Fikih

Aurat Tetap Aman, Fashion Boleh Kekinian

Salafusshalih.com – Sekarang kita hidup di zaman yang serba cepat: era globalisasi dan modernisasi. Hampir semua hal berubah drastis, mulai dari ekonomi, gaya hidup, teknologi, transportasi, sampai budaya. Perubahan ini memang membawa banyak kemudahan, tapi di sisi lain juga bisa bikin sebagian orang kehilangan arah dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Salah satu hal yang sering jadi perbincangan di zaman sekarang adalah soal cara berpakaian. Banyak perempuan yang memilih mengikuti tren tanpa terlalu memikirkan batasan aurat. Demi terlihat stylish atau kekinian, sebagian orang justru mengabaikan aturan berpakaian dalam Islam. Padahal, sebagai agama yang universal, Islam sebenarnya sudah memberikan panduan jelas tentang bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal berpakaian.

Dalam Islam, aturan berpakaian untuk perempuan bukan dibuat untuk membatasi, tetapi justru untuk menjaga kehormatan dan martabat mereka. Tujuan utamanya sederhana: melindungi dan memuliakan perempuan. Dengan menutup aurat, seseorang tidak hanya menjaga dirinya dari pandangan yang tidak pantas, tetapi juga menjaga nilai kesopanan dalam masyarakat.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan umat manusia untuk menjaga diri dan keluarga dari hal-hal yang bisa membawa kepada keburukan. Salah satu ayat yang sering dijadikan rujukan dalam pembahasan aurat adalah firman Allah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا…

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”.

Ayat ini menjadi pengingat bahwa menjaga diri, termasuk dalam hal berpakaian dan perilaku, adalah bagian dari tanggung jawab setiap muslim.

Apa Sih Aurat Itu?

Secara bahasa, kata aurat berasal dari bahasa Arab ‘aurah yang berarti sesuatu yang memalukan atau sesuatu yang harus ditutupi. Dalam istilah fikih, aurat adalah bagian tubuh yang wajib ditutup dari pandangan orang lain.

Jadi, menutup aurat bukan karena tubuh seseorang buruk atau memalukan. Justru sebaliknya, itu adalah cara menjaga kehormatan dan menghindari hal-hal yang bisa memicu syahwat atau perbuatan yang tidak baik.

Dalam Islam juga ada aturan kapan dan kepada siapa aurat boleh terlihat, misalnya kepada pasangan atau mahram. Karena itu, konsep aurat sebenarnya sangat berkaitan dengan etika dan kesopanan dalam berinteraksi.

Untuk laki-laki, aurat yang wajib ditutup adalah antara pusar hingga lutut. Sedangkan menurut mayoritas ulama, aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah, telapak tangan, dan kaki.

Perintah Menutup Aurat Dalam Al Quran

Salah satu ayat yang menjelaskan tentang kewajiban menutup aurat terdapat dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Ahzab Ayat 59:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ…

Artinya: “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan mukmin agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…”.

Ayat ini menjelaskan bahwa perempuan dianjurkan mengenakan pakaian yang menutup aurat, seperti jilbab atau pakaian longgar, agar mereka dikenal sebagai perempuan yang menjaga kehormatan dan tidak diganggu.

Para ulama tafsir juga menjelaskan bahwa perintah ini bukan untuk membatasi perempuan, tetapi untuk melindungi mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan. Bahkan dalam tafsir dijelaskan bahwa aturan ini juga menjadi pembeda antara perempuan muslim yang menjaga kehormatan dirinya dengan gaya hidup jahiliyah yang tidak mengenal batas kesopanan.

Di era modern ini, tren dan gaya hidup memang berubah sangat cepat. Namun, bagi seorang muslim, prinsip dasar tetap tidak berubah. Menutup aurat bukan sekadar aturan, tetapi bentuk menjaga kehormatan diri.

Mayoritas ulama sepakat bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah, telapak tangan, dan kaki. Dengan menutup aurat, seseorang tidak hanya menaati perintah agama, tetapi juga menunjukkan kepribadian yang baik serta menjaga martabatnya.

Singkatnya, mengikuti tren boleh saja, tapi jangan sampai melupakan nilai-nilai yang sudah diajarkan oleh agama. Karena pada akhirnya, yang paling keren bukan sekadar penampilan, tetapi bagaimana kita menjaga diri dan kehormatan kita.

(Zi)

Related Articles

Back to top button