Ulul Amri

Emansipasi di Persimpangan Jalan: Kartini, Islam, dan Feminisme Masa Kini

Salafusshalih.com – Setiap 21 April, perempuan Indonesia mengenakan kebaya. Mereka berfoto, berbagi di media sosial, dan menyebut nama Kartini. Namun, di luar perayaan dan parade budaya, nyaris tak ada yang sungguh-sungguh bertanya: apa yang sebenarnya diperjuangkan Kartini? Dan yang lebih penting: apakah kita masih berada di jalan yang ia tunjukkan?

Dari Surat Menuju Terang

Lebih dari seratus tahun lalu, di Rembang yang sunyi, seorang perempuan Jawa menulis surat-surat penuh kegelisahan. Dalam bahasa Belanda yang fasih, ia bertanya: mengapa perempuan dilarang berpikir? Mengapa masa depan mereka seolah hanya terbatas pada pernikahan?

Raden Ajeng Kartini bukanlah pejuang jalanan. Ia juga bukan aktivis feminis dalam pengertian modern. Ia adalah anak bangsawan yang hidup dalam cengkeraman adat dan dogma. Namun, justru dari ruang sempit itu, pikirannya melompat jauh ke masa depan.

Yang jarang dikisahkan, Kartini bukan sekadar pembaca roman Belanda atau filsafat Eropa. Ia juga haus akan Islam yang tercerahkan. Kepada Snouck Hurgronje, ia bertanya, “Bagaimana saya bisa mencintai Islam, jika saya tak pernah diajari maknanya?”

Kartini akhirnya bertemu Kiai Soleh Darat, yang mengajarkannya tafsir suraH Al-Fatihah. Di situlah kesadarannya berpindah: Islam bukan sumber keterbelakangan perempuan—tetapi bisa menjadi cahaya pembebas, jika diajarkan dengan hikmah dan ilmu.

Antara Kartini dan Feminisme Kekinian

Kini, emansipasi menjadi kata yang kehilangan roh. Perempuan tampil di ruang publik: menjadi menteri, jenderal, pengusaha, bahkan presiden. Namun, di saat yang sama, angka kekerasan seksual meningkat, anak perempuan putus sekolah karena kemiskinan, dan tubuh perempuan menjadi objek pasar dalam media digital.

Di sinilah ironi itu muncul. Kita merayakan emansipasi tanpa benar-benar membebaskan. Perempuan diberi panggung, tetapi tanpa sistem yang melindungi martabatnya. Ia disuruh kuat, tetapi tetap dibebani norma ganda.

Kartini tidak pernah memimpikan perempuan yang melawan laki-laki. Ia menginginkan perempuan yang merdeka dalam berpikir, beradab dalam bertindak, dan terdidik dalam iman. Ini bukan feminisme sekuler, melainkan emansipasi yang bertumpu pada akal dan adab—dua hal yang kini justru makin langka dalam diskursus perempuan.

Jalan Sunyi Emansipasi Spiritual

Dalam literatur Islam klasik, emansipasi tidak pernah berarti kebebasan absolut. Ia lebih merujuk pada kemerdekaan dari kebodohan, keterbelakangan, dan ketertundukan pada sistem yang menindas. Di sinilah Islam bertemu Kartini.

Dalam tafsir modern seperti yang dikembangkan Prof. Quraish Shihab atau Siti Musdah Mulia, perempuan diberi ruang setara dalam penciptaan, tanggung jawab moral, dan pembangunan peradaban. Namun, setara tidak berarti sama. Perempuan tetap membawa suara hati, yang tak kalah penting dari logika kuasa.

Masalahnya, arus globalisasi dan kapitalisme budaya hari ini membuat nilai-nilai itu tenggelam. Perempuan diukur dari kulit, ukuran tubuh, atau jumlah pengikut di media sosial. Ruh Kartini yang dulu ingin mencerdaskan jiwa, kini tergantikan oleh citra tanpa makna.

Menyusun Ulang Narasi Kartini

Jika Kartini masih hidup hari ini, barangkali ia akan bertanya: mengapa emansipasi berhenti di layar, tidak sampai ke sekolah-sekolah desa? Mengapa masih banyak anak perempuan tidak bisa kuliah karena kemiskinan? Mengapa undang-undang perlindungan perempuan digugat, padahal kekerasan makin menggunung?

ICMI percaya, emansipasi harus dikembalikan ke jalur yang benar: pendidikan, nilai moral, dan pemberdayaan spiritual. Emansipasi tidak berhenti pada kesetaraan posisi, tetapi pada kualitas manusia yang dibentuk. Dan hal ini hanya bisa dicapai dengan membangun kesadaran kolektif bahwa perempuan bukan hanya pelengkap, tetapi pemikul tanggung jawab sejarah.

Penutup

Kartini adalah simbol. Namun, simbol bisa mati jika hanya diperingati tanpa dimaknai. Ia menulis dalam keterbatasan, tetapi suaranya mengguncang zaman. Hari ini, kita memiliki semua perangkat: teknologi, kebebasan politik, akses informasi. Namun justru kehilangan arah perjuangan.

Saatnya kembali kepada Kartini. Bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk menghidupkan kembali gagasan tentang perempuan muslimah yang merdeka secara pikiran, bersinar dalam ilmu, dan tangguh dalam iman.

Sebab, emansipasi sejati bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan tentang siapa yang mampu melahirkan generasi yang lebih cerdas, bermartabat, dan penuh kasih.

(Ulul Albab)

Related Articles

Back to top button