Pertentangan Ilmu dan Agama: Teori Evolusi dan Al Quran tentang Manusia

Salafusshalih.com – Charles Darwin (1809–1882) seorang naturalis dan ahli biologi Inggris yang paling dikenal sebagai penggagas teori evolusi melalui seleksi alam.
Karyanya yang berjudul On the Origin of Species (1859) mengubah pemahaman sains tentang bagaimana spesies makhluk hidup berasal dan berkembang.
Charles Robert Darwin lahir di Shrewsbury, Inggris, dan dibesarkan dalam keluarga Kristen. Ayahnya, Robert Darwin, seorang pemikir bebas yang berlatar belakang keluarga terkemuka Inggris.
Teori evolusi Darwin menjelaskan manusia dan primata (seperti simpanse dan gorila) memiliki nenek moyang yang sama (Common Ancestor) jutaan tahun lalu. Garis keturunan manusia dan kera kemudian bercabang dan berkembang secara terpisah.
Pendapat ini ditolak kaum agama. Alasannya meskipun para ilmuwan menyatakan DNA antara kera dan manusia mirip, bukan berarti manusia (Homo sapiens) dan kera dari nenek moyang yang sama. Penolakan asal usul manusia ini didasari sumber kitab suci dan beberapa kritik saintifik.
Teori evolusi Darwin menjadi fondasi bagi biologi modern dan memberikan penjelasan ilmiah mengenai keragaman hayati.
Inti teori itu menjelaskan proses perubahan genetik dan sifat makhluk hidup secara bertahap dari generasi ke generasi dalam kurun waktu yang sangat lama.
Proses ini didorong oleh mekanisme utama seleksi alam. Organisme yang memiliki sifat paling sesuai dengan lingkungan akan bertahan hidup dan mewariskan sifat unggul tersebut.
Di sisi lain juga teori ini memicu kontroversi karena gagasannya yang menempatkan manusia dan kera berasal dari satu garis keturunan yang sama. Berarti manusia berevolusi dari bentuk makhluk hidup yang lebih rendah (primitif ).
Padahal Allah Ta’ala berfirman dalam surat At-Tin ayat 4.
لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Kata taqwim berarti bentuk, postur, atau tata letak yang paling sempurna. Allah menciptakan manusia dengan postur tubuh yang tegak, anggota badan yang serasi dan fungsional, serta dilengkapi akal budi, pikiran, dan perasaan yang membedakannya dari hewan.
Kesempurnaan ini menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling unggul di bumi dan menjadikannya pemegang amanah sebagai khalifah (pemimpin/pengelola).
Informasi dari Al Quran
Pendapat ini bertentangan dengan Al-Quran. Bahkan bertentangan dengan kitab-kitab samawi yang telah menjelaskan, Adam alaihi salam adalah ayah semua manusia. Darinya menurunkan anak-anak, dan cucu mahluk berjenis manusia, bukan sebagaimana pendapat Darwin dan pengikutnya.
Mereka mengategorikan, manusia dari keturunan, dan bernasab kepada kera, dan sebangsanya, dan tidak mengakui bernasab kepada Adam. Maka menurutnya manusia adalah kera yang memiliki peradaban. Sehingga tidak sedikit sebagian orang cerdik cendikia tertipu dengan teori ini.
Menurut perspektif Al-Qur’an, teori Darwin yang menyatakan asal usul manusia dan kera dari nenek moyang sama ditolak secara mutlak. Al-Qur’an menjelaskan, manusia diciptakan secara langsung dari tanah.
Oleh karenanya ada tiga pokok utama yang membantah teori Darwin berdasarkan perspektif Al-Qur’an sebagai berikut :
Pertama, Penciptaan Manusia Pertama Bukan dari Kera (Berasal dari Tanah)
Al-Qur’an menegaskan Nabi Adam sebagai manusia pertama diciptakan langsung oleh Allah dari saripati tanah (turab), kemudian dibentuk dan ditiupkan roh ke dalamnya.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Hijr ayat 28 – 29.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى خَٰلِقٌۢ بَشَرًا مِّن صَلْصَٰلٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ ,فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُوا۟ لَهُۥ سَٰجِدِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
Ayat ini terkandung makna manusia diciptakan dari unsur bumi (tanah). Ini adalah simbol sifat manusia yang harus rendah hati. Allah memberitahu malaikat supaya mereka tahu bahwa manusia akan menjadi makhluk mulia yang bertugas sebagai pemimpin (khalifah) di bumi.
Penyandaran kata roh kepada Allah (rohKu) berfungsi untuk memuliakan dan mengagungkan derajat Adam sebagai khalifah di muka bumi.
Dan sujud yang dimaksud pada ayat ini bukanlah penyembahan kepada Adam, melainkan sujud dalam bentuk penghormatan dan ketaatan kepada Allah yang mematuhi perintahNya.
Kedua, Status Manusia dan Kera adalah Dua Makhluk Berbeda
Manusia memiliki akal, potensi ilmu, dan kemuliaan. Teori Darwin yang menyamakan garis keturunan manusia dengan hewan menyalahi konsep kekhalifahan (pemimpin bumi) yang Allah berikan khusus kepada manusia.
Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Mukminun ayat 12 – 14.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍ مِّن طِينٍ, ثُمَّ جَعَلْنَٰهُ نُطْفَةً فِى قَرَارٍ مَّكِينٍ,ثُمَّ خَلَقْنَا ٱلنُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا ٱلْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا ٱلْمُضْغَةَ عِظَٰمًا فَكَسَوْنَا ٱلْعِظَٰمَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
Ayat ini menjelaskan kemahakuasaan Allah dalam menciptakan manusia. Saripati tanah tersebut adalah unsur pembentuk manusia pertama (Nabi Adam), yang kemudian keturunannya diciptakan melalui proses kejadian dari setetes air mani.
Pada ayat ini ada kalimat qararin makin. Artinya adalah rahim ibu. Rahim disebut tempat yang kokoh karena strukturnya kuat dan posisinya aman.
Rahim melindungi janin dengan baik dari guncangan. Rahim juga menjaga janin dari perubahan suhu dan bahaya luar lainnya.
Pada ayat di atas sekaligus menjadi bukti kekuasaan Allah Ta’ala yang kelak mampu menghidupkan kembali manusia setelah mati (hari kebangkitan).
Ketiga, Kera adalah Spesies yang Dihukum, Bukan Nenek Moyang
Dalam Al-Qur’an, kera justru disebut sebagai bentuk hukuman dari Allah Ta’ala kepada suatu kaum yang melanggar perintahNya di masa lalu. Hal ini membantah keras anggapan bahwa kera adalah bentuk nenek moyang manusia.
Allah berfirman dalam Al-Baqarah ayat 65.
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ ٱلَّذِينَٱعْتَدَوْا۟ مِنكُمْ فِى ٱلسَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا۟ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ
Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina.
Ayat ini menceritakan tentang orang-orang Yahudi dari negeri Aylah (negeri dekat laut). Dulunya orang-orang Yahudi diperintahkan untuk beribadah di hari sabtu, namun mereka membuat tipu daya, dan melanggar ketentuan Allah Ta’ala yaitu bekerja di hari Sabtu untuk berburu ikan. Maka Allah Ta’ala ubah tubuh mereka menjadi kera dengan keadaan terusir dan terhina.
Kesimpulan
Dalam Islam, teori manusia berasal dari kera dinyatakan batal dan gugur. Al-Qur’an secara tegas menyebut manusia diciptakan langsung dari tanah, bukan hasil evolusi hewan.
Umat Islam meyakini bahwa manusia pertama adalah Nabi Adam. Dia diciptakan utuh dan sempurna oleh Allah Ta’ala. Wallaahu ’alamu bishshawwab.
(Ridwan Ma’ruf)



