Al Qur'an

Produktivitas Dimulai Dari Keberanian Memilih

Salafusshalih.com – Eat the Frog adalah ungkapan yang dipopulerkan Brian Tracy dalam buku Eat That Frog! Katak di sini hanya perumpamaan untuk pekerjaan penting yang paling mudah kita hindari, bukan ajakan memakannya.

Pesannya jelas: kerjakan lebih dahulu urusan yang membawa manfaat terbesar sebelum waktu habis untuk hal lain yang lebih mudah.

Coba ingat kembali hari-hari kerja kita. Pagi hari, kita membuka medsos dan WhatsApp, membalas pesan, memeriksa dokumen, menghadiri rapat, lalu menyelesaikan tugas kecil satu demi satu.

Ketika sore tiba, rasanya banyak pekerjaan sudah dijalani. Namun, pekerjaan dan keputusan yang paling penting justru belum ditangani. Kita merasa produktif karena sibuk, padahal persoalan utama masih tertinggal.

Mengapa Yang Penting Justru Ditunda?

Bekerja keras tentu bukan masalah. Berdasarkan Sakernas Agustus 2025, BPS mencatat 25,47 persen penduduk bekerja 49 jam atau lebih dalam seminggu. Angka ini menarik, tetapi jelas tidak membuktikan bahwa mereka kurang produktif. Bagi sebagian orang, jam kerja panjang bisa berkaitan dengan tuntutan pekerjaan atau kebutuhan penghasilan.

Namun, panjangnya jam kerja dan hasil yang diperoleh merupakan dua hal berbeda. Keduanya berbeda karena waktu yang dihabiskan untuk bekerja belum tentu sebanding dengan hasil dan nilai tambah yang diperoleh.

Di kantor, pekerjaan ringan biasanya lebih kita sukai. Membalas pesan memberi rasa lega. Mengirim laporan membuat satu tugas terlihat selesai. Sebaliknya, ada pekerjaan yang secara mental cukup berat.

Misalnya, menghadapi pelanggan yang kecewa, menegur anggota tim yang tidak bekerja dengan baik, atau mengambil keputusan mengenai program yang gagal membutuhkan keberanian. Ada risiko salah langkah dan kemungkinan orang lain tidak senang. Maka pekerjaan yang cepat selesai sering mendapat giliran pertama.

Kebiasaan itu bisa dipelihara oleh organisasi. Rapat harus dihadiri, permintaan atasan mesti segera dijawab, laporan terus diperbarui. Seorang pegawai boleh jadi sudah tahu masalah utama yang harus dibereskan.

Namun, bagaimana ia bisa mendahulukannya kalau seluruh hari telah diisi pekerjaan yang diperintahkan orang lain? Inilah sebabnya Eat the Frog tidak cukup hanya menjadi disiplin pribadi. Pimpinan juga harus mampu menentukan prioritas agar pegawai tidak terus disibukkan oleh pekerjaan rutin yang justru menghambat penyelesaian tugas-tugas terpenting.

Yang mendesak juga belum tentu penting. Pesan WhatsApp yang terus berbunyi segera mendapat perhatian, sementara masalah pelayanan yang sudah berbulan-bulan dikeluhkan pelanggan belum juga diselesaikan. Jika semuanya dianggap mendesak, pimpinan seharusnya membantu menentukan prioritas, bukan malah menambah pekerjaan baru.

Karena itu, Eat the Frog tidak cukup menjadi nasihat bagi pegawai. Pimpinan pun perlu memeriksa apakah tugas yang diberikan kepada tim benar-benar mendukung tujuan organisasi atau sekadar menambah kesibukan.

Memilih Satu Pekerjaan Yang Paling Berarti

Menerapkan Eat the Frog tidak berarti mencari pekerjaan paling berat setiap pagi. Kita harus tahu mana yang paling penting. Tanyakan, “Pekerjaan apa yang paling besar manfaatnya jika selesai hari ini? Mana yang terus tertunda? Apa akibatnya bila pekan depan masih dibiarkan?” Dari sana biasanya muncul satu urusan yang patut didahulukan.

Seorang pengusaha mungkin perlu menemui pelanggan utama yang sudah lama mengeluh, bukannya memeriksa desain brosur untuk kesekian kalinya. Kepala sekolah mungkin harus membereskan pembagian tugas guru, bukan mempercantik bahan presentasi. Pimpinan instansi bisa saja perlu menghapus prosedur berlapis yang membuat warga berkali-kali datang.

Setelah menentukan pekerjaan itu, sisihkan waktu terbaik untuk mengerjakannya. Kalau memungkinkan, mulailah sebelum membuka percakapan yang tidak mendesak atau sebelum rapat rutin mengambil alih agenda. Pekerjaan besar tidak harus selesai sekali duduk. Yang penting, ada langkah nyata: membaca persoalannya, menemui pihak terkait, atau mengambil keputusan yang selama ini dihindari.

Orang sering menunda karena menunggu keadaan ideal. Data harus lengkap, semua pihak harus hadir, persetujuan harus turun. Padahal, langkah pertama bisa berupa meminta data terpenting, menghubungi pihak yang berwenang, atau menetapkan kapan keputusan harus diambil.

Ukuran keberhasilannya pun perlu diubah. Jangan hanya bertanya, “Berapa banyak pekerjaan selesai hari ini?” Tanyakan pula, “Masalah penting mana yang sekarang hampir selesai?” Mungkin daftar tugas lebih pendek, tetapi kemajuannya lebih terasa. Dampaknya lebih nyata.

Pada Januari 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut adanya sekitar 27 ribu aplikasi digital di instansi pemerintah pusat dan daerah, dengan persoalan duplikasi dan integrasi. Kasus ini menarik sebagai contoh pilihan prioritas.

Proyek aplikasi baru bisa membuka kontrak pengadaan dan menghasilkan sesuatu yang mudah dipamerkan. Sementara itu, mengintegrasikan aplikasi lama membutuhkan kerja lintas instansi. Jangan-jangan proyek baru lebih menarik daripada membereskan sistem yang sudah ada. Pekerjaan semacam itulah yang membutuhkan keberanian pemimpin.

AI Boleh Mempercepat, Prioritas Tetap Ditentukan

Kini AI membantu kita membuat banyak hal, seperti surat, proposal, laporan, dan presentasi, jauh lebih cepat. Ini kemajuan. Namun, orang yang keliru memilih pekerjaan bisa menghasilkan sepuluh laporan tidak penting dalam waktu yang dahulu hanya cukup untuk satu. Kita menghemat waktu, lalu mengisinya lagi dengan pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu.

Pilih dulu pekerjaan utamanya, baru gunakan AI jika memang membantu. Kalau masalahnya keluhan pelanggan, AI dapat merangkum pola keluhan; manusia tetap harus menindaklanjutinya. Kalau masalahnya prosedur birokrasi berlapis, ringkasan AI bisa berguna, tetapi keputusan untuk menyederhanakan prosedur ada pada pimpinan.

Pemimpin wajib memastikan bahwa teknologi digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan yang benar-benar penting, bukan sekadar mempercepat aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah.

Nilai-nilai serupa juga dapat kita temukan dalam ajaran Islam, terutama melalui disiplin salat lima waktu. Allah menetapkan salat sebagai kewajiban yang telah ditentukan waktunya (An-Nisa: 103). Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga amanah dan menepati janji (Al-Mu’minun: 8).

Keduanya mengingatkan kita tentang pentingnya menghargai waktu, mendahulukan kewajiban, dan menunaikan tanggung jawab, sebab pekerjaan yang dipercayakan kepada kita juga merupakan amanah yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

(Bagus Suminar)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button