Tangisan dalam Tiga Wajah: Munajat, Penyesalan, dan Syukur
Salafusshalih.com – Tangisan adalah respons alami terhadap berbagai emosi, baik yang negatif seperti kesedihan, kekecewaan, dan rasa sakit, maupun yang positif seperti kebahagiaan dan keharuan. Adapun yang dimaksud dalam tulisan ini adalah tangisan bermakna positive thinking, yang memotivasi seseorang untuk meraih hidup yang lebih bermakna, optimistis, dan produktif, serta menjauhkan dari keputusasaan.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah An-Najm ayat 43:
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
“Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di menafsirkan ayat di atas dengan menyatakan:
“Allah-lah yang menciptakan sebab-sebab tertawa dan menangis, yaitu kebahagiaan dan kesedihan. Dan dalam hal itu terdapat hikmah yang agung.”
Kesimpulannya, tangisan yang positif memiliki dampak baik terhadap kesehatan mental dan mampu memotivasi seseorang untuk meraih keberhasilan hidup serta mendapatkan ampunan Allah Ta’ala.
Setidaknya ada tiga keadaan yang menjadikan tangisan sebagai bentuk kebahagiaan dan penguatan hati saat menghadapi kesedihan, kekecewaan, atau depresi tanpa sebab yang jelas:
1. Tangisan saat Bermunajat kepada Allah
Tangisan saat berdoa, khususnya dalam sujud, bukan hanya mempercepat terkabulnya doa, tetapi juga membawa ketenangan hati. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra’ ayat 109:
وَيَخِرُّوْنَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا
“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.”
2. Tangisan Penyesalan atas Dosa dan Kesalahan
Tangisan ini memotivasi seseorang untuk bertekad tidak mengulangi kesalahan yang dapat menggagalkan tujuan hidupnya. Nabi Saw. bersabda:
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ؟ قَالَ: « أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ »
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., ‘Apa itu keselamatan?’ Beliau menjawab, ‘Jagalah lisanmu, cukupkan rumahmu (dengan ibadah), dan tangisilah dosa-dosamu.’” (H.R. Tirmizi dan Ahmad, dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)
3. Tangisan Saat Mendapatkan Nikmat Hidup
Tangisan ini timbul dari rasa syukur atas nikmat Allah berupa kesehatan, keamanan, dan kecukupan kebutuhan pokok. Nabi Saw. bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barang siapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.” (H.R. Tirmizi)
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tangisan yang disertai positive thinking mampu memperkuat hati yang rapuh agar menyandarkan seluruh urusan hidupnya hanya kepada Allah Ta’ala. Wallahualam bisawab.
(Ridwan Ma’ruf)



