Tsaqofah

Positive Reframing

Salafusshalih.com – Dalam setiap kesulitan, manusia hampir selalu punya satu kebiasaan: mengeluh. Ketika masalah datang bertubi-tubi, hati terasa sempit, pikiran menjadi gelisah, dan lisan pun tak henti mengadukan keadaan.

Bahkan dalam doa, tidak sedikit yang lebih banyak berisi keluhan daripada keyakinan. Padahal ada cara pandang yang lebih kuat: bukan sekadar mengeluh kepada Allah, tetapi menghadirkan Allah dalam menghadapi masalah.

Bukan hanya berkata,“Ya Allah, ini berat,” tetapi juga berani mengatakan kepada masalah, “Aku punya Allah.”

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan, janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. (Surah At-Taubah: 40)

Ayat ini bukan hanya penghibur, tetapi juga penguat mental. Ia mengajarkan bahwa kehadiran Allah bukan sekadar untuk didatangi saat mengeluh, tetapi untuk diyakini sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi segala kesulitan.

Mengeluh kepada Allah tentu bukan sesuatu yang salah. Bahkan para nabi pun melakukannya. Nabi Ya’qub berkata,“Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesedihan dan kesusahanku kepada Allah.” (Surah Yusuf: 86)

Namun yang membedakan adalah, keluhan itu tidak melahirkan keputusasaan, melainkan memperkuat harapan. Di sinilah letak perbedaannya: mengeluh yang melemahkan, dan mengadu yang menguatkan.

Ulama seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan, hati yang benar-benar mengenal Allah tidak akan larut dalam kecemasan. Ia mungkin sedih, tetapi tidak putus asa. Ia mungkin lelah, tetapi tidak kehilangan arah. Karena ia tahu, di balik setiap ujian, ada pertolongan yang sedang disiapkan.

Dalam kehidupan Nabi Muhammad, keyakinan ini terlihat jelas. Saat menghadapi tekanan berat, Nabi tidak hanya berdoa, tetapi juga tetap melangkah dengan penuh keyakinan. Tawakkal tidak membuatnya diam, tetapi justru membuat kuat.

Secara psikologis, cara berpikir seperti ini dikenal sebagai positive reframing—mengubah cara pandang terhadap masalah. Ketika seseorang meyakini bahwa ia tidak sendirian, bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang mendukungnya, maka beban mental akan terasa lebih ringan. Masalah yang sama, bisa terasa berbeda ketika dihadapi dengan keyakinan yang berbeda.

Di era sekarang, banyak orang tenggelam dalam kecemasan karena merasa harus menghadapi semuanya sendirian. Tekanan hidup, tuntutan sosial, dan ketidakpastian masa depan membuat hati mudah goyah. Padahal bagi seorang mukmin, kesendirian itu sebenarnya tidak pernah ada.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya” (QS. At-Talaq: 3).

Kata cukup di sini bukan berarti masalah hilang seketika, tetapi hati menjadi kuat untuk menghadapinya.

Maka mungkin yang perlu kita ubah bukanlah seberapa sering kita mengeluh, tetapi bagaimana kita memaknai kehadiran Allah dalam hidup kita. Bukan hanya datang kepada-Nya saat lemah, tetapi membawa-Nya dalam setiap langkah saat menghadapi masalah. Itulah manfaat positive reframing.

Kekuatan seorang mukmin bukan terletak pada bebasnya ia dari masalah, tetapi pada keyakinannya bahwa ia tidak pernah sendiri. Dan dari keyakinan itulah, lahir keberanian untuk berkata: masalah boleh datang… tapi aku punya Allah.

(Ansorul Hakim)

Related Articles

Back to top button