Ngaji Ihya Gus Ulil Abshar Abdalla: Makna Kedermawanan Sejati

Salafusshalih.com – Ngaji Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali kembali digelar dalam edisi ke-410, dipandu oleh KH. Ulil Abshar Abdalla, atau akrab disapa Gus Ulil. Pada pertemuan kali ini, pembahasan tepat pada jilid VI, halaman 166-167, [edisi Darul Minhaj], yang masih membahas tentang fadhilatus sakha atau keutamaan sifat kedermawanan.
Kedermawanan, kata Gus Ulil, merupakan sifat mulia. Definisi dermawan, sebagaimana dikatakan Hasan Al-Bashri, dan dikutip Imam Ghazali dalam kitab Ihya, bukan sekadar memberi sesuatu, tetapi memberikan dengan segenap usaha keras dan kesungguhan.
“Maksudnya, seseorang berupaya maksimal untuk memberikan yang terbaik dari apa yang ia miliki, tidak asal memberi saja” kata Gus Ulil, sebagaimana dikutip dari Youtube Ghazalia College, Jumat [31/12/2024].
Sementara itu, jika memberi hanya seadanya atau tanpa usaha sungguh-sungguh, maka tidak mencerminkan makna kedermawanan sejati, tindakan tersebut hanyalah sekadar tindakan.
Kedermawanan sejati mengandung niat yang tulus dan usaha maksimal untuk memberikan yang terbaik, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh orang lain secara optimal. “Kedermawanan itu adalah memberikan yang terbaik, dengan cara terbaik, dan barang terbaik yang kita miliki. Dalam kedermawanan, ada kerja keras dan usaha yang sungguh-sungguh,” jelas Gus Ulil.
وقال الحسن : ( بذل المجهود في بذل الموجود منتهى الجود )
Artinya: “Imam Hasan Bashri berkata tentang sakha [dermawan]: Memberikan sesuatu yang diupayakan dengan terbaik dalam memberikan apa yang dimiliki adalah puncak kedermawanan.”
Lebih lanjut Imam Ghazali mengutip dialog seorang bijak yang pernah ditanya, “Siapa orang yang paling kau cintai?” Sang bijak menjawab, “Orang yang paling aku cintai adalah mereka yang banyak memberikan kebaikan kepadaku.” Jawaban ini mencerminkan penghormatan terhadap sifat kedermawanan dan nilai kebaikan.
Kemudian, si bijak itu ditanya lagi, jika tidak ada yang memberi kebaikan kepadanya, maka siapa yang akan dicintainya? Dengan penuh kebijaksanaan, ia menjawab, “Aku akan mencintai orang yang paling banyak menerima kebaikanku”. Jawaban ini mencerminkan pandangan bahwa memberikan kebaikan juga merupakan bentuk kemuliaan dan kebahagiaan tersendiri. Dengan bersikap dermawan, seseorang tidak hanya memberi manfaat kepada orang lain, tetapi juga membangun hubungan yang penuh kasih dan nilai.
Simak penjelasan Imam Ghazali dalam Ihya berikut;
وقيل لبعض الحكماء : من أحب الناس إليكَ ؟ قَالَ : مَنْ كَثُرَتْ أياديه عندي ، قيل : فإن لم يكن ؟ قال : مَنْ كَثُرَتْ أيادي عنده
Artinya: “Dikatakan kepada salah seorang bijak: Siapakah orang yang paling kau cintai, kepada diri mu? Ia menjawab: Orang yang paling banyak pemberi kebaikannya padaku. Dikatakan kepadanya: Bagaimana jika tidak ada orang seperti itu? Ia menjawab: Orang yang paling banyak kebaikanku padanya.”
Belajar Dermawan dari Khalifah Abbasiyah
Kedermawanan, kata Gus Ulil, juga merupakan karakteristik mulia yang dipraktikkan oleh para pembesar Bani Abbasiyah, misalnya adalah Khalifah Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam. Khalifah ini merasa berterima kasih jika ada orang yang mau menerima kebaikan dan kedermawanannya. Jika ada orang yang membutuhkan pertolongannya, Abdul Aziz tidak segan untuk memenuhi kebutuhan mereka tanpa rasa keberatan.
Simak penuturan Khalifah Abdul Aziz bin Marwan berikut;
وقال عبد العزيز بن مروان : إذا الرجل أمكنني من نفسِهِ حَتَّى أضع معروفي عنده .. فيده عندي مثل يدي عنده
Artinya: “Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam [bangsawan Abbasiyah] berkata: “Jika seseorang laki-laki memberiku kesempatan untuk berbuat baik kepadanya, maka tangannya bagiku sama dengan tanganku pada orang itu.”
Khalifah Al-Mahdi pun tak kalah dermawan. Kedermawanan Khalifah Bani Abbasiyah itu tergambar dalam dialog dengan Syabib bin Syaibah.
“Bagaimana orang-orang yang datang ke istana” tanya Khalifah.
“Mereka masuk dengan penuh harapan dan keluar dengan kepuasan, karena mendapatkan banyak hadiah dan pemberian,” jawab Syahib.
Sejatinya, jawaban ini menunjukkan betapa Khalifah Al-Mahdi, sebagai pemimpin, memberikan kebahagiaan melalui kemurahan hatinya. Hal ini memperlihatkan nilai kedermawanan sebagai bagian integral dari kepemimpinan di era Abbasiyah, para pemimpin dan bangsawan menjadikan pelayanan kepada rakyat sebagai prioritas utama.
وقال المهدي لشبيب بن شيبة : كيف رأيت الناس في داري ؟ فقال يا أمير المؤمنين ؛ إنَّ الرجل منهم ليدخل راجياً ويخرج راضيا
Artinya: “Khalifah Al-Mahdi bertanya kepada Syabib bin Syaibah: “Bagaimana engkau melihat orang-orang di rumahku/istana ku?” Ia menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, sungguh seseorang dari mereka masuk dengan penuh harapan dan keluar dengan penuh kepuasan.”
Lebih jauh lagi, dalam syair Kamil, Abdullah bin Ja’far, bangsawan Abbasiyah yang lain, memberikan nasihat berharga tentang pentingnya menebar kebaikan dan kedermawanan. Ia menganalogikannya seperti hujan yang turun menyirami siapa saja tanpa pilih kasih. Ketika kedermawanan diberikan kepada orang-orang mulia, mereka akan menghargainya dan membalasnya dengan sikap yang penuh penghormatan.
Namun, meski kebaikan itu jatuh kepada mereka yang tidak tahu berterima kasih, Abdullah bin Ja’far menegaskan bahwa hal itu tidak mengurangi nilai dari kedermawanan itu sendiri. Justru, dia tetap layak sebagai pribadi yang pantas melakukan perbuatan baik, terlepas dari bagaimana penerima kebaikan itu bersikap. Diceritakan, seorang penyair datang kepada Abdullah bin Ja’far dan menyampaikan syair:
إِنَّ الصَّنِيعَةَ لَا تَكُونُ صَنِيعَةً * حَتَّى يُصَابَ بِهَا طَرِيقُ الْمَصْنَعِ فَإِذَا أَصْطَنَعْتَ صَنِيعَةٌ فَأَعْمَدْ بِها * الله أَوْ لِذَوِي الْقَرَابَةِ أَوْ دَعَ
Artinya: “Sesungguhnya perbuatan baik (kebaikan) tidaklah disebut kebaikan * hingga menemukan jalannya kepada orang yang layak menerima kebaikan tersebut.
Maka, jika engkau hendak berbuat baik, tujukanlah * kepada Allah, atau kepada kerabat dekat, atau tinggalkanlah sama sekali.”
Usai mendengar syair tersebut, Abdullah bin Jafar kemudian berkata:
فقال عبد الله بن جعفر : إن هذين البيتين ليبخلان الناس ، ولكن أمطر المعروف مطراً ؛ فإن أصاب الكرام .. كانوا له أهلاً ، وإن أصاب اللثام. من الكامل كنت له أهلاً
Artinya: “Kedua bait ini seolah membuat manusia menjadi pelit. Namun, tebarkanlah kebaikan seperti hujan. Jika kebaikan itu mengenai orang-orang mulia, mereka akan menghargainya. Dan jika mengenai orang-orang yang tidak tahu terima kasih, maka engkau tetap menjadi orang yang pantas melakukan kebaikan itu.”
Menurut Gus Ulil, ungkapan yang disampaikan Abdullah bin Ja’far di atas merupakan kritik kepada seorang penyair. Pasalnya, si penyair mengatakan bahwa kebaikan seyogianya ditujukan pada kerabat terdekat saja.
“Ini tidak benar. Tetapi, hujankanlah kebaikan seperti hujan yang deras,” tutur Abdullah bin Ja’far.
Maksud ucapan tersebut, jika kamu ingin memberi, berilah sebanyak-banyaknya tanpa pilih kasih. Jangan hanya memberi kepada kerabat saja. “Jika kebaikanmu sampai kepada orang-orang yang mulia, maka mereka adalah orang yang layak menerimanya.”
Namun, jika kebaikan itu sampai kepada orang yang tidak pantas, tetap saja kamu telah melakukan kebaikan. “Meskipun kebaikanmu tidak tepat sasaran, kamu tetap disebut sebagai orang yang dermawan,” jelas Gus Ulil, untuk memotivasi agar senantiasa berbuat kebaikan.
(Zainuddin Lubis)



