Tsaqofah

Literasi Sebagai Jantung Dakwah

Salafusshalih.com – Perintah pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ bukanlah “berjuanglah” atau “berdakwalah”, melainkan “iqra’”—bacalah! Ini bukan tanpa makna. Wahyu pertama itu menjadi fondasi peradaban Islam yang berbasis ilmu dan literasi.

Ayat pertama yang turun, “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq” (Al-‘Alaq: 1), menjadi dasar utama bagi M. Natsir untuk menempatkan membaca sebagai ibadah dan jihad ilmu.

Dalam salah satu tulisannya, ia menegaskan: “Tidak ada kemajuan tanpa ilmu, dan tidak ada ilmu tanpa membaca. Membaca dalam Islam adalah ibadah yang menghidupkan akal dan menyucikan jiwa.” (M. Natsir, Fiqhud Dakwah).

Sangat Strategis

Dengan membaca, aktivis dakwah membangun kesadaran spiritual dan intelektual sekaligus. Dalam konteks hari ini, santri dan aktivis dakwah merupakan pewaris amanah Iqra’.

Mereka adalah garda depan dalam menjaga kemurnian ajaran Islam sekaligus pembawa pesan rahmat bagi seluruh umat. Namun, di tengah derasnya arus informasi dan tantangan global, kemampuan literasi bukan lagi sekadar pelengkap—melainkan kebutuhan pokok dalam berdakwah.

Secara umum, literasi berarti kemampuan membaca, menulis, memahami, dan mengolah informasi. Namun dalam perspektif Islam, literasi tidak berhenti pada kemampuan intelektual, tetapi juga mencakup kesadaran spiritual: membaca dengan menyebut nama Allah.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan” (Al-‘Alaq: 1).

Ayat di atas menegaskan bahwa literasi adalah ibadah. Membaca menjadi jalan mengenal Tuhan, menumbuhkan iman, dan memperluas wawasan hidup. Maka, santri dan aktivis dakwah dituntut menjadikan iqra sebagai napas perjuangan mereka.

Mereka tidak boleh hidup dalam ruang pikir yang sempit: harus memahami perkembangan zaman, perubahan sosial, dan tantangan ideologi modern.

Maka membaca tidak cukup hanya kitab agama, tetapi juga buku-buku sosial, politik, budaya, ekonomi, dan sains—agar dakwahnya kontekstual dan bijak.

Urgensi Literasi

Berikut ini urgensi literasi bagi santri dan aktivis dakwah:

1. Menjaga Kemurnian Pemahaman Islam

Banyak kekeliruan praktik keagamaan lahir dari kelemahan membaca sumber yang benar. Santri dan da’i yang memiliki literasi kuat—rajin membaca kitab, tafsir, literatur dakwah, serta mampu memilah mana dalil sahih dan mana yang daif; mana pemikiran lurus dan mana yang menyimpang—akan lebih bijak dan ilmiah dalam menyampaikan kebenaran. Dakwahnya menjadi kokoh dan berwibawa.

2. Menjawab Tantangan Zaman

Era digital melahirkan banjir informasi, termasuk yang menyesatkan. Aktivis dakwah yang tidak melek literasi digital mudah terjebak hoaks atau narasi ekstrem. Dengan literasi yang baik, ia dapat menelusuri sumber, memverifikasi data, dan menyampaikan dakwah yang berimbang dan terpercaya. Sehingga tidak ikut menyebarkan hoaks padahal niatnya ingin berdakwah.

3. Meningkatkan Kualitas Dakwah yang Menyentuh Hati

Kedalaman ilmu menggerakkan akal dan hati. Literasi yang luas—keislaman, sosial, budaya, maupun teknologi—membuat seorang da’i mampu berbicara dengan bahasa zaman dan menghadirkan Islam yang solutif, bukan hanya normatif.

4. Menghidupkan Tradisi Intelektual Islam

Sejarah Islam penuh ulama gemar membaca dan menulis. Dari Imam Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, hingga M. Natsir—semuanya figur da’i yang memiliki kekuatan literasi luar biasa. Tradisi keilmuan inilah yang melahirkan peradaban Islam yang agung.

Catatan Penting

Berikut jenis literasi yang diperlukan, antara lain:

  • Literasi Keagamaan – memahami Al-Qur’an, hadis, fikih, akhlak, dan sejarah Islam dengan pendekatan ilmiah dan tadabur.

  • Literasi Bahasa – menguasai bahasa Arab sebagai kunci memahami sumber Islam, serta bahasa Indonesia dan Inggris untuk memperluas jangkauan pengetahuan.

  • Literasi Digital – cakap memanfaatkan media sosial untuk dakwah yang bijak, kreatif, dan beretika.

  • Literasi Sosial dan Budaya – memahami konteks masyarakat agar dakwah mudah diterima.

  • Literasi Kritis dan Analitis – tidak mudah percaya pada narasi sesat dan propaganda, serta mampu berpikir jernih dan argumentatif.

Sebagian Jalan

Untuk menumbuhkan budaya literasi di lingkungan santri dan aktivis dakwah, perlu langkah nyata, misalnya:

  • Gerakan “Santri Membaca setiap Hari”—membiasakan membaca kitab dan buku umum minimal 15 menit per hari.

  • Pelatihan Literasi Dakwah Digital—membimbing memanfaatkan teknologi untuk dakwah kreatif.

  • Forum Diskusi dan Bedah Buku—melatih berpikir kritis dan keterampilan berbicara.

  • Kolaborasi dengan Komunitas Literasi Islam—memperluas jejaring keilmuan dan dakwah berbasis pengetahuan.

Baca, Membacalah!

Literasi adalah jantung peradaban dakwah. Tanpa literasi, dakwah kehilangan arah dan kekuatan hujah. Santri dan aktivis dakwah harus menjadi ummatan qāri’ah—umat yang gemar membaca, menulis, dan menyebarkan ilmu dengan adab dan hikmah.

Dakwah bukan sekadar menyeru dengan lisan, tetapi juga membangun kesadaran ilmiah dan pemikiran Islam di tengah umat. Karena itu, membaca adalah kebutuhan utama seorang aktivis dakwah. Dakwah yang kuat lahir dari pemikiran matang dan ilmu yang luas—dan ilmu tidak bisa diraih tanpa budaya membaca.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا الْأَلْبَابِ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya ulul albab (orang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran” Az-Zumar: 9).

Marilah kita hidupkan kembali semangat Iqra’—bukan sekadar membaca huruf, tetapi membaca zaman, membaca manusia, dan membaca tanda-tanda kebesaran Allah. Dengan literasi yang kuat, dakwah akan menjadi lebih cerdas, lembut, dan berdaya ubah. Wallahualambisaawab.

(Kemas Adil Mastjik)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button