Al Qur'an

Dakwah bil Qalam di Website

Salafusshalih.com – Banyak hal yang mendorong saya menjadi penulis. Mulai dari kebutuhan batin untuk berekspresi hingga tujuan praktis seperti berbagi pengalaman hidup, pengetahuan, atau menyebarkan ilmu. Ini bagian dari dakwah bil-qalam.

Dakwah bil-qalam artinya dakwah dengan pena. Menulis pesan-pesan dakwah yang segar, menginspirasi, enak dibaca, dan mudah dipahami oleh pembaca.

Inspirasi dakwah bil-qalam bersumber dari firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Qalam ayat 1.

ن ۚ وَٱلْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

 Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.

Ayat di atas menyebutkan keutamaan pena, serta pemanfaatan media cetak dan digital untuk menyebarkan pesan-pesan keislaman secara luas. Allah Ta’ala mengawali ayat ini dengan sumpah yang terkandung makna, betapa  pentingnya menghidupkan budaya gemar membaca dan menulis (literasi).

Dalam konteks jihad literasi, para dai yang belum bisa berdakwah dari mimbar ke mimbar, seperti mengisi kajian atau seminar bisa memilih menulis untuk berdakwah. Syaratnya banyak baca dan mencantumkan referensi sehingga memperkaya wawasan.

Lewat cara ini mendorong pembaca lebih giat membaca atau menemukan solusi dari masalah yang dihadapi. Berdakwah lewat tulisan sama dengan menyebarkan ilmu yang  jangkauannya menembus batas ruang dan waktu.

Pesan-pesan kebaikan dapat dibaca kapan saja, bertahan puluhan tahun, dan dicerna oleh audiens, dan pembaca secara masif. Dakwah bil-qalam membutuhkan literasi yang memadai dan kesantunan diksi  agar pembaca  mampu dan dengan  mudah memahami pesan-pesan ilahi yang disampaikan.

 

Pertama, Diksi dan Gaya Bahasa

Diksi puitis menggunakan konotasi dan metafora yang menyentuh perasaan. Pembaca tidak hanya menerima informasi, tetapi juga merasakan suasana batin penulis  atas pesan yang disampaikan dalam tulisan.

Tulisan terasa seperti sebuah cerita, sehingga lebih menarik dan tidak membosankan. Pemilihan kata puitis dalam sebuah artikel dapat meningkatkan minat baca karena mampu membangkitkan emosi pembaca, menciptakan imajinasi visual, dan memberikan pengalaman membaca yang tidak membosankan.

Diksi yang indah mengubah informasi biasa menjadi lebih hidup, sehingga pembaca lebih mudah terhanyut dan betah membaca hingga akhir. Hal ini menuntut pembaca untuk ikut berpikir dan membayangkan peristiwa  yang melatarbelakangi tema dari tulisan tersebut.

Kedua, Desain yang Bersih

Ini membantu saya berkonsentrasi pada konten yang sedang dibuat tanpa terdistraksi oleh iklan yang mengganggu atau tombol yang rumit. Desain bersih memastikan tulisan kita tersaji dengan rapi, yang secara tidak langsung meningkatkan waktu kunjung dan retensi pembaca menikmati artikel.

Ketiga, Meningkatkan Kredibilitas Penulis

Tampilan yang profesional dan modern membuat tulisan terlihat serius dan tepercaya di mata pembaca. Ini didukung oleh otoritas penyunting yang jelas, pengaturan tata bahasa, dan penulis menyertakan  referensi, sumber data valid yang mudah diverifikasi oleh pembaca.

Informasi yang disajikan sangat relevan dengan kondisi saat ini. Tulisan berkualitas dan up to date  akan  membangun integritas, keilmuan, dan rekam jejak kualitas penulis dakwah bil-qalam. Tulisan yang sistematis dan berbasis literatur menunjukkan kredibilitas seorang  dai.

Berbeda dengan ceramah lisan yang menguap jika tidak direkam, berdakwah dengan tulisan akan selamanya terdokumentasi. Seorang dai yang tidak piawai beretorika di atas mimbar, dapat berdakwah lewat tulisan. Wallaahu ’alamu bishshawwab.

(Ridwan Ma’ruf)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button