Hadis

Suami Wafat, Istri Menikah Lagi: Bersama Siapa Dia di Akhirat?

Tagar.co – Seorang istri yang salehah di dunia, apabila kelak masuk surga, memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi dan lebih mulia dibandingkan para bidadari.

Kemuliaan tersebut merupakan buah dari keimanan, ketakwaan, amal ibadah, dan ketaatannya selama menjalani kehidupan di dunia.

Lalu muncul pertanyaan penting: Apabila seorang istri menikah lagi setelah suaminya wafat, siapakah pasangannya di surga kelak?

Pendapat Ulama Tentang Pasangan Istri di Surga

Pendapat Pertama: Istri Bersama Suami Terakhir

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa seorang istri yang menikah lagi setelah ditinggal wafat suaminya, kelak akan menjadi pasangan suami terakhirnya di surga, selama keduanya memiliki kesetaraan iman dan akhlak yang baik.

Seorang istri yang beriman bahkan menjadi ratu bagi suaminya, mengungguli para bidadari dengan kemuliaan amalnya di dunia.

Hal ini diperkuat oleh sabda Nabi Saw.:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا فَتَزَوَّجَتْ بَعْدَهُ فَهِيَ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا

“Wanita mana pun yang ditinggal wafat suaminya kemudian ia menikah lagi, maka ia menjadi istri bagi suaminya yang terakhir (di surga).”

Pendapat Kedua: Istri Diberi Pilihan

Pendapat lain menyatakan bahwa seorang istri diberi pilihan untuk menentukan pasangannya di surga. Dalil yang digunakan bersifat umum.

Namun, dalil yang secara khusus menyebutkan bahwa seorang istri dapat memilih pasangannya masih diperselisihkan. Hadis yang sering dikutip dalam hal ini, riwayat Imam Thabrani:

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهَا تُخَيَّرُ فَتَخْتَارُ أَحْسَنَهُمْ خُلُقًا

“Wahai Ummu Salamah, ia akan diberi pilihan dan memilih yang terbaik di antara mereka dalam akhlak.”

Hadis ini dinilai daif oleh sebagian ulama sehingga tidak dapat dijadikan hujah yang kuat.

Kesimpulan

Berdasarkan pendapat yang lebih kuat, seorang istri mukminah yang menikah lagi di dunia akan menjadi pasangan suami terakhirnya di surga, selama keduanya memiliki kesetaraan iman, kebaikan akhlak, dan terjalin cinta serta kasih sayang yang dilandasi ketakwaan. Wallaahualam.

(Ridwan Ma’ruf)

Related Articles

Back to top button