Hakikat Kemerdekaan Ada Pada Perang Qadisiyah
Salafusshalih.com – Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda dalam memaknai kemerdekaan. Ada sebagian berpendapat bahwa kemerdekaan adalah kebebasan dari penjajahan fisik.
Namun, artikel kali ini mengajak pembaca untuk menapak tilas sejarah meletusnya Perang Qadisiyah yang berlangsung selama tiga hari pada 636 Masehu di sebelah timur Sungai Eufrat, Irak.
Perang Qadisiyah terjadi antara kaum Muslimin melawan kaum Majusi Persia pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, Sa’ad bin Abi Waqas sebagai panglima perang kaum Muslimin mengutus Rab’i bin Amir As-Saqafi untuk melakukan diplomasi dakwah di hadapan Rustum, penguasa Persia, seraya berkata:
اللهُ ابْعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ اِلَي عِبَادَةِ رَبِّ الْعِبَادِ, وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا اِلَي سَعَتِهَا, وَمِنْ جُورِ الْأَدْيَانِ اِلَي عَدْلِ الْإِسْلَامِ
“Allah mengutus kami untuk membebaskan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dan dari kezaliman agama-agama kepada keadilan Islam.” (HR Ath-Thabari)
Dari hadis tersebut diperoleh penjelasan bahwa hakikat kemerdekaan yang sejati bagi seseorang maupun suatu bangsa ada pada tiga keadaan:
Pertama: Kemerdekaan Dari Penghambaan Sesama Manusia
Islam mengajarkan kepada manusia agar merdeka dari penghambaan kepada selain Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam An-Nahl36:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ ۖ
“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut itu.’”
Kedua: Merdeka Dari Kebodohan
Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Muhammad 19:
فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ
“Ketahuilah (ilmuilah) bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu dan (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat kegiatan dan tempat istirahatmu.”
Dengan ilmu pengetahuan, suatu bangsa mampu membangun peradaban yang maju di bidang politik, ekonomi, teknologi, sosial, dan budaya.
Ketiga: Merdeka Dari Perbuatan Zalim Penjajah
Kezaliman adalah tindakan semena-mena terhadap kaum yang lemah. Nabi Saw. bersabda dalam hadis qudsi:
يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَي نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا
“Allah berfirman: Wahai sekalian hamba-Ku, Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya haram di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi.” (H.R. Muslim)
Oleh karena itu, spirit dan pesan suci Perang Qadisiyah berupa tegaknya keadilan, kesejahteraan, dan penghormatan nilai kemanusiaan tercermin dalam Pembukaan UUD 1945. Alinea pertama menegaskan hak kemerdekaan setiap bangsa dan menolak penjajahan.
Alinea kedua menjelaskan cita-cita negara Indonesia: merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Alinea ketiga menyatakan proklamasi kemerdekaan dan pengakuan atas rahmat Allah Swt. Alinea keempat memuat tujuan negara, dasar negara Pancasila, dan susunan pemerintahan negara. Wallāhua‘lambisawāb.
(Ridwan Ma’ruf)



