Mujadalah

Ironi Literasi Digital dalam Pengasuhan Modern: “Anak Anteng di Kamar, tapi Terpapar Radikalisme”

Salafusshalih.com – Zaman sekarang, masih begitu banyak orang tua modern yang merasa sangat khawatir jika anaknya melangkah keluar rumah. Ada semacam ketakutan kolektif terhadap bahaya fisik di jalanan, sehingga membatasi aktivitas anak menjadi pilihan utama. Padahal, berbagai kegiatan menarik dan bermanfaat seperti bermain atau berolahraga di luar ruangan sangat penting bagi tumbuh kembang mereka. Namun, ironisnya, banyak orang tua justru merasa lega dan tenang saat melihat anaknya “anteng” di dalam kamar dan tidak keluyuran di luar.

Memang, niat orang tua pastilah baik demi menjaga keamanan sang anak. Namun, jika kita melihat dalam skala yang lebih luas, muncul masalah serius yang jarang disadari jika pembatasan fisik ini diterapkan secara berlebihan tanpa melihat sisi lainnya. Masalah itu bernama “pintu dunia” lewat layar ponsel. Banyak orang tua menerapkan ketidakseimbangan pengawasan yang sangat tajam. Di satu sisi mereka begitu ketat membatasi kegiatan offline, tapi di sisi lain membebaskan anak mengakses dunia digital yang nampak lebih ‘liar’ dan membingungkan bagi psikologi anak.

Data dari BPS menunjukkan bahwa 33,44% anak usia dini (0-6 tahun) di Indonesia sudah menggunakan ponsel pintar. Jika dikerucutkan pada anak usia 5-6 tahun, persentasenya melonjak hingga 52,76%. Artinya, lebih dari separuh anak Indonesia yang baru akan masuk sekolah dasar sudah “melek” gawai. Data dari APJII mengatakan mayoritas dari anak-anak mengakses internet menggunakan perangkat mobile (ponsel) milik pribadi atau meminjam milik orang tua.

Kemudian, dalam studi bertajuk Digital Citizenship among Children and Adolescents in Indonesia, ditemukan fakta bahwa sekitar 79% anak-anak dan remaja (usia 10-19 tahun) di Indonesia adalah pengguna internet aktif. Motivasi utama mereka adalah mencari informasi, terhubung dengan teman, dan hiburan (game/video).

Fenomena ini menjadi bom waktu yang sangat mengkhawatirkan jika tidak dibarengi dengan filter ideologi yang tepat. Ruang digital tidak memiliki batas dan anak-anak adalah salah satu target empuk dari infiltrasi paham-paham menyimpang. Sering kali kita mendengar cerita tentang anak atau remaja yang tiba-tiba mengalami perubahan perilaku seperti menjadi lebih tertutup, mudah menyalahkan orang lain, hingga fasih menggunakan narasi kebencian yang tidak sesuai dengan usianya.

Muaranya jelas, paparan konten tanpa filter yang diperparah dengan absennya pengawasan orang dewasa. Kesenjangan antara proteksi fisik yang ketat dan pengabaian pengawasan digital menjadi pintu masuk utama bagi radikalisme digital. Ketika orang tua merasa aman hanya karena anak berada di rumah, di saat yang sama, pikiran anak mungkin sedang ‘diculik’ oleh narasi ekstremisme yang menyamar di balik konten-konten keagamaan yang manipulatif.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana masalah dari fenomena ini bisa diatasi?

Parental Mediation

Amy Nathanson, seorang pakar komunikasi dari Ohio State University, menawarkan teori parental mediation. Nathanson menjelaskan tiga tipe mediasi orang tua terhadap media; pertama, restrictive mediation, yakni melarang total (namun sering kali gagal karena memicu pemberontakan). Kedua, active mediation, yaitu mendiskusikan konten bersama anak (paling ideal). Ketiga, coviewing, yaitu hanya menonton bersama tanpa diskusi (pasif)

Kebanyakan orang tua hanya melakukan restrictive mediation pada dunia offline, tapi melakukan pengabaian (neglect) pada dunia online. Mereka merasa “diam di rumah” adalah variabel tunggal keamanan. Padahal aktivitas offline yang digantikan dengan layar ponsel dengan tanpa pengawasan bahkan bisa lebih berbahaya.

Anak Manis di Mata, tapi jadi Korban lewat Layar

Ironisnya, banyak orang tua yang punya rasa bangga jika punya anak penurut yang jarang keluar rumah. Atau dengan kata lain, ada sebuah kepuasan semu bagi orang tua saat melihat anaknya menjadi “anak rumahan.” Mereka bangga punya anak penurut yang jarang keluar. Tapi kalau dilihat dari kacamata psikologi digital, “anak manis” ini justru sering kali jadi target empuk hal-hal negatif di balik layar ponsel mereka.

Tanpa pengawasan digital yang aktif, anak-anak sangat rentan terpapar konten cyberbullying, pornografi, hingga yang paling krusial adalah algoritma radikalisme yang berkedok konten hijrah atau pembelaan agama yang semu. Melalui gawai yang diberikan sebagai “hadiah”, mereka bisa saja sedang mengalami proses indoktrinasi halus yang memisahkan mereka dari nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Pakar media dan komunikasi dari London School of Economics, Sonia Livingstone, menekankan bahwa melindungi anak bukan berarti menjauhkan mereka dari risiko, tapi justru mengajarkan mereka cara menghadapi risiko itu. Dia berpendapat bahwa pola asuh yang hanya bersifat restriktif (melarang) justru akan menghambat kemampuan anak untuk belajar melindungi diri sendiri.

Saya suka membahasakannya dengan anak yang tidak pernah diajari cara “menyeberang” di jalanan digital akan langsung tertabrak saat mereka menemui konten negatif seperti narasi radikal yang provokatif. Tanpa bekal imunitas ideologi yang kuat, anak-anak akan mudah goyah saat berhadapan dengan paham ekstrem yang menjanjikan kepastian semu di dunia maya

Orang tua merasa tugasnya selesai jika anak sudah di rumah dan makan dengan teratur. Padahal, di era sekarang, ancaman penculikan fisik mungkin sudah berkurang, tapi ‘penculikan’ perhatian dan infiltrasi ideologi radikal melalui layar ponsel justru meningkat ribuan kali lipat. Membiarkan anak online tanpa pengawasan sambil melarang mereka aktivitas offline adalah bentuk kemalasan pengasuhan yang dibungkus dengan alasan kasih sayang. Kita hanya ingin merasa aman sebagai orang tua, tanpa benar-benar memastikan apakah anak kita memang aman.

Jangan Bangga Anak Anteng di Kamar, Siapa Tahu sedang “Tawuran” di Forum Gelap Internet

Pada intinya, kita jangan dulu bangga jika anak anteng di kamar kalau kita sendiri tidak tahu apa yang mereka konsumsi di dunia digital. Keamanan anak tak lagi bisa diukur dari sejauh mana mereka melangkah keluar rumah, tapi seberapa jauh dan sehat mereka berselancar di internet.

Orang tua harus berhenti menjadi sekadar polisi lalu lintas offline dan mulai bertransformasi menjadi teman diskusi digital yang mampu menangkal infiltrasi radikalisme. Sungguh ironis, kita histeris pada ancaman fisik yang terlihat, namun santai membiarkan ideologi radikal merusak masa depan anak di depan mata.

(Achmad Adzimil Burhan Al Hanif)

Related Articles

Back to top button