Maryam dan Mukjizat yang Membungkam Fitnah
Salafusshalih.com – Kita tentu tidak asing dengan sosok wanita mulia Maryam Alaihassalam, ibunda Nabi Isa Alaihisalam. Maryam adalah putri Imran, seorang hamba saleh, dengan nasab yang tersambung kepada Nabi Sulaiman bin Daud Alaihimasalām.
Ia tumbuh dalam keluarga yang taat beribadah, penuh ketulusan, dan berlimpah keimanan. Karena kesalehan dan keteguhan imannya, Maryam terpilih menjadi salah satu dari empat wanita pemuka ahli surga sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:
سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ
“Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fāṭimah binti Rasulullah Saw., Khadījah binti Khuwaylid, dan Āsiyah (istri Firaun).” (Al-Hākim No. 4.853)
Maryam tumbuh menjadi seorang gadis yang menjaga iffah (kehormatan) dan kesucian dirinya. Sejak kecil, ibunya telah menazarkannya untuk berkhidmat di Baitulmaqdis. Maryam kemudian hidup di bawah pemeliharaan Nabi Zakariya Alaihissalām, suami bibinya. Hidupnya penuh karamah dan keberkahan.
Mengasingkan Diri
Demi menjaga kehormatan, Maryam mengasingkan diri dari manusia ke sebuah tempat di sebelah timur Baitulmaqdis.
Suatu ketika Malaikat Jibrīl ‘Alaihissalām datang kepadanya dalam rupa seorang laki-laki yang sempurna. Ia mengabarkan bahwa Maryam akan mengandung seorang anak laki-laki yang suci.
Maryam heran—bagaimana mungkin ia mengandung sedangkan ia belum bersuami? Malaikat menjawab bahwa hal itu terjadi atas izin Allah Ta‘ālā.
Cobaan Berat
Seiring berjalannya masa kehamilan, Maryam menghadapi cobaan yang amat berat. Ia dilanda kebingungan dan kesedihan, membayangkan reaksi kaumnya saat mengetahui dirinya mengandung tanpa suami. Fitnah dan tuduhan keji membayangi pikirannya.
Ketika waktu melahirkan tiba, rasa sakit luar biasa membuatnya bersandar pada pangkal pohon kurma. Dalam kesedihan yang mendalam, ia mengeluh.
Namun Allah Yang Maha Penyayang menghiburnya. Maryam diilhamkan untuk menggoyangkan pangkal pohon kurma agar jatuh buah kurma segar sebagai makanan. Allah juga mengalirkan air jernih di bawahnya sebagai minuman, sehingga Maryam dapat memulihkan diri setelah melahirkan.
Dengan keteguhan hati, Maryam kembali kepada kaumnya sambil membawa bayi mungilnya. Tetapi kaumnya menuduhnya melakukan perbuatan tercela.
Maryam tetap diam dan hanya mengisyaratkan agar mereka bertanya kepada bayinya. Maka terjadilah mukjizat besar.
Demikianlah Allah menampakkan pembelaan langsung terhadap kesucian Maryam melalui mukjizat yang luar biasa.
Hikmah
Dari kisah tersebut, kita bisa mengambil sejumlah hikmah, di antaranya:
- Isa bin Maryam bukan anak Tuhan, melainkan seorang nabi dan hamba Allah yang diciptakan melalui roh yang ditiupkan atas izin-Nya. Ini sekaligus menjadi bantahan terhadap keyakinan trinitas dalam ajaran Nasrani. Begitu pula kelahirannya bukan pada musim dingin atau salju, melainkan ketika pohon kurma berbuah, yakni pada musim panas.
- Keteguhan hati dalam menghadapi fitnah dan ujian. Maryam tetap sabar, tidak membalas tuduhan, dan menyerahkan urusannya kepada Allah. Dari sini kita belajar bahwa fitnah, cacian, dan gunjingan justru menjadi sumber pahala bagi orang yang terzalimi.
- Keyakinan terhadap kekuasaan Allah. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Sebagaimana Maryam mengandung tanpa suami, pertolongan Allah dapat datang di luar nalar manusia bagi hamba yang senantiasa bertakwa dan bersabar.
Semoga kisah agung ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk meneladani kesucian, keteguhan iman, dan kesabaran Maryam ‘Alaihassalām, salah satu dari empat pemimpin wanita ahli surga. Wallāhualambisawab.
(Hogi Caesar Budiyanto, S.Pd.)



