Sibuk Melihat Salah Orang, Lupa Melihat Diri Sendiri

Salafusshalih.com – Dalam kehidupan, kita sering memiliki mata yang tajam untuk melihat kesalahan orang lain, tetapi kehilangan ketajaman ketika menilai diri sendiri. Kita mudah menemukan kekurangan, aib, dan kekeliruan sesama, tetapi lupa bahwa diri kita pun tidak luput dari kelemahan.
Setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Ada kesalahan yang terlihat oleh banyak orang, ada pula yang tersimpan rapat dan hanya diketahui oleh Allah.
Ada seseorang yang dahulu pernah jatuh dalam dosa, kemudian bangkit melalui tobat yang sungguh-sungguh. Sementara itu, orang yang merasa dirinya lebih baik justru bisa terjerumus dalam penyakit hati tanpa menyadarinya.
Jangan Cepat Merasa Lebih Suci!
Karena itu, jangan terlalu cepat menilai seseorang dari apa yang tampak. Jangan merasa lebih suci hanya karena dosa kita belum diketahui orang lain. Bisa jadi Allah menutupi aib kita bukan karena kita lebih baik, melainkan karena kasih sayang-Nya masih memberi kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri.
Allah berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (An-Najm: 32)
Islam mengajarkan agar kita menjauhi prasangka, tidak mencari-cari kesalahan, dan tidak menggunjing orang lain. Di zaman media sosial, pesan ini semakin penting. Dengan satu sentuhan jari, aib seseorang dapat tersebar luas. Dengan sebuah komentar, seseorang bisa dihakimi tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Mengapa kita begitu bersemangat membicarakan kesalahan orang lain? Benarkah itu dilakukan untuk memperbaiki keadaan, atau ada kepuasan tersembunyi ketika melihat orang lain jatuh?
Rasulullah Saw. bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (Tirmizi)
Daripada sibuk menghitung kesalahan orang lain, lebih baik kita bertanya kepada hati sendiri: Sudahkah aku menjadi manusia yang lebih baik hari ini?
Muhasabah Sebelum Menghakimi
Muhasabah adalah jalan penting bagi seorang mukmin. Menasihati memang merupakan kebaikan, tetapi nasihat harus lahir dari ketulusan, bukan dari keinginan merendahkan. Ada perbedaan besar antara menolong seseorang keluar dari kesalahan dan menikmati kesalahannya. Yang pertama datang dengan kasih sayang dan harapan agar saudaranya berubah. Yang kedua datang dengan penghakiman dan perasaan bahwa dirinya lebih baik.
Tidak ada manusia yang sempurna. Orang yang terlihat baik tetap memiliki kekurangan, sementara orang yang pernah melakukan kesalahan mungkin menyimpan kebaikan yang tidak kita ketahui. Hanya Allah yang mengetahui isi hati, perjuangan yang tersembunyi, air mata tobat, dan doa yang dipanjatkan dalam kesendirian.
Karena itu, jangan biarkan ibadah, ilmu, kedudukan, atau kebaikan melahirkan kesombongan. Rasulullah Saw. mengingatkan bahwa kesombongan sekecil apa pun merupakan penyakit hati yang berbahaya.
Kehidupan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling suci. Kehidupan adalah kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Manusia boleh pernah salah, jatuh, bahkan melakukan dosa besar. Namun, pintu tobat selalu terbuka bagi mereka yang sungguh-sungguh kembali kepada Allah.
Ketika melihat kekurangan orang lain, jadikanlah itu sebagai cermin. Jangan berkata, “Aku lebih baik darinya,” tetapi berdoalah, “Ya Allah, lindungilah aku dari kesalahan yang sama dan berilah petunjuk kepada kami.”
Menjadi Baik Tanpa Merasa Paling Baik
Kita semua sedang berjalan menuju Allah dengan langkah yang tidak selalu sempurna. Ada yang berlari, ada yang berjalan perlahan, ada pula yang tersandung lalu bangkit kembali. Tugas kita bukan menghakimi perjalanan orang lain, melainkan memastikan langkah kita sendiri tetap menuju jalan yang diridai-Nya.
Mari menjadi orang baik tanpa merasa paling baik. Mari memperbaiki kesalahan tanpa sibuk menghitung kesalahan orang lain, menjaga lisan agar tidak menjadi sumber luka, serta terus bermuhasabah.
Semoga Allah menutup aib kita, mengampuni dosa kita, melembutkan hati, menjaga lisan, dan menjadikan kita manusia yang gemar memperbaiki diri tanpa merasa lebih suci daripada orang lain.
(Dwi Taufan Hidayat)



