Mujadalah

Antek Zionis: Mengurai Kemunafikan Teroris HTS dan Daulah Palsu

Salafusshalih.com – Munafik. Itu kata yang kali pertama keluar ketika saya baca berita soal pertemuan Presiden AS, Donal Trump, dengan eks-teroris alumni Al-Qaeda, Al-Jaulani, atau yang sekarang pakai nama Ahmed al-Sharaa. Bayangkan, teroris yang dulu kepalanya dihargai $10 juta oleh AS, kemarin duduk bareng Presiden AS di ruangan tertutup di Riyadh, Arab Saudi, diapit Mohammed bin Salman dan suara Tayyip Erdoğan lewat sambungan telepon.

Pertemuan itu terjadi diam-diam, namun dampaknya bergemuruh. Trump secara terbuka mencabut sanksi puluhan tahun terhadap Suriah, membuka jalan bagi Al-Jaulani dan kelompoknya untuk bergabung dalam Abraham Accords dan akan segera mengakui Israel. Iya, Anda tidak salah dengar: kelompok yang selalu jual diri sebagai pejuang tauhid dan anti-Zionis, kemarin justru bernegosiasi untuk duduk bersama di meja normalisasi. Memalukan.

Dan lebih ironisnya lagi, sebagaimana saya kutip dari Greeley Tribune, permintaan Trump pada Al-Jaulani tak main-main: usir jihadis asing dari Suriah, ambil alih kamp tahanan ISIS, dan jaga stabilitas Suriah demi kepentingan AS—kontrak yang bahkan rezim sekuler sekalipun belum tentu sanggup atau mau penuhi. Hanya satu alasan mengapa Al-Jaulani mau, yaitu, kemunafikannya sendiri atas seluruh perjuangannya sejak awal.

Apa yang terjadi di Riyadh kemarin bukanlah diplomasi dadakan. Ia adalah operasi cuci muka paling brutal dalam sejarah konflik Timur Tengah. Al-Jaulani, teroris dengan rekam jejak berdarah, kini menceburkan diri ke orbit mitra kontra-terorisme AS, hanya karena ia bersedia memainkan peran baru: mengkonsolidasikan stabilitas semu, mengusir pejuang Palestina dengan tuduhan teroris, dan perlahan menyeret Suriah ke orbit pengaruh Zionis.

Lalu siapa yang ikut mendesain panggung kemunafikan tersebut? Tak lain dan tak bukan: Arab Saudi, episentrum Wahabisme yang selama ini mengaku penjaga Islam, tapi dalam praktiknya justru jadi kacung Zionis. Israel sendiri bagaimana? Jelas gembira. Bagi mereka lebih baik berurusan dengan jihadis munafik seperti Al-Jaulani dan komplotannya, ketimbang menghadapi pejuang jihad sejati Palestina yang tak bisa dibeli.

Permintaan Netanyahu agar Trump tak terburu-buru mencabut sanksi pada Suriah hanyalah sandiwara kecil di panggung besar kompromi. Sebab, selama Al-Jaulani bersedia menjauh dari Iran, membungkam Hamas, dan tunduk pada skema Abraham Accord, maka jejak buruk masa lalunya bisa dihapus. Di situlah letak kemunafikan paling telanjang dari kelompok teror: mereka yang sejak dulu koar-koar jihad dan Daulah ternyata kini ngokop pantat Zionis.

Daulah Palsu: Kemunafikan Berjubah Jihad

Ketika HTS menguasai Suriah dan menggulingkan rezim Assad, dunia untuk pertama kalinya menyaksikan nasib bila kelompok jihadis yang selalu mendaku sebagai ‘penegak Daulah Islamiah’ benar-benar memegang kekuasaan. Hasilnya ialah kekacauan administratif, represi politik, dan kompromi ideologis yang memalukan. Tak ada satu pun prinsip khilafah atau Daulah yang ditegakkan. Sebaliknya, HTS jadi rezim milisi pragmatis yang mencederai Islam.

Ini adalah puncak kemunafikan dari proyek Daulah semua kelompok teror. Dan seluruh umat Islam mesti menjadikannya cermin besar, bahwa HTS, ISIS, dan lainnya, bukanlah pengejawantahan ideologi Islam. Semua doktrin mereka palsu dan hipokrit. Mereka adalah produk ambisi kekuasaan yang dibalut retorika islami. Daulah yang mereka janjikan bukanlah negara Islam, melainkan negara kekuasaan yang melegalkan kekerasan politik.

Tatkala HTS berhasil menjauhkan diri dari cap ‘teroris’ dengan cara memutus hubungan dengan Al-Qaeda dan melakukan modernisasi struktur, mereka seolah ingin diterima di meja perundingan global. Namun, yang sesungguhnya mereka ubah bukanlah ideologi jihad. Mereka hanya membuka topengnya sebagai kelompok teroris yang otoriter, sektarian, inkonsisten, dan menjadikan Islam sebagai batu tunggangan belaka.

Yang lebih mengerikan ialah bagaimana proyek Daulah palsu di-copy-paste hampir semua kelompok teror modern: ISIS, AQAP, Boko Haram, bahkan JI pada masanya. Semua mengklaim ingin menegakkan Daulah, padahal yang mereka hendak dirikan hanya tirani dan kemunafikan. Jihad mereka bukanlah perlawanan terhadap kezaliman global, melainkan jalan pintas menuju kekuasaan absolut, kendati taruhannya adalah muruah Islam.

HTS dan Al-Jaulani merupakan prototipe sempurna ‘Daulah Palsu’, citra yang ditenun dari ayat suci namun ditenagai oleh kekerasan, dendam sektarian, dan nafsu dominasi. Ketika mereka memegang wilayah, justru mereka telanjang: tak satu pun esensi Islam yang mereka jaga. Sama seperti ISIS, mereka hanya bisa hidup dalam kekacauan, berlindung di bawah kemunafikan diri, dan mengukuhkan kekuasaan lewat darah.

Maka sudah sepantasnya umat Islam cerdas dan tak dibodohi kelompok teroris. Khilafah sejati lahir dari musyawarah, keilmuan, dan amanah, jauh sekali dari apa yang para teroris lakukan selama ini. Di tangan para teroris, ia berubah jadi alat propaganda paling kotor, iman dipakai sebagai lisensi membunuh, dan negara dibajak menjadi mesin penghisap kekuasaan oleh segelintir elite bersenjata. Tentu, kasusnya bukan HTS saja. Semua teroris itu munafik.

Daulah Pro-Zionis: Berkomplot dengan Musuh

Selama bertahun-tahun, HTS, ISIS, dan jaringan sempalan Salafi-Wahabi lainnya memainkan satu narasi tunggal: perlawanan terhadap Barat, Zionisme, dan sekularisme. Tapi realitas yang kini terang-benderang justru menunjukkan paradoks yang memalukan: yang selama ini menggaungkan jihad melawan thaghut AS dan entitas Zionis justru menjelma sebagai pion-pion baru permainan geopolitik mereka.

HTS adalah contoh manipulator Islam paling memalukan. Setelah membuang label Al-Qaeda demi mendapat ruang di panggung politik internasional, HTS bernegosiasi dengan Turki, anggota NATO, membangun citra pemerintahan sipil, dan diam terhadap kejahatan Israel di Palestina—bahkan di Suriah itu sendiri. Sikap mereka mirip politikus pengecut dan sama sekali tak mencerminkan jiwa mujahid Islam yang sebenarnya.

HTS dan para simpatisannya di Suriah merupakan bagian dari mata rantai ideologis yang membelokkan arah perjuangan umat menuju kolaborasi dengan kekuatan imperialis. Ada transisi licik yang Al-Jaulani pertontonkan: dari jihad fi sabilillah menjadi pragmatisme geopolitik fi sabil al-dolar. Namun, beruntungnya, kini seluruh Muslim melihat sendiri, bahwa para teroris ternyata antek Zionis yang menyamar demi merusak Islam dari dalam.

Mereka yang dulunya menyebut pemimpin Muslim moderat sebagai thaghut, kini tunduk pada rencana Abraham Accord. Maka, bila ada thaghut sejati hari ini, maka itu adalah mereka yang menjual darah rakyat Suriah demi legalitas politik dari para Zionis. Jika ada pengkhianat umat, maka itu adalah mereka yang menyebut dirinya mujahid, tapi tuli-bisu ketika anak-anak Palestina dibantai.

Karena itu, adalah benar bahwa kelompok teror HTS bukan ancaman bagi Israel, melainkan pagar buatan untuk membungkam perjuangan Islam yang autentik. Dan dalam permainan geopolitik tersebut, peran teroris pun bukan lagi musuh, melainkan aktor yang bisa dinegosiasikan selama mereka bisa diajak membungkam Hamas, memusuhi Iran, dan menciptakan stabilitas palsu di pinggiran wilayah Israel.

Dan begitulah proyek jihad palsu dan Daulah pro-Zionis bekerja: mengutuk Israel di mimbar namun bersekongkol dengannya di balik meja; menyebut Barat sebagai penjajah lalu memohon di bawah kakinya, jadi kacungnya, demi kekuasaan; dan mengklaim perjuangkan jihad, namun diam atas Palestina bahkan memusuhi pejuang Palestina itu sendiri. Para teroris itu mengkhianati umat dengan cara berkomplot mendukung musuh Islam.

(Ahmad Khoiri)

Related Articles

Back to top button