Alarm Doa Mustad’afin di Langit Indonesia
Salafusshalih.com – Kerusakan lingkungan, krisis sosial, hingga konflik kemanusiaan bukan hanya masalah politik dan ekonomi. Dalam perspektif spiritual Islam, semua itu bisa dibaca sebagai tanda doa kaum mustadafin—orang-orang tertindas—yang menembus langit tanpa hijab (pembatas).
Alarm Ilahi ini seakan mengetuk kesadaran bangsa Indonesia: sudahkah kita menegakkan keadilan, atau justru larut dalam kezaliman?
Contoh-contoh nyata hadir di sekitar kita: perampasan tanah, pemenjaraan orang yang tak bersalah, hingga penghilangan nyawa tanpa hak.
Semua itu bukan sekadar catatan kelam, melainkan panggilan dari Allah Swt., Tuhan semesta alam, agar umat manusia kembali kepada kesadaran spiritual tentang pentingnya kearifan hukum, kejujuran, dan sikap ramah terhadap mereka yang lemah.
Dalam perspektif spiritualitas Islam, kondisi buruk ini terjadi di antaranya karena doa kaum mustadafin—orang-orang lemah, tertindas secara fisik, mental, ekonomi, sosial, maupun politik oleh penguasa atau pengusaha hitam secara sistemik dan masif. Mereka mengadukan kesulitan hidupnya hanya kepada Allah Swt., dan doa mereka pun dikabulkan.
Sabda Nabi Saw.:
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
“Waspadailah doa orang yang terzalimi, karena tidak ada hijab (penghalang) antara ia dan Allah.” (H.R. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa doa orang terzalimi pasti maqbul, termasuk doa buruk atas orang yang menzaliminya.
Larangan Bersikap Zalim
Penjelasan ini menjadi motivasi bagi kita semua untuk segera introspeksi diri, menghentikan segala bentuk aniaya, dan menebar keramahan kepada sesama. Dengan begitu, tercapai kesejahteraan, keadilan, dan kemanusiaan di bumi Indonesia yang kita cintai. Wallaahualambisawab.
(Ridwan Ma’ruf)



