Hubbul Wathan

Rangkaian Ibadah Haji: Dari Tarwiah Hingga Tawaf Wada

Salafusshalih.com – Ibadah haji merupakan perjalanan spiritual yang sarat makna penghambaan, ketakwaan, dan perjuangan menundukkan hawa nafsu.

Setiap prosesi dalam haji bukan sekadar ritual fisik, tetapi simbol perjalanan manusia menuju kedekatan dengan Allah Swt.

Berikut rangkaian lengkap ibadah haji sejak 8 Zulhijah hingga penutup haji sesuai tuntunan syariat.

8 Dzulhijjah: Tarwiah di Mina

Pada 8 Zulhijah, jemaah haji mulai berihram dan berniat haji dari tempat tinggal masing-masing di Makkah, khususnya bagi jemaah haji tamattu’. Setelah itu mereka bergerak menuju Mina, kawasan yang berjarak sekitar 8 kilometer dari Masjidil Haram. Hari ini dikenal sebagai Hari Tarwiah.

Tarwiah merupakan amalan sunah yang sangat dianjurkan bila memungkinkan. Kata tarwiah berasal dari rawiya yang berarti menyiapkan air. Pada masa Rasulullah Saw., para jemaah membawa bekal air menuju Mina sebagai persiapan menghadapi perjalanan menuju Arafah yang tandus dan panas.

Di Mina, para jemaah memperbanyak talbiah, zikir, doa, membaca Al-Qur’an, dan salat. Rasulullah Saw. mencontohkan pelaksanaan salat Zuhur, Ashar, Magrib, Isya, dan Subuh di Mina, dengan qasar untuk salat yang empat rakaat.

Momentum Tarwiah menjadi persiapan spiritual sebelum memasuki puncak ibadah haji di Padang Arafah.

9 Dzulhijjah: Wukuf di Arafah

Pada pagi 9 Zulhijah, para jemaah bergerak menuju Padang Arafah yang berjarak sekitar 14 kilometer dari Mina. Wukuf di Arafah merupakan rukun utama ibadah haji. Rasulullah Saw. bersabda:

“Al-hajju Arafah” — Haji itu adalah Arafah.

Di Padang Arafah, para jemaah memperbanyak doa, istigfar, zikir, talbiah, dan membaca Al-Qur’an sejak tergelincir matahari hingga terbenam. Momentum ini menjadi puncak penghambaan dan pertaubatan seorang hamba kepada Allah Swt.

Arafah juga menggambarkan suasana mahsyar, ketika seluruh manusia berkumpul tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun asal-usul.

Malam 10 Dzulhijjah: Mabit di Muzdalifah

Setelah matahari terbenam pada 9 Zulhijah, para jemaah meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah, sebuah lembah di antara Arafah dan Mina.

Di Muzdalifah, jemaah melaksanakan mabit atau bermalam sambil memperbanyak doa dan zikir. Mereka juga mengumpulkan batu-batu kecil yang nantinya digunakan untuk melontar jumrah di Mina.

Mabit di Muzdalifah mengajarkan kesederhanaan, kebersamaan, dan kepasrahan total di hadapan Allah Swt.

10 Dzulhijjah: Jumrah Akabah, Hadyu, Tahalul, dan Thawaf Ifadah

Pada 10 Zulhijah setelah salat Subuh, para jemaah kembali menuju Mina untuk melaksanakan lempar Jumrah Akabah menggunakan tujuh batu kecil yang telah dikumpulkan di Muzdalifah. Ritual ini merupakan simbol perlawanan terhadap godaan setan dan hawa nafsu.

Setelah itu, jemaah haji tamatuk dan kiran melaksanakan penyembelihan hadyu atau dam sebagai bentuk ibadah kurban dan keteladanan Nabi Ibrahim As. serta Nabi Ismail As.

Selanjutnya jemaah melakukan tahalul dengan mencukur atau memotong rambut. Setelah tahalul awal, sebagian larangan ihram telah diperbolehkan kembali.

Usai dari Mina, para jemaah menuju Masjidilharam di Makkah untuk melaksanakan Tawaf Ifadah dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Setelah itu dilanjutkan dengan sai antara Bukit Safa dan Marwah bagi jemaah yang belum melaksanakannya.

Bagi jemaah haji tamatuk, sai dilakukan setelah Tawaf Ifadah. Sementara jemaah ifrad dan kiran yang telah melakukan sai setelah tawaf kudum tidak wajib mengulanginya.

Dalam praktiknya, urutan sebagian amalan pada 10 Zulhijah dapat berbeda sesuai kondisi jemaah, dan hal itu dibolehkan berdasarkan keringanan yang diberikan Rasulullah Saw.

11, 12, dan 13 Dzulhijjah: Hari Tasyrik dan Melontar 3 Jumrah

Pada hari-hari tasyrik, yakni 11, 12, dan 13 Zulhijah, para jemaah kembali berada di Mina untuk melaksanakan lempar jumrah di tiga tempat:

  • Jumrah Al-Ula,
  • Jumrah Al-Wusta,
  • Jumrah Al-Akabah.

Masing-masing dilempar dengan tujuh batu kecil sebagai simbol perjuangan manusia melawan godaan setan dan hawa nafsu.

Jemaah yang meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam pada 12 Zulhijah disebut mengambil Nafar Awal. Sedangkan jemaah yang tetap tinggal hingga 13 Zulhijah disebut Nafar Tsani. Keduanya dibolehkan dalam syariat Islam.

Mabit di Mina pada malam-malam tasyrik termasuk wajib haji menurut mayoritas ulama, meskipun terdapat rukhsah atau keringanan bagi kondisi tertentu.

Thawaf Wada: Perpisahan Dengan Tanah Suci

Sebelum meninggalkan Makkah, para jemaah melaksanakan Tawaf Wada atau tawaf perpisahan di Masjidil Haram. Tawaf ini menjadi penutup seluruh rangkaian ibadah haji sekaligus ungkapan salam perpisahan kepada Baitullah.

Namun, Tawaf Wada tidak diwajibkan bagi perempuan yang sedang haid atau nifas.

Dalam suasana haru, para jemaah meninggalkan Tanah Suci dengan harapan seluruh amal ibadah hajinya diterima Allah Swt. dan membawa pulang semangat ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Haji: Perjalanan Menaklukkan Diri

Rangkaian ibadah haji sesungguhnya bukan hanya perpindahan dari satu tempat ke tempat lain.

Mina mengajarkan persiapan dan kesabaran.

Arafah mengajarkan taubat dan penghambaan. Muzdalifah mengajarkan kesederhanaan.

Jumrah mengajarkan perlawanan terhadap hawa nafsu.

Sementara tawaf mengajarkan bahwa pusat kehidupan seorang Muslim hanyalah Allah Swt.

Karena itu, haji yang mabrur tidak berhenti ketika jemaah pulang dari Makkah, tetapi tercermin dalam perubahan akhlak, ketulusan hati, dan ketaatan kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.

(Mohammad Nurfatoni)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button