Merdeka Dari Nafsu
Salafusshalih.com – Nikmat terhebat yang Allah anugerahkan kepada manusia ada empat macam.
Yaitu nikmat hidup, nikmat agama, nikmat merdeka, dan nikmat mati.
Nikmat hidup kata Rasulullah, waktunya terbatas. Berkisar antara 60-70 tahun.
Mensyukuri nikmat hidup dengan menggunakan kesempatan hidup yang singkat dalam berbuat baik agar Allah mencintai.
Sedangkan nikmat agama sangat berharga. Agama sebagai hudan (petunjuk) bagi yang ingin bahagia dunia akhirat.
Maka syukuri agama secara benar. Syukur dengan hati. Yakin agama merupakan pemberian Allah sebagai pedoman menuju derajat takwa.
Selain dengan hati ada syukur secara lisan: memperbanyak ucapan alhamdulillah, zikrullah dan baca Al-Quran.
Syukur berikutnya dengan badan, yaitu bertambah umur semakin kuat ibadah. Semakin dekat kepada Allah.
Lalu nikmat merdeka. Betulkah kita sudah merdeka? Jika dilihat dari bebasnya kita dari cengkeraman penjajah, berarti sudah merdeka.
Tetapi secara personal masih banyak yang terjajah. Yaitu dijajah oleh hawa nafsu masing-masing.
Sepulang dari perang Badar, Rasulullah Saw. menyatakan sesuatu yang mengagetkan. Perang Badar jumlah pasukan muslim 300 orang, bisa melawan pasukan kafir 1.000 orang.
Dalam peperangan sengit itu pasukan muslim menang. Tapi selesai perang, Rasulullah Saw. mengatakan, perang Badar adalah perang kecil menuju perang besar.
Sahabat kaget. Mengapa Rasulullah menyatakan sebagai perang kecil. Apa maksudnya?
Ternyata yang dimaksud perang besar adalah jihadun nafs. Perang melawan hawa nafsu.
Orang yang dikuasai hawa nafsu seperti orang naik kuda binal. Majikannya tidak bisa menguasai kuda yang ditunggangi.
Jika nafsunya jinak, kuda tersebut mengikuti apa yang dimau majikannya.
Begitu juga manusia kalau nafsunya liar dia terjajah. Sedang orang yang nafsunya jinak, dia merdeka, mampu menguasai dan mengarahkan nafsunya.
Orang yang dijajah nafsu biasanya malas beribadah, malas berbuat baik, malas berbuat positif. Jiwanya belum merdeka, terjajah.
Maka bersyukurlah jika kita merdeka dari cengkeraman hawa nafsu yang cenderung mengajak berperilaku negatif.
وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ
Dan tidaklah aku merdeka dari nafsuku, sesungguhnya nafsu itu mendorong kepada kejahatan, kecuali mendapat rahmat Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.(Surah Yusuf: 53)
Nikmat keempat yang Allah berikan kepada kita berupa nikmat kematian.
Tapi banyak orang takut menghadapi kematian. Kematian itu sakit. Saat ruh dicabut seperti binatang dikuliti hidup-hidup.
Orang beriman lurus dan mendalam, kematian dianggap sebagai peristiwa yang indah.
Malaikat datang menjemput ruhnya. Mengajak kembali kepada Tuhan untuk berkumpul bersama hamba terpilih dalam keadaan rida dan diridai. (Surah Al-Fajr: 27-30).
Nikmat inilah yang ditunggu orang-orang terpilih. Semoga kita merdeka sejati yaitu bebas dari penjajahan nafsu.
(Suharyo AP)



