Membaca Mukjizat di Era Sains: Nabi Musa AS, Laut Terbelah, dan Waktu Ilahiah

Salafusshalih.com – Di antara ribuan kisah yang diturunkan Allah kepada manusia, ada satu kisah yang terus berdiri tegak melampaui zaman—kisah seorang hamba pilihan yang berhadapan dengan tirani terbesar di muka bumi.
Kisah itu adalah kisah Nabi Musa alaihisalam, nabi yang lahir di bawah ancaman pembunuhan, tumbuh di istana Firaun, lalu diutus membawa cahaya tauhid untuk membebaskan kaumnya dari penindasan.
Menariknya, bukan hanya kalangan beriman yang tertarik pada kisah ini. Para ilmuwan, sejarawan, ahli geologi, hingga peneliti atmosfer turut menaruh perhatian.
Mengapa?
Karena di tengah perjalanan hijrah Musa bersama Bani Israil terjadi sebuah peristiwa yang tampak menantang logika: laut yang terbelah.
Di era modern, sebagian orang mencibir, “Mana mungkin itu nyata? Bukankah itu hanya dongeng?”
Namun di balik pertanyaan itu justru terbuka ruang dialog yang indah—ruang ketika sains tidak memusuhi iman dan iman tidak menolak sains.
Keduanya saling menyambung untuk membaca ayat-ayat Tuhan, baik yang tertulis dalam mushaf maupun yang terhampar di alam semesta.
Apakah Kisah Ini Dongeng?
Ada orang yang memandang mukjizat sebagai sesuatu yang tidak layak dikaji secara rasional. Namun Islam tidak demikian.
Al-Qur’an bukan kitab mitologi, melainkan kitab petunjuk. Ia tidak meminta manusia menutup mata terhadap fenomena alam, justru mengajak untuk merenung, mengamati, dan memahami ciptaan Allah.
Karena itu, pertanyaan seperti: “Benarkah laut bisa terbelah?” atau “Adakah mekanisme alam di baliknya?”; bukan pertanyaan yang melemahkan iman.
Sebaliknya, pertanyaan semacam ini justru menghidupkan akal agar manusia dapat menyaksikan kebesaran Allah melalui hukum-hukum alam yang Dia ciptakan.
Dari sinilah perhatian ilmiah terhadap fenomena langka bernama wind setdown mulai muncul.
Fenomena Ilmiah: Wind Setdown dan Laut yang Mundur
Wind setdown adalah fenomena turunnya permukaan air secara drastis akibat dorongan angin sangat kuat yang bertiup ke satu arah dalam waktu relatif lama.
Secara sederhana, prosesnya terjadi seperti berikut:
-
Angin kencang menciptakan tekanan pada permukaan air.
-
Jika angin bergerak melintasi hamparan air yang luas, dorongannya menjadi semakin kuat.
-
Bila dasar laut dangkal dan landai, air dapat terdorong jauh ke satu arah.
-
Akibatnya, sisi yang berlawanan bisa mengering sementara dan membentuk jalur daratan yang sebelumnya tertutup air.
Fenomena serupa pernah diamati saat badai ekstrem di beberapa kawasan dunia, termasuk Afrika dan Asia Tenggara.
Pertanyaannya kemudian: mungkinkah fenomena semacam ini terjadi di Laut Merah pada masa Nabi Musa?
Riset dari University of Colorado Boulder
Salah satu penelitian serius mengenai fenomena ini dilakukan oleh University of Colorado Boulder melalui simulasi komputer yang memperhitungkan kondisi geografis dan dinamika laut.
Variabel yang diteliti antara lain:
-
kedalaman laut bagian utara yang relatif dangkal,
-
kemiringan dasar laut yang landai,
-
arah serta kekuatan angin,
-
durasi badai,
-
dan kontur pesisir.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa jika angin timur bertiup sangat kuat selama beberapa jam, air laut dapat terdorong sehingga membuka jalur daratan sementara di wilayah pesisir utara Laut Merah.
Dalam model tersebut:
-
permukaan air bergerak menjauh,
-
dasar laut muncul ke permukaan,
-
dan jalur kering dapat bertahan sesaat sebelum air kembali.
Artinya, secara mekanisme alam, fenomena laut terbelah bukanlah sesuatu yang mustahil. Sains tidak menutup kemungkinan itu—bahkan memberi ruang penjelasan.
Sains Menjawab “Bagaimana”, tetapi Tidak “Mengapa” dan “Kapan”
Di sinilah batas sains terlihat jelas.
Sains mungkin mampu menjelaskan bagaimana air dapat surut, tetapi tidak mampu menjelaskan mengapa fenomena itu terjadi tepat ketika Musa dikejar Firaun.
Mengapa jalan terbuka tepat sebelum penyeberangan?
Mengapa air kembali justru saat pasukan Firaun berada di tengah laut?
Jika angin datang lebih awal, Musa belum tiba.
Jika terlambat, Musa mungkin tertangkap.
Jika berhenti terlalu cepat, kaum beriman bisa tenggelam.
Jika terlalu lama, Firaun bisa selamat.
Pertanyaan-pertanyaan itu melampaui ranah fisika. Tidak ada rumus ilmiah yang mampu menjelaskan presisi waktu semacam itu.
Dan di titik inilah mukjizat mengambil tempatnya.
Mukjizat: Ketika Allah Menggerakkan Alam
Dalam Islam, mukjizat tidak selalu berarti pelanggaran terhadap hukum alam. Mukjizat adalah ketika Allah mengatur hukum alam itu sendiri dengan kehendak-Nya.
Ia mengatur: arah angin, kekuatan hembusan, durasi badai, dan momentum terjadinya peristiwa.
Jika sains menjelaskan mekanisme, maka iman menjelaskan siapa yang mengendalikan mekanisme itu.
Sains berkata: ini mungkin terjadi.
Iman berkata: Allah membuatnya terjadi pada saat yang dibutuhkan.
Di sinilah keindahan mukjizat Musa—perpaduan antara fenomena alam dan ketepatan ilahi.
Siapa Tuhan Musa?
Menariknya, kitab-kitab samawi memberikan kesaksian serupa tentang Tuhan Musa, meski dengan ungkapan berbeda.
Dalam Taurat (Keluaran 3:14), Tuhan memperkenalkan diri dengan ungkapan, “Aku adalah Aku.” Konsep ini sejalan dengan pemahaman tentang Allah Al-Qayum dalam Islam—Yang Maha Berdiri Sendiri.
Dalam Injil (Markus 12:29), disebutkan, “Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa,” yang merujuk pada ajaran tauhid yang sama.
Sementara Al-Qur’an menegaskan (Al-Qasas: 30): “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.”
Kesimpulannya jelas: Tuhan Musa adalah Allah Swt., Tuhan para nabi dan penguasa seluruh hukum alam.
Penutup: Ketika Ilmu Pengetahuan dan Keimanan Saling Menguatkan
Kisah terbelahnya laut bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah pelajaran tauhid yang terus relevan sepanjang zaman.
Sains membantu manusia memahami bagaimana sebuah fenomena dapat terjadi. Namun iman menjelaskan mengapa dan untuk siapa fenomena itu berlangsung: untuk menyelamatkan yang tertindas, menghancurkan kezaliman, dan menegaskan kekuasaan Allah.
Wind setdown mungkin menjelaskan mekanismenya. Tetapi hanya Allah yang menentukan presisi waktunya.
Itulah hakikat mukjizat.
Itulah keagungan Allah.
Dan itulah kisah Musa yang terus hidup di hati kaum beriman—kisah yang membuat akal tunduk tanpa kehilangan daya kritisnya, serta membuat iman berdiri semakin tegak.
(Shabrinuha Bilmas Muhammad)


