Di Masjid Nabawi, Rindu Tak Pernah Benar-Benar Usai

Salafusshalih.com – Tidak semua kerinduan dapat diukur dengan hitungan waktu. Ada rindu yang bertahun-tahun dipendam dalam doa, dipelihara dalam harapan, lalu dijawab Allah dengan cara yang begitu indah.
Begitulah rasanya ketika dahi ini akhirnya kembali menyentuh karpet Masjid Nabawi, Madinah.
Masjid yang menjadi impian jutaan umat Islam di seluruh dunia itu bukan sekadar bangunan megah. Ia adalah tempat hati menemukan ketenangan, tempat air mata jatuh tanpa malu, dan tempat setiap sujud terasa begitu dalam.
Di sanalah kerinduan untuk bersimpuh, bersujud, berzikir, dan memanjatkan doa mencapai puncaknya.
Ketika azan dikumandangkan dan saf-saf salat mulai dirapatkan, suasana berubah menjadi begitu syahdu. Suara azan menggema memenuhi ruang masjid.
Beberapa saat kemudian, imam melantunkan Surah Al-Fatihah dengan bacaan yang merdu, disusul ayat-ayat Al-Qur’an yang panjang dan penuh penghayatan. Setiap ayat yang terdengar seakan mengetuk relung hati, menghadirkan rasa damai yang sulit diterjemahkan dalam kata-kata.
Di dalam saf itu, tidak ada lagi perbedaan bangsa, bahasa, maupun warna kulit. Berdiri sejajar dengan jemaah dari berbagai penjuru dunia menjadi pengingat bahwa umat Islam dipersatukan oleh kiblat yang sama dan Tuhan Yang Maha Esa.
Semua berdiri, rukuk, lalu bersujud dalam kerendahan hati yang sama.
Saat Dahi Menyentuh Karpet Masjid Nabawi
Saat dahi menyentuh karpet Masjid Nabawi, waktu seakan berhenti. Sujud itu terasa begitu panjang karena hati seolah enggan berpisah darinya.
Ada haru yang tak mampu dibendung. Ada kebahagiaan yang meluap tanpa suara. Air mata mengalir begitu saja, membasahi pipi, seolah menjadi bahasa paling jujur untuk mengungkapkan rasa syukur.
Kesejukan ruangan, suasana masjid, serta lantunan ayat suci yang menggema berpadu menghadirkan kenikmatan batin yang sulit digambarkan.
Pada momen itulah saya merasakan betapa Allah telah menjawab kerinduan yang selama ini dipanjatkan dalam doa.
Sujud itu bukan sekadar gerakan dalam salat. Di dalamnya ada kepasrahan, rasa syukur, sekaligus kesadaran bahwa seorang hamba tidak memiliki apa-apa tanpa kasih sayang Allah.
Di tempat yang selama ini dirindukan, saya kembali belajar bahwa ada kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan harta maupun kedudukan. Salah satunya adalah kesempatan berdiri di antara saf orang-orang beriman, lalu menempelkan dahi dalam sujud di Masjid Nabawi.
Nikmat itu terasa begitu besar.
Di antara ribuan jemaah yang datang dari berbagai negara, masing-masing membawa doa, harapan, dan kisah hidupnya sendiri. Namun, saat salat dimulai, semuanya melebur dalam gerakan yang sama.
Berdiri.
Rukuk.
Lalu bersujud kepada Allah.
Pulang Membawa Rindu Yang Baru
Mungkin itulah sebabnya orang yang pernah merasakan suasana Masjid Nabawi sering pulang dengan satu kerinduan baru: keinginan untuk kembali.
Saya pun merasakan hal yang sama.
Kerinduan yang selama bertahun-tahun tersimpan memang telah terobati ketika kaki kembali menginjak Madinah. Namun, setelah bersujud di Masjid Nabawi, justru tumbuh kerinduan yang lain.
Rindu untuk suatu hari nanti kembali berdiri dalam saf yang sama.
Rindu mendengar lantunan Al-Qur’an dari imam Masjid Nabawi.
Rindu menempelkan dahi dalam sujud, lalu mengadukan segala harapan hanya kepada Allah.
Barangkali begitulah Madinah bekerja di dalam hati. Ia tidak hanya menerima orang-orang yang datang dengan kerinduan, tetapi juga membuat mereka pulang dengan kerinduan yang baru.
Saat dahi kembali terangkat dari sujud, saya sadar bahwa perjalanan ini kelak akan berakhir. Saya akan meninggalkan Madinah, kembali ke rumah, kembali pada pekerjaan dan rutinitas sehari-hari.
Namun, ada satu doa yang rasanya akan terus tinggal: Ya Allah, jangan jadikan ini sujud terakhirku di Masjid Nabawi. Berilah kesempatan untuk kembali.
(Ichwan Arif)



