Fikih

Hari Arafah: Haruskah Doa Mengikuti Waktu Wukuf di Mekah?

Salafusshalih.com – Setiap menjelang Hari Arafah, satu pertanyaan yang hampir selalu muncul di tengah masyarakat Muslim Indonesia adalah, “Kalau jamaah haji sedang wukuf di Padang Arafah, lalu bagaimana dengan kita di Indonesia yang berbeda waktu sekitar empat jam dengan Makkah? Kapan waktu terbaik untuk berdoa?”

Pertanyaan ini sangat baik karena menunjukkan bahwa masih banyak hati kaum Muslimin yang rindu ikut merasakan suasana spiritual Arafah, meskipun tidak sedang berada di Tanah Suci.

Hari Arafah memang bukan hari biasa. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah.” (Tirmidi). Dalam hadis lain disebutkan bahwa tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka dibanding Hari Arafah. Subhanallah, betapa agungnya hari itu.

Namun menariknya, dalam seluruh hadis sahih, tidak ditemukan ajaran khusus yang memerintahkan seluruh Muslim dunia harus menyamakan waktu doa dengan waktu wukuf di Mekkah. Tidak ada hadis yang mengatakan bahwa umat Islam di Indonesia wajib menunggu jam tertentu agar doanya sah atau lebih mustajab.

Mayoritas ulama memahami bahwa keutamaan Hari Arafah berlaku sesuai tanggal 9 Zulhijah di negeri masing-masing. Artinya, ketika Indonesia sudah memasuki 9 Zulhijah, sejak itu pula kita telah berada dalam kemuliaan Hari Arafah.

Meski demikian, banyak juga ulama yang menjelaskan bahwa mengikuti momentum wukuf di Arafah sebagai waktu untuk memperbanyak doa adalah hal yang sangat baik secara ruhani. Sebab, pada saat itu jutaan jamaah haji sedang menangis, bermunajat, beristigfar, dan memohon ampunan Allah Swt. di Padang Arafah.

Secara umum, jamaah haji mulai melaksanakan wukuf sekitar setelah Zuhur hingga menjelang Magrib waktu Mekkah. Jika dikonversikan ke waktu Indonesia, kira-kira cara menentukannya sebagai berikut: waktu Mekkah sekitar empat jam lebih lambat daripada WIB. Maka, waktu wukuf di Arafah jika dilihat dari jam di Indonesia berlangsung antara pukul 16.00 WIB hingga 22.00 WIB.

Karena itu, waktu sore hingga malam pada Hari Arafah di Indonesia sering dirasakan sangat menyentuh untuk memperbanyak doa, zikir, membaca Al-Qur’an, beristigfar, dan bermuhasabah.

Namun, yang paling penting sesungguhnya bukan soal ketepatan waktunya. Sebab, Allah tidak pernah salah mendengar doa hamba-Nya. Boleh jadi, doa yang paling dicintai Allah bukanlah doa yang paling tepat waktunya, melainkan doa yang lahir dari hati yang paling tulus, paling hancur, dan paling sungguh-sungguh ingin kembali kepada-Nya.

Maka, ketika Hari Arafah tiba, jangan sibuk memperdebatkan soal teknis waktu semata. Sibukkanlah hati kita untuk mendekat kepada Allah. Karena sesungguhnya, yang paling dicari Allah bukan sekadar suara doa kita, melainkan hati yang benar-benar selalu kembali kepada-Nya.

(Ulul Albab)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button