Urwah bin Zubair, Keteladanan Dari Impian Mulia
Salafusshalih.com – Pagi itu, benang-benang cahaya keemasan dari sang mentari menyapa ramah setiap pelataran Masjidilharam, Makkah. Sejumlah sahabat dan tokoh tabiin tengah mengharumkan suasana lewat lantunan tahlil dan takbir. Mereka membentuk halaqah-halaqah, berkelompok di sekeliling Ka’bah. Mereka menyejukkan mata dan saling berbagi cerita, tanpa senda gurau yang mengandung dosa.
Di Hijir Ismail, duduklah empat pemuda tampan. Mereka terlihat rupawan dengan pakaiannya yang putih bersih. Keempat pemuda itu adalah Abdullah bin Zubair, Mush’ab bin Zubair, Urwah bin Zubair, dan Abdullah bin Umar.
Mereka berkumpul di Hijr Ismail, setengah lingkaran yang ada di Ka’bah, kemudian mereka duduk bersama. Ini pertemuan yang unik karena mereka membukanya dengan sebutan tamannaw yang berarti “berharaplah!”. Ya, ini adalah pertemuan berharap. Majelis harapan, impian, asa, cita-cita.
Majelis ini dimulai dengan kalimat Abdullah bin Zubair,“Saya ingin kekhalifahan.” Masya Allah, pemuda yang memiliki cita-cita tinggi. Kemudian Mush’ab bin Zubair pun menyampaikan keinginannya, Saya ingin menjadi Amir Irak dan menikahi Aisyah binti Thalhah dan Sukainah binti Husain.”
Sebuah asa disampaikan Abdullah bin Umar, “Aku ingin Allah mengampuniku.” Sebuah permintaan yang terkesan sederhana, tetapi sesungguhnya bermakna sangat dalam dan didamba setiap insan bertakwa.
Sementara itu, Urwah diam seribu bahasa, tidak berkata sepatah pun. Semua mendekati dan bertanya, “Bagaimana denganmu, apa cita-citamu kelak wahai Urwah?” Beliau berkata, “Semoga Allah Swt. memberkahi semua cita-cita dari urusan dunia kalian. Aku ingin menjadi alim (orang berilmu yang mau beramal) sehingga orang-orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang Al-Qur’an, Sunah Nabi-Nya, dan hukum-hukum agama-Nya dariku, lalu aku berhasil di akhirat, dan memasuki surga dengan rida Allah Swt..”
Hari berganti dan waktu berlalu. Doa-doa yang dipanjatkan para pemuda itu tercapai. Abdullah bin Zubair dibai’at menjadi khalifah menggantikan Yazid bin Mu’awiyah yang telah meninggal. Ia menjadi khalifah atas wilayah Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan, dan Irak.
Mush’ab bin Zubair juga menjadi pemimpin Irak dan menikahi dua wanita salihah sebagaimana doa yang ia panjatkan. Adapun Abdullah bin Umar, Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menuliskan keyakinannya bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa Abdullah bin Umar sebagaimana yang ia inginkan. Lalu bagaimana dengan Urwah bin Zubair? Inilah kisah sang ulama tabiin. Salah satu dari tujuh fukaha termasyhur di Madinah, tempat rujukan ilmu bagi umat.
Kehidupan Urwah
Urwah lahir satu tahun sebelum berakhirnya masa kekhalifahan Umar bin Khaththab ra.. Ayahnya, Zubair bin Awwam, salah satu dari sepuluh sahabat Nabi yang dijamin surga sekaligus. Hawari-nya Rasulullah saw.. Ibunya bernama Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq yang dijuluki dzatun nithaqain (pemilik dua ikat pinggang).
Kakek beliau dari jalur ibu adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, khalifah pertama kaum muslim dan sahabat terkasih Rasulullah saw.. Sedangkan, nenek dari jalur ayahnya adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib yang juga bibi Rasulullah saw.. Bibinya adalah Ummulmukminin, Aisyah binti Abu Bakar. Saat Aisyah meninggal, Urwah bin Zubairlah yang turun ke liang lahat untuk meletakkan jenazah Ummulmukminin.
Urwah kecil dibesarkan dalam nuansa yang sarat dengan nilai-nilai ketakwaan, keilmuan, dan akhlak yang mulia. Demi merealisasikan cita-cita yang didambakan dan harapan kepada Allah yang diutarakan di sisi Ka’bah yang agung tersebut, beliau amat gigih dalam usahanya mencari ilmu. Maka beliau mendatangi dan menimbanya dari para sahabat Nabi yang masih hidup.
Beliau mendatangi rumah-rumah mereka, salat di belakang mereka, menghadiri majelis-majelis mereka. Beliau meriyawatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa’id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Nu’man bin Basyir dan banyak pula mengambil dari bibinya, Aisyah Ummulmukminin. Pada gilirannya nanti, beliau berhasil menjadi satu di antara fukaha sab’ah (tujuh ahli fikih) Madinah yang menjadi sandaran kaum muslim dalam urusan agama.
Para pemimpin yang saleh banyak meminta pertimbangan kepada beliau, baik tentang urusan ibadah maupun negara. Sebagai contohnya adalah Umar bin Abdul Aziz. Urwah adalah salah seorang di antara sepuluh ulama di kota Madinah yang selalu menjadi rujukan khalifah Umar bin Abdul Aziz sewaktu beliau menjabat sebagai gubernur di kota tersebut.
Nasihat Urwah kepada Anaknya
Urwah bin Zubair menjadi menara hidayah bagi kaum muslim. Menjadi penunjuk jalan kemenangan dan menjadi da’i selama hidupnya. Perhatian beliau yang paling besar adalah mendidik anak-anaknya secara khusus dan generasi Islam secara umum. Beliau tidak suka menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk memberikan petunjuk dan selalu mencurahkan nasihat demi kebaikan mereka.
Inilah petikan nasihat Urwah untuk anak-anaknya yang terangkum dalam poin berikut:
Pertama. Mengenai ilmu pengetahuan: “Wahai anakku, tuntutlah ilmu dan curahkanlah tenaga serta segenap perhatianmu untuknya. Ini karena, walaupun kalian kecil dalam pandangan manusia, mudah-mudahan dengan ilmu pengetahuan tersebut, Allah akan menjadikan kalian besar serta merupakan tokoh umat. Oleh karena itu, ketahuilah anakku, tiada di dunia ini lebih buruk dibanding seorang tua renta yang bodoh.”
Kedua. Mengutamakan Allah: “Duhai anakku, janganlah kalian menghadiahkan sesuatu kepada Allah, yang kalian sendiri seyogianya merasa malu menghadiahkannya kepada pemimpin kalian. Sesungguhnya, Allah itu Maha Mulia dan Maha Pemurah. Sesungguhnya pula Dia itu lebih berhak untuk dimuliakan.”
Ketiga. Ketegasan sikap: “Hai anakku, andaikata kalian melihat seseorang melakukan perbuatan baik, maka akuilah apa yang dilakukan orang itu adalah baik. Meskipun di mata masyarakat banyak, orang tersebut berkelakuan buruk. Ini karena setiap perbuatan baik itu pasti ada rentetannya. Begitu juga bilamana kalian menjumpai seseorang berbuat jahat, berhati-hatilah mengambil sikap, walaupun dalam pandangan orang banyak, ia itu baik karena setiap perbuatan buruk pasti ada rentetannya. Jadi camkanlah, kebaikan akan menunjukkan kelanjutannya dan keburukan akan menunjukkan kelanjutannya juga.”
Keempat. Etika Berbicara: “Oh anakku, saat berbicara, berkata-katalah sebaik mungkin dengan wajah berhias senyum. Anakku, telah tertulis dalam hikmah: Jadikanlah tutur katamu selalu indah dan ketika menyampaikannya sertailah dengan wajah penuh senyuman sebab kata-kata indah dan wajah penuh senyuman lebih disukai daripada sebuah pemberian.”
Urwah wafat pada usia 71 tahun. Kehidupannya meninggalkan jejak keabadian tentang ilmu, ketekunan, ketakwaan, dan kebaikan. Urwah, sosok pemuda bercita-cita tinggi dan menggapai asanya dengan predikat ulama terbaik. Ia sosok orang tua dengan untaian nasihat penuh hikmah. Semoga Allah merahmatinya.
(Chusnatul Jannah)