Siksa Kubur: Imajinasi dan Sejarah Kuburan

Salafusshalih.com – Tokoh itu meragu tapi (belum) ketakutan di kota: “Apa sebenarnya yang telah terjadi? Kelihatannya sangat sepi, terbengkalai. Bahkan, kelihatannya tidak ada orang yang hidup di sini.” Perjalanan menuju nostalgia. Perjalanan tanpa janji sampai dan selamat. Kota itu kematian, bukan kehidupan. Kota itu lebih mirip kuburan.
Kita sedang membaca novel berjudul Pedro Paramo (2017) gubahan Juan Rulfo. Ia mengisahkan perjalanan dan pertemuan. Cerita-cerita masa silam dan tokoh-tokoh terkenang menjadi petunjuk untuk masih bisa membedakan hidup dan mati. Novel cukup mencekam tapi bukan horor.
Pembaca merasakan situasi di alam-alam berbeda. Pengandaian berada di tempat orang-orang mati. Juan Rulfo tak ingin menakuti pembaca. Ia malah menuntun pembaca dalam jalinan cerita orang-orang hidup dan mati. Pengarang tak mengumbar horor cap kuburan. Ia memilih kota dan rumah dalam mencipta suasana dan pengimajinasian kematian.
Pengisah kuburan itu bernama Iwan Simatupang. Orang-orang mengingat novel berjudul Ziarah (1969). Ia tak suguhkan siksa kubur bagi orang mati. Ia bercerita siksa kubur untuk orang yang masih hidup. Siksa diterima dan ditampik berbarengan saat berada di pekuburan. Novel tak beraliran horor. Di situ, pembaca malah menemukan adonan tragedi dan komedi.
Iwan Simatupang berfilsafat di kuburan. Ia bukan pengisah menimbulkan ingatan-ingatan atas kitab suci dan lakon di dunia berbeda. Novel tak dimaksudkan “berdakwah”. Ia keseringan memberi lelucon dan teka-teki. Pembaca terhindar dari rasa takut. Novel itu kebalikan dari ketegangan dalam film berjudul Siksa Kubur (2024) disutradarai Joko Anwar yang telah menimbulkan penasaran bagi ribuan orang, dan telah ditonton lebih dari tiga juta pasang mata.
Iwan Simatupang lahir dan tumbuh di Indonesia. Pekuburan diceritakan dalam novel seperti tak beralamat di Indonesia. Kuburan berada di kota asing, berbeda dari kota yang dikisahkan Juan Rulfo. Di halaman-halaman Pedro Paramo, kita menjadi pembaca mengenali tempat jauh dan selera sastra Amerika Latin. Pada saat membuka novel berjudul Ziarah, kita merasa bolak-balik dengan citarasa Indonesia atau asing. Dua novel berperkara hidup dan mati.
Kita membaca situasi di pekuburan ciptaan Iwan Simatupang: “Sudah tiga hari berturut-turut dia mengapur tembok luar pekuburan kotapradja itu. Tiga hari pula lamanja sang opseter terus-menerus mengintipnja dari tjelah-tjelah pintu dan djendela rumah dinasnja di kompleks pekuburan itu. Dia, sang opseter makin gelisah. Sebab sedikit pun tak ada dilihatnja jang gandjil patut mendapat perhatian khas tingkah laku pengapur itu. Dia biasa sadja, datang tiap hari lepas sedikit tengah hari, lalu terus mengapur, tanpa henti-hentinja.”
Sekian orang ingin melihat atau menjadi saksi mata saat pengapur itu berani berziarah di kubur seseorang (istri) pernah berarti dalam hidup pada masa lalu. Peristiwa tanpa horor. Tokoh itu takut atau enggan mengunjungi satu kuburan meski bekerja di pekuburan. Ia tak takut dengan suasana kuburan: pagi, siang, sore, bahkan malam. Di situ, ia bekerja meski perlahan mendapat “siksa” gara-gara biografi, nostalgia, pekerjaan, dan kebijakan penguasa kota.
Siksa itu terasakan sebagai orang hidup. Lakon di atas kuburan tak selalu bahagia. Siksa-siksa itu bagian dari kehendak manusiawi. Iwan Simatupang tak menceritakan siksa kubur. Pembaca dalam dilema-dilema mendefinisikan hidup dan mati. Di halaman-halaman novel, hidup dan mati merujuk peraturan-peraturan kota dan buku filsafat. Pembaca tak membaca kalimat-kalimat mengenai ritual dan doa. Pidato atau ocehan di hadapan orang-orang condong ke masalah seni, birokrasi, asmara, dan filsafat.
Iwan Simatupang menulis: “Manusia jang telah ditanggalkan oleh nafasnja, manusia apakah? Kagetnja kali ini terasa tegang sekali. Pekuburan jang didjaganja selama kurang lebih 27 tahun ini, apakah itu? Suatu bumi tersendiri, tempat orang-orang jang sudah ditinggalkan oleh kedaulatan tertentu. Tiba-tiba sadja dia, opseter kuburan itu, merasa senasib benar dengan mereka.
Suatu kedaulatan tertentu, satu-satunja kedaulatan jang dimilikinja, barusan sadja meninggalkan dirinja. Bedanja, dia adalah di atas permukaan bumi ini. mereka, di bawahnja.” Kita mengira novel itu sulit dijadikan film. Joko Anwar mungkin suatu hari berani menggarap jadi film meski telanjur dicap dengan Siksa Kubur.
Kita masih berada di atas tanah saat membaca puisi berjudul “Di Kuburan Ajah” gubahan Slamet Sukirnanto (1963). Puisi agak memberi peristiwa dan suasana berbeda bagi orang-orang telanjur mengimajinasikan kuburan dengan seram, takut, gelap, dan misterius. Di puisi, kita membaca kelaziman tanpa diksi-diksi mencekam: Berteduh pohon kambodja berkembang/ Tinggalmu jang kekal/ Tak kenal senjummu/ Memikat hatiku/ Ketika masih kanak.// Bukan segunduk tanah/ kupudja. Karena diharamkan agama/ Adalah hidupmu/ Mengendap di kalbu!
Pada saat berada di kuburan, orang masuk dalam kenangan. Orang dalam “percakapan” dengan sosok telah mati. “Percakapan” dalam keakraban, bukan ketakutan. Di kuburan, hidup dan mati menemukan jawaban. Orang hidup berziarah di kuburan. Ia mengetahui tanah, pohon, nisan, dan lain-lain. Pengertian-pengertian dibuat berdasarkan sumber-sumber beragam: adat, agama, dan birokrasi.
Peziarah itu sadar keluarga. Ia tak sedang dalam adegan pengambilan gambar film horor. Di kuburan, ia mengerti peran sebagai manusia memiliki nasib ditentukan Tuhan. Puisi memang tak cocok jika dipakai dalam film horor. Puisi sederhana mengingat kematian, keluarga, dan agama membuat pembaca makin menjauh dari industri horor dibuat dalam film, komik, novel, dan lain-lain.
Kuburan tak sekadar kenangan atau pemaknaan milik individu-individu. Kuburan menguak sejarah peradaban di Nusantara. Kuburan itu referensi dari arus dakwah, sejak ratusan tahun lalu. Kita tinggalkan dua novel dan satu puisi untuk mengingat Nusantara dan Islam melalui kuburan.
Di hadapan kita, buku terbuka berjudul Inskripsi Islam Tertua di Indonesia (2008) susunan Claude Guillot dan Ludvik Kalus. Inskripsi di batu nisan bisa menjadi sumber tertulis bagi kita yang ingin mengetahui kehadiran atau dakwah Islam di Nusantara. Kita menuju sejarah, mengelak dari horor-horor berlatar kuburan atau pemahaman siksa kubur dalam agama.
Kita memang mendapat pengajaran agama sejak bocah mengenai siksa kubur. Pengajaran itu memerlukan renungan dan pendalaman tapi tergesa mendapat susulan-susulan cerita horor dan film horor bertema siksa ditanggungkan dalam kubur. Kini, kita bisa menjadikan kuburan itu alamat menilik sejarah.
Kita perlahan mengerti pemahaman kuburan bagi orang-orang setempat dan sarjana-sarjana asing. Referensi penting: inskripsi di Leran berlatar abad XI. Kita mengutip dari buku: “Sudah berabad-abad lamanya daya khayal masyarakat mengasimilasikan tokoh yang disebut dalam inskripsi di atas. Sebaliknya, para ahli sejarah daerah yang bersangkutan baru menaruh perhatian kepadanya jauh lebih kemudian.
Nyatanya baru pada tahun 1920-an, dua pakar orang Belanda (JP Moquette) dan orang Prancis (Paul Ravaisse), bergiliran menulis sebuah telaah yang terperinci tentang teks yang sulit itu.” Pada nisan-nisan kuburan, telaah ilmiah dilakukan dengan menimbulkan polemik. Kita disadarkan tentang kuburan tak sekadar pemicu horor dan imajinasi melampaui pengertian-pengertian dalam agama mengenai kematian. Begitu.
(Bandung Mawardi)



