Tsaqofah

Hari Buku Teringat Kitab Sahih Al Bukhari

Salafusshalih.com– Peringatan Hari Buku Nasional mengingatkan kita pada jihad intelektual Imam Al-Bukhari yang berhasil menyeleksi ratusan ribu hadis Nabi sehingga bisa memilah hadis sahih, hasan, marfu’, daif, dan maudhu’.

Kumpulan hadis hasil seleksinya dibukukan dalam kitab AlJami’us Sahih yang populer disebut Sahih Al-Bukhari. Kitab ini sangat terkenal menjadi rujukan biografi Nabi, sejarah Islam, dan fikih. Metode seleksi hadis Al-Bukhari juga menjadi rujukan para ahli hadis sesudahnya dalam penulisan hadis.

Jihad intelektual Al-Bukhari ini telah membangun peradaban. Bukunya tetap dibaca umat meskipun sudah ratusan tahun. Literatur berkualitas yang diverifikasi dengan ketat adalah pilar utama dalam membangun peradaban dunia.

Ini adalah upaya monumental Al-Bukhari dalam membukukan hadis menjadi kunci lestarinya syariat, sejarah, dan nilai-nilai akhlak Nabi Muhammad Saw bagi umat manusia hingga hari ini. Buku menjadi jembatan lintas zaman untuk mencerdaskan umat manusia.

Biografi Imam Al Bukhari

Imam Al-Bukhari nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah bin Badzdzibah Al-Ju’fi. Lahir siang hari setelah salat Jumat pada 13 Syawal 194 H/21 Juli 810 M di kota Bukhara, Uzbekistan.

Ayahnya, Syekh Ismail, seorang ulama ahli hadis yang terkenal di Bukhara. Ayahnya termasuk salah satu murid Imam Malik. Juga sahabat dekat Hammad bin Ziyad dan Ibnu Mubarak dari generasi tabi’in yang dikenal keilmuan dan kesalihannya.

Imam Bukhari dibesarkan dalam lingkungan keluarga taat beragama dan semangat keilmuan. Ibnu Hajar mengatakan, Al-Bukhari ditinggal wafat ayahnya saat masih kecil. Bersyukur ayahnya meninggalkan uang dan harta yang cukup untuk kehidupan keluarganya.

Ibunya yang juga ahli ibadah berperan mendidik Al-Bukhari. Di antara riwayat menceritakan, sewaktu kecil Al-Bukhari kehilangan penglihatan. Berobat ke tabib belum menyembuhkan. Hingga pada suatu malam ibunya bermimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim alaihis salam yang berkata kepadanya. ”Wahai ibu disebabkan oleh banyak doa dan tangismu, Allah akan mengembalikan penglihatan anakmu.”

Di riwayat lain menyebutkan setelah Imam Al-Bukhari melafalkan Al-Quran pada malam hari sampailah  pada surat Qaaf ayat 22, yaitu :

لَّقَدْ كُنتَ فِى غَفْلَةٍ مِّنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنكَ غِطَآءَكَ فَبَصَرُكَ ٱلْيَوْمَ حَدِيدٌ

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.

Seusai membaca ayat tersebut, seketika penglihatan mata Imam Al-Bukhari pulih kembali seperti semula.

Buku Imam Al Bukhari Membangun Peradaban

Imam Al-Bukhari hidup di masa pertentangan antara mazhab Kufah dan Hijaz dalam bidang fikih. Juga  hidup di masa tersebarnya hadis-hadis palsu dan perselisihan ekstrem antar mazhab Mu’tazilah, Murji’ah, dan Ahlus Sunnah.

Di zaman itu pemerintah Khalifah Al-Ma’mun terpengaruh paham Mu’tazilah yang berpendapat di luar Allah adalah makhluk termasuk Al-Qur’an. Paham ini dipaksakan dianut oleh ulama dan rakyat. Penentangnya ditangkap lalu masuk penjara.

Imam Al-Bukhari menjadi korbannya dalam pertikaian politik ini. Di zaman itu banyak beredar pernyataan yang diatasnamakan hadis Nabi untuk memperkuat argumentasi golongan. Al-Bukhari lantas memverifikasi dan memvalidasi ribuan sanad hadis untuk memilah mana yang asli dan palsu.

Dari pekerjaan besar ini Imam Al-Bukhari menghasilkan 24 kitab dalam berbagai cabang keilmuan. Akhirnya terkenal sebagai ulama hadis yang paling ketat metodologi telaah hadis.

Para ulama sesudahnya banyak yang menggunakan metodologinya. Di antara karya-karya Al-Bukhari adalah Al-Jami’ As-Sahih, At-Tarikh Al-Kabir (membahas sejarah dan biograpi perawi hadis), dan Ilmu Jarh wa Ta’dil.

Ulama salaf (awal) dan khalaf (mutakhir) menyepakati sunnah Nabi Saw yang menjadi sumber hukum kedua setelah Al-Quran adalah kitab Al Jami’ As-Sahih. Bahkan Syekhul Ibnu Taimiyah berkata,”Tidak ada kitab yang paling sahih di bawah langit ini setelah Al-Quran, kecuali Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim.”

Demikian juga Imam Adz-Dzahabi berkata,”Al Jami’ As-Sahih adalah kitab umat Islam yang paling mulia setelah Al-Qur’an. Andaikan seseorang pergi menempuh perjalanan 1000 Km untuk sekadar menyimaknya, maka perjalanannya itu tidak akan pernah sia-sia.”

Kitab ini dikenal dengan nama Sahih Al-Bukhari sebagai karya monumental dan tersahih di antara kitab-kitab hadis  lainnya. Isinya hasil seleksi ketat terhadap 600.000 hadis yang beredar saat itu.

Buku Adabul Mufrad

Kitab Al-Adab al-Mufrad salah satu karya Al-Bukhari berisi ajaran etika, adab kepada orang tua, hingga tata krama bermasyarakat yang membentuk karakter peradaban luhur. Ia mengajarkan cara berdiskusi dengan santun bersendikan Ilmu.

Pernah suatu kali Imam Al-Bukhari didebat oleh ulama Kufah, Irak, yang berpendapat tidak ada bacaan yang harus dibaca oleh makmum saat salat berjema’ah di belakang imam. Ulama tersebut berpegang dengan firman Allah dalam Al ’Araf 204 :

وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan perhatikanlah agar kamu mendapat rahmat.

Imam Al-Bukhari menjawab dengan santun menguraikan ayat tersebut yang menjadi argumen ulama Kufah. Bahwa ayat ini turun terkait dengan masalah khotbah Jumat, yaitu siapa yang menghadiri salat Jumat hendaknya diam mendengarkan khatib berkhotbah. Tidak ada riwayat yang menjelaskan ayat ini turun terkait dengan masalah salat.

Kesimpulan

Hari Buku teringat jihad intelektual Imam Al-Bukhari. Melalui buku dan pemikirannya telah membentuk kecerdasan dan peradaban. Sepatutnya umat Islam meneladani kesungguhan sang Imam dalam menegakkan agama melalui pendidikan, literasi, dan penyebaran ilmu pengetahuan. Demi mencapai masyarakat yang berakhlak mulia, adil, dan beradab. Wallaahu ’alamu bishshawwab.

(Ridwan Ma’ruf)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button