

Salafusshalih.com – Sejak dulu kala, peristiwa perebutan kekuasaan sudah ada, dari tingkat keluarga, lokal, regional, nasional, hingga global.

Kekuasaan merupakan bagian dari dinamika kehidupan, baik secara pribadi maupun sebagai bangsa. Secara sadar maupun tidak sadar, proses aktualisasi terhadap kekuasaan selalu mengiringi kehidupan.

Kekuasaan tidak ada yang abadi. Bersamaan dengan waktu, kekuasaan silih berganti. Setiap episode kekuasaan selalu menyisakan memori dan cerita-cerita yang dialami.

Untuk memperebutkan kekuasaan, tidak jarang calon penguasa menyampaikan janji-janji manis kepada rakyat saat mencari dukungan, dengan harapan nantinya dapat meraih kekuasaan.

Perang Merebut Kekuasaan

Kisah perebutan kekuasaan yang sedang terjadi saat ini yaitu perang antara Amerika–Israel melawan Iran. Amerika–Israel menyerang Iran dengan harapan Iran dapat dikuasai. Iran mempertahankan diri dengan harapan kekuasaan tetap terjaga.

Sekutu Amerika seperti Kuwait, Yordania, Arab Saudi, Qatar, dan UEA meminta perlindungan Amerika dengan harapan kekuasaan negara atau rezimnya tidak diganggu.

Semua ingin mendapatkan kekuasaan dan ingin mempertahankan kekuasaan. “Dalam politik kekuasaan: tidak ada teman sejati, yang ada adalah kepentingan sejati.

Cara Merebut Kekuasaan

Kekuasaan diperebutkan oleh masing-masing individu, organisasi, maupun negara. Bermacam-macam cara dilakukan untuk mendapatkannya. Ada yang beretika, ada pula yang tidak beretika.

Meminjam istilah dalam suatu acara, ada yang sempat berseloroh “Etika ndasmu“. Ungkapan itu bisa dipersepsikan bahwa dalam memperebutkan kekuasaan: “masa bodoh dengan etika itu” atau “tidak perlu etika”, yang penting kekuasaan dapat diraih.

Hakekat Kekuasaan

Kekuasaan, dalam istilah umum juga disebut sebagai power, diartikan sebagai kemampuan untuk memengaruhi pihak lain menurut kehendak pemegang kekuasaan tersebut. Kekuasaan juga mencakup kemampuan untuk memerintah agar yang diperintah patuh.

Oleh sebab itu, dalam kekuasaan terdapat pihak yang memegang kekuasaan dan pihak yang menjalankan kekuasaan.

Penguasa Tubuh

Susunan saraf pusat merupakan pengendali tubuh. Ada pusat pengendali gerakan motorik tubuh, pusat pengendali napas, dan pusat-pusat pengendali lainnya.

Pusat pengendali itu diatur oleh fungsi luhur berupa pikiran. Pikiran kemudian dikendalikan oleh kalbu atau hati.

Kalbu atau hati yang bersih akan menggerakkan perbuatan yang baik. Demikian juga sebaliknya. Jadi kalbu atau hatilah yang menjadi pusat pengendalian kekuasaan dalam tubuh kita.

Sebagaimana dalam Surah Al-Fajr ayat 27–30:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Niat adalah bahan dasar penggerak hati. Niat yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik. Puasa menjadi sarana untuk mengendalikan kekuasaan tubuh.

Cara Mengelola Kekuasaan

  1. Kekuasaan adalah anugerah sekaligus amanah yang harus dimanfaatkan untuk kepentingan yang baik, bukan hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

  2. Dalam menjalankannya diperlukan rasa keadilan yang tinggi, dengan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan diri sendiri.

  3. Kekuasaan juga menjadi ujian watak seseorang: apakah tetap teguh pada kebenaran atau tergoda oleh kepentingan duniawi.

  4. Kekuasaan harus dijalankan dengan sikap tegas, bijaksana, jujur, dan tanggap terhadap persoalan masyarakat.

  5. Setiap kekuasaan harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Tuhan, baik di dunia maupun di akhirat.

Penutup

  1. Kekuasaan merupakan bagian dari kehidupan individu maupun sosial yang harus dijalankan dengan baik.

  2. Perebutan kekuasaan harus dilakukan dengan etika yang baik agar tidak menimbulkan kerusakan dan ketidakadilan.

(dr. Mohamad Isa)

Related Articles

Back to top button