Tsaqofah

Cara Zionis Merusak Islam: Wahabi!

Salafusshalih.com – Demo besar di Iran hari-hari ini menyita perhatian seluruh masyarakat dunia. AS dan Israel paling berisik dan jadi perusuh, menyusup ke kerumunan lalu membuat onar. “Republik Islam” dikritik habis dan sedang berusaha dilengserkan, diganti menjadi sekuler. Namun di antara semua intrik untuk melemahkan Iran itu, ada satu golongan Muslim yang diam-diam mendukung bahkan berkomplot dengan zionis. Mereka adalah “Wahabi”.

Kerusakan paling fatal sebuah peradaban jarang datang dari serangan frontal, melainkan dengan pelan, sistematis, dan menyamar sebagai ‘purifikasi’. Dalam sejarah dunia Islam, kerusakan paling dalam justru terjadi bukan karena kekuatan eksternal, melainkan karena ideologi yang memecah umat dari dalam, persis yang dipraktikkan Wahabi atas umat Muslim. Di situlah Wahabisme perlu dibaca sebagai fenomena politik global yang didesain untuk merusak Islam.

Wahabi lahir dan berkembang dalam konteks runtuhnya kekuasaan Islam klasik, ekspansi kolonial Barat, dan kebutuhan kekuatan imperialis untuk menjinakkan dunia Muslim yang luas, mencegah persatuan umat. Aliansi doktrin keagamaan yang rigid dengan kekuasaan politik Bin Saud membentuk fondasi yang diekspor ke berbagai belahan dunia sebagai ‘Islam murni’. Namun di balik klaim kemurnian itu, ada proses simplifikasi brutal terhadap Islam itu sendiri.

Islam yang kaya akan mazhab, filsafat, tasawuf, seni, dan tradisi lokal direduksi jadi seperangkat larangan dan vonis. Sejarah panjang peradaban Islam dari Baghdad, Kairo, Damaskus, Andalusia, hingga Nusantara dipersempit jadi hitam-putih: tauhid versus syirik, sunah versus bid‘ah. Bagi Wahabi, perbedaan tidak lagi dipahami sebagai khazanah, melainkan ancaman yang wajib dilawan. Umat diajak saling mengafirkan satu sama lain jika doktrinnya tidak sama.

Singkatnya, Wahabi bekerja sebagai mesin fragmentasi umat Islam. Energi umat yang seharusnya diarahkan untuk menghadapi penjajahan, ketidakadilan global, dan perampasan kedaulatan justru habis untuk konflik internal: membid‘ahkan sesama Muslim, menyesatkan tradisi lokal, dan mencurigai segala bentuk keberagaman ekspresi keislaman. Umat telah sibuk saling melemahkan, bahkan ketika satu diokupasi AS dan sekutu zionisnya, Wahabi berpihak pada musuh. Ironi.

Zionisme dan kekuatan imperialis modern tidak selalu membutuhkan sekutu yang mencintai mereka. Yang mereka butuhkan adalah lawan yang terpecah. Wahabi dengan sadar berfungsi selaras dengan kepentingan tersebut. Palestina, sebagai contoh, tetap terjajah, sementara dunia Muslim terus terbelah oleh konflik sektarian yang tak berkesudahan. Wahabi, sebagaimana Arab Saudi, berkomplot dengan AS untuk merusak Islam, sembari mengklaim paling murni keislamannya.

Tidak hanya itu, Wahabi juga berkontribusi pada depolitisasi Islam. Dengan menekankan ketaatan mutlak kepada penguasa dan mencurigai gerakan politik umat, Islam dipisahkan dari dimensi pembebasannya. Ketidakadilan struktural diterima sebagai takdir, sementara perlawanan terhadap penindasan dicurigai sebagai fitnah atau terorisme. Islam dipersempit jadi urusan ritual persona, yakni jinak bagi tatanan global dan menjadi penjilat kafir AS dan Israel.

Cara Wahabi merusak Islam merupakan sesuatu yang meresahkan. Ekspor ajaran Wahabi ke berbagai negara Muslim, termasuk Indonesia, didorong oleh jaringan pendanaan, pendidikan, literatur, dan legitimasi keagamaan transnasional yang kompleks. Masjid, kampus, dan ruang dakwah jadi arena standardisasi: satu versi Islam dianggap sah, sementara yang lain dicap menyimpang, syubhat, bahkan kafir.

Tradisi Islam lokal yang berabad-abad membumi perlahan didelegitimasi. Sehingga dampaknya mencakup penyempitan teologis dan polarisasi sosial-politik. Perpecahan meningkat, kohesi umat melemah, dan negara kehilangan basis moderasi keberagamaan. Masyarakat kemudian mudah diprovokasi, mudah disetir kepentingan, dan sulit bersatu menghadapi tekanan global. Tidak ada yang lebih mengerikan daripada cara zionisme merusak Islam melalui Wahabi.

Kendati demikian, yang paling tragis ialah matinya imajinasi Islam. Para ideolog Wahabi memusuhi filsafat, mencurigai tasawuf, dan memutus hubungan umat dengan sejarah intelektualnya sendiri. Padahal, peradaban Islam besar justru lahir dari keberanian berpikir dan berdialog di tengah keberagaman. Ketika imajinasi mati, Islam kehilangan daya cipta peradabannya dan berubah jadi sistem pengawasan moral hitam-putih: Islam vs kafir.

Pertanyaannya, apakah setiap penganut Wahabi sadar akan implikasi geopolitik tersebut? Boleh jadi tidak. Semua kebobrokan Wahabi adalah desain di tingkat elite, ihwal bagaimana mereka mengglorifikasi AS dan zionis di satu sisi dan merongrong muruah Islam di sisi lainnya. Berbagai literatur telah menegaskan tentang kongsi Wahabi dengan kepentingan AS dan zionisme.

Hari ini, Islam tidak sedang dilemahkan melalui serangan pihak luar. Agama ini tengah dipersempit dari dalam, dirongrong melalui polarisasi ideologis hingga benar-benar menjadi agama yang lemah, tertindas, dan dibenci karena terlihat keras atau jadi sumber terorisme. Semua itu merupakan ulah Wahabi yang menjadi proksi AS dan para zionis untuk merusak Islam.

(Ahmad Khoiri)

Related Articles

Back to top button