Hadis

Selembar Plastik dan Cahaya Ukhuwah di Masjidil Haram

Salafusshalih.com – Menjelang waktu Zuhur, setelah berbenah di kamar hotel, saya bersama rombongan turun dan melangkah menuju Masjidilharam. Tujuan kami satu: pintu nomor 91.

Sesampainya di sana, suasana cukup padat. Jemaah berjubel, antrean mengular. Petugas mengatur masuk bergiliran. Dari pintu 91 kami diarahkan ke lift pertama, lalu dilanjutkan ke lift kedua. Di dalam lift kedua itulah, sebuah peristiwa kecil namun bermakna itu terjadi.

Di sebelah saya berdiri seorang lelaki paruh baya. Tangannya memainkan selembar plastik—plastik pembungkus sandal yang rupanya sulit ia buka. Tiba-tiba, plastik itu ia sodorkan kepada saya, dengan raut wajah penuh harap.

Saya segera memahami maksudnya. Plastik itu saya terima, saya buka perlahan, lalu saya kembalikan kepadanya sambil tersenyum. Ia menerimanya dengan wajah berbinar. Senyum pun mengembang di wajahnya.

“Indonesia?” tanyanya.

Saya mengangguk.

Ia tertawa kecil, lalu memperkenalkan diri, “Majid, from Pakistan.”

Kami pun berbincang singkat hingga lift berhenti di lantai tiga. Sebelum berpisah, kami sempat berswafoto. Sebuah kenangan sederhana: senyum bersama plastik, di atas lift Masjidilharam.

Namun justru di sanalah letak keindahannya.

Hikmah Kecil, Makna Yang Besar

Peristiwa kecil itu mengingatkan saya pada sabda Nabi Muhammad Saw.:

اللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa menolong tidak diukur dari besar-kecilnya perbuatan, tetapi dari ketulusan dan dampaknya bagi sesama. Bahkan pertolongan sesederhana membuka plastik sandal pun mampu menumbuhkan kegembiraan dan mengikat persaudaraan tanpa sekat bangsa.

Lebih dari itu, Rasulullah Saw. juga bersabda:

وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa mengangkat kesulitan seorang muslim, Allah akan mengangkat kesulitannya pada hari kiamat.” (Bukhari dan Muslim)

Setiap kesulitan yang kita ringankan, sekecil apa pun, tidak pernah sia-sia. Ia menjadi simpanan cahaya yang kelak Allah balas dengan pertolongan-Nya sendiri.

Penutup

Di antara jutaan langkah jemaah, Allah menghadirkan pelajaran lewat hal yang nyaris tak terlihat: selembar plastik dan dua senyum yang saling berjumpa.

Di atas lift Masjidilharam, saya belajar kembali bahwa ibadah tidak selalu berupa ritual besar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang paling sederhana: membantu, tersenyum, dan membuat hati orang lain menjadi ringan.

Dan di sanalah, sesungguhnya, makna ukhuah itu berdiam.

(Masroin Assafani)

Related Articles

Back to top button