Mengelola Kecemasan Masa Depan

Salafusshalih.com – Menurut pandangan Islam, manusia menghadapi masa depan dengan rasa takut, di antaranya karena keterbatasan diri dan bisikan setan.
Setan sering menakut-nakuti manusia dengan ancaman kemiskinan atau kegagalan, mendorong mereka untuk mencemaskan rezeki atau menghalalkan yang haram.
Allah Taala berfirman dalam Al-Baqarah ayat 268:
ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعْدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Makna ayat tersebut menyingkap tipuan setan yang terkesan menasihati, padahal sebenarnya mengajak manusia untuk melanggar perintah Allah, misal bersikap kikir atau menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan agar berbuat tamak untuk memperoleh yang haram.
Sebagaimana ungkapan, “Mencari haram saja susah, apalagi yang halal.” Dengan ayat tersebut, Islam menegaskan bahwa secemas apa pun seseorang menghadapi masa depan, harapan selalu ada selama ia tetap bertaut dengan Allah.
Fokus Pada Langkah Konkret Hari Ini
Kecemasan terhadap masa depan bukanlah kelemahan, melainkan harus diolah menjadi dorongan untuk lebih dekat kepada Allah dan lebih giat dalam berusaha.
Menyibukkan diri dengan hal-hal yang belum terjadi justru memperbesar kecemasan dan melemahkan fokus pada apa yang bisa dikendalikan saat ini.
Islam menganjurkan umatnya untuk fokus pada perbuatan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Nabi Saw bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا، كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
“Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Jika kamu ditimpa sesuatu, jangan berkata: ‘Seandainya aku lakukan begini, tentu akan begini dan begitu,’ tapi katakanlah: ‘Ini takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, pasti terjadi.’” (Ibnu Majah)
Hadits ini mengandung makna larangan memikirkan hal-hal yang belum terjadi, karena selain melemahkan keteguhan hati dan kepercayaan kepada Allah Ta’ala, hal itu juga menunjukkan ketidakridhaan terhadap takdir Allah.
Pentingnya Usaha Keras dan Bergantung kepada Allah
Setiap Muslim harus realistis dalam menghadapi tantangan dunia tanpa melupakan persiapan untuk akhirat. Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra. berkata:
ٱحْرِصْ عَلَى مَوْتَتِكَ فَإِنَّكَ إِلَى يَوْمِ ٱلْقِيَامَةِ مُقْبِلٌ، وَعَلَى دُنْيَاكَ فَإِنَّكَ إِلَى مَوْتَتِكَ مُدْبِرٌ
“Persiapkanlah untuk kematianmu karena engkau sedang menuju hari kiamat, dan persiapkanlah duniamu karena engkau sedang menuju kematian.”
Maka, seseorang hendaknya memandang masa depannya dengan perencanaan yang baik, usaha maksimal, dan doa tulus, karena di dalamnya terkandung sikap optimis sekaligus pasrah (tawakal) atas ketetapan terbaik dari Allah Ta’ala.
Yakinlah Rezeki Tidak Akan Tertukar
Keyakinan ini didasari oleh prinsip agama, bahwa sesuatu yang telah ditakdirkan menjadi rezeki seseorang tidak akan pernah dapat diambil oleh orang lain. Sebaliknya, apa yang tidak ditakdirkan untuknya juga tidak akan menjadi miliknya. Keyakinan ini mengajarkan ketenangan jiwa dan mengurangi kecemasan terhadap masa depan yang belum pasti. Allah berfirman dalam Hud ayat 6:
۞ وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa rezeki bukan sekadar harta. Rezeki meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, seperti kesehatan, kepintaran, dan keluarga yang harmonis.
Kesimpulan
Kekhawatiran terhadap masa depan memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, namun dapat dikelola dengan cara yang baik dan benar: memperkuat iman tauhid, tetap berikhtiar, dan terus berdoa. Wallaahualambisawab.
(Ridwan Ma’ruf)



