Berpikir Positif, Hidup Produktif
Salafusshalih.com – Setiap manusia pasti pernah tergoda oleh prasangka. Kadang, hanya karena raut wajah yang masam, kita sudah menilai buruk. Padahal bisa jadi dia sedang lelah, sedang diuji, atau justru sedang menahan amarah demi tidak menyakiti.
Islam menempatkan prasangka buruk sebagai awal dari banyak kerusakan hubungan sosial.
Sebaliknya, prasangka baik, berpikir positif, atau husnuzan adalah tanda kebersihan hati dan kelapangan jiwa—yang akan membuat hidup produktif.
Rasulullah Saw. pun telah memberi peringatan keras dalam sabdanya:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَنَافَسُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Jauhilah oleh kalian berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta perkataan. Jangan mencari-cari aib orang lain, jangan mencari-cari isu, jangan saling bersaing, jangan saling dengki, jangan saling membenci, dan jangan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang saling bersaudara.” (H.R. Ahmad No. 9.620)
Hadis ini menjadi pengingat yang jelas bahwa penyakit hati bisa bermula dari hal kecil: pikiran. Maka, jagalah pikiranmu, karena dari sanalah lahir sikap dan ucapan. Dan jangan lupa, setiap prasangka yang kita pelihara akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt.
Mari perbanyak doa dan introspeksi. Saat hati mulai menduga-duga, bisikkan pada diri: “Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya Allah yang Maha Mengetahui.”
“Ya Allah, ya Rabb… Karuniakanlah kepada kami hati, lisan, dan pikiran yang selalu berprasangka baik kepada-Mu dan kepada sesama insan… Amin.”
Dan sebagai penutup malam ini, monggo nderekaken salat Tahajud karena di sepertiga malam, segala prasangka bisa luruh bersama sujud, dan nurani kembali jernih di hadapan Ilahi.
(Ustadz Soedjono, M.Pd.)



