Tsaqofah

Bagaimana Agama Berperan Dalam Mendorong Gerakan Lingkungan?

Salafusshalih.com – Manusia dan alam sejatinya tidak dapat dipisahkan, hubungan tersebut saling melengkapi satu sama lain. Manusia membutuhkan alam untuk bertahan hidup, begitu pun alam sejatinya mendapatkan manfaat dari hubungannya dengan manusia. Namun, dalam perjalanannya terjadi hubungan yang tidak lagi harmonis antara manusia dan alam. Keserakahan manusia membawanya pada perilaku yang banyak menciptakan kerusakan pada alam.

Terjadinya eksploitasi secara besar-besaran demi kepentingan kehidupan manusia membawa banyak persoalan lingkungan dan alam hingga saat ini. Kekhawatiran semacam ini bukan tanpa alasan, banyak fenomena alam yang telah terjadi dan menandakan kerusakan alam secara serius adalah hasil dan ulah manusia itu sendiri. Hal ini tentunya membawa manusia juga pada kekhawatiran tentang kehidupan berkelanjutan kedepannya, tentang masa depan alam dan manusia itu sendiri.

Gerak sejarah dan peradaban manusia dan hubungannya dengan eksploitasi alam dan sesama manusia bisa ditilik dari perkembangan abad modernisme. Dengan cara berpikir yang cenderung mengglorifikasi raionalitas dengan menyangkal segala macam cara berpikir yang irasionalitas (Agama) sebagai faktor dan penyebab berbagai permasalahan kemanusiaan (Abad kegelapan).

Modernitas yang dianggap dapat menjawab persoalan manusia justru membawa manusia pada kehidupan yang jauh dari kehidupan yang inklusif dan emansipatoris, baik kepada sesama manusia ataupun terhadap alam. Sitausi ini kemudian mendorong kita untuk melihat secara kritis proyek modernitas dalam mempertanyakan ulang. Apakah modernitas dapat menjadi solusi terhadap hubungan manusia dengan alam? Atau kah, agama sebagaimana yang di kritik oleh kelompok rasionalitas masih memiliki tempat untuk membangun kehidupan yang lebih harmonis antara manusia dan alam?

Agama sebagai pedoman hidup dalam mencintai alam

Diskursus tentang hubungan antara agama dan isu lingkungan, dapat ditelusuri misalnya asumsi yang dibangun oleh Lynn White pada tahun 1967 dalam tulisannya yang berjudul The Historical Roots of Our Ecological Crisis . Dia mennyatakan bahwa, agama dan berbagai otoritasnya adalah sumber masalah dari krisis lingkungan (Anwar & Rosyad, 2021).

Dalam pandangannya juga apa yang tertuang dalam teks-teks keagamaan banyak menarasikan tentang posisi manusia sebagai makhluk sempurna yang menguasai makhluk hidup lainnya. Dengan kata lain agama dianggap White bersifat “antroposentrisme” atau memusatkan manusia sebagai yang segala-galanya. Hal inilah yang dianggapnya membuat manusia hidup dengan semena-mena dalam hal memperlakukan alam dengan tindakan yang bersifat instrumental semata.

Pandangan yang cendurung mengkritisi faktor teologis ini juga yang beranggapan bahwa kepercayaan tradisional (animisme, dinamisme) yang menganggap alam (batu, pohon, gunung,air) sebagai Tuhan, telah bergeser semenjak masuknya agama monoteis, sehingga menghadirkan relasi yang vertikal antara manusia dan Tuhan. Ini cenderung merubah pola relasi manusia dan alam yang tadinya dekat menjadi berjarak.

Tuduhan inilah yang membawa kita untuk kembali mempertimbangkan peran agama atau aspek spiritualitas dalam kehidupan kontemporer sebagai instrument dalam menyelamatkan manusia dan alam atas peran-perannya dalam dimensi sosial. Carl Smith (1996) mengatakan bahwa agama memiliki kekuatan untuk melakukan gerakan sosial. Kekuatan itu disebut dengan “Aset Agama” (Smith, 1996). Aset Agama adalah teori yang mengemukakan bahwa agama pada prinsipnya menyediakan ‘alat’ untuk melakukan suatu gerakan sosial.

Dalam catatan tertentu dapat dilihat bagaimana materialisasi agama dapat terjadi dalam kehidupan masyarakat terkhususnya dalam bentuk gerakan berbasis lingkungan. Misalnya dalam tradisi Gereja Katolik, ajaran tentang lingkungan hidup tertuang secara jelas dalam ensiklik Laudato Si yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2015. Hal serupa juga dijumpai dalam ajaran Islam.

Menurut Nawal Ammar, ajaran Islam tentang lingkungan hidup dapat ditemukan dalam konsep Islam mengenai tauhid (kesatuan). Dalam pandangan tauhid, menekankan bahwa Allah sebagai pencipta alam dan bumi bersabda, “Seluruh alam semesta adalah satu sistem tunggal yang dipersatukan oleh Allah”.

Selain itu, muncul juga beberapa aksi dari komunitas agama Hindu dan Budha yang melakukan aksi penanaman pohon dan pendauran ulang sampah. Aksi-aksi bersifat environmentalis itu dapat dibuktikan melalui gerakan petani-petani lokal yang melindungi lingkungan hidup mereka dari proyek penambangan semen di Kendeng, Jawa Tengah. Masyarakat Bali yang melindungi situs-situs sakral dari proyek reklamasi Teluk Benoa.

Di Indonesia sendiri gerakan religiusitas dan lingkungan telah banyak berperan dalam meyuarakan persoalan-persoalan lingkungan seperti melakukan kampanye soal kesehatan lingkungan dan aksi-aksi menamam pohon dan bakti sosial lainnya. Gerakan-gerakan tersebut misalnya, Masjid Hijau, Gereja Hijau, Gerakan Save Aru Island, Gerakan menentang proyek reklamasi Teluk Benoa, Gerakan FNKSD (Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam), dan aktivisme lainnya.

Dengan berbagai tantangan yang cukup besar terhadap hadirnya permasalahan lingkungan, agama dapat membawa banyak kontribusi dalam mendorong perlindungan atas alam. Selain masih diharapkannya peran agama, aspek lain yang perlu dipertimbangkan adalah tentang penafsiran dan pendidikan agama yang baik dan relevan bagi umat beragama. Hal ini lah yang menjadi salah satu faktor penting dalam membawa agama dalam perbincangan yang serius tentang berbagai persoalan masyarakat modern

Perbincangan lintas agama pun tidak cukup sampai pada diskursus atas toleransi, banyak aspek lain yang perlu diperbincangkan, misalnya yakni dalam merawat dan melestarikan alam dan lingkungan. Dengan demikian agama dapat berperan dalam meruntuhkan logika modernitas yang telah menciptakan kesadaran palsu dan mitos baru yang cenderung eksploitatif.

(Anselmus Barung)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button